Select Page

FF Kyuhyun “Super Junior”// My Heart Will Go On


Cast                     :  Cho Aira
     Cho Kyuhyun
                            
   Kim Hyeri
Cameo Cast    
: Han Ga yoon
Genre                 
: Sad, Romance
PG                     
: 15
Lenght                
: Oneshoot
Cho Aira POV
“Oppa mau pergi ke mana?” tanyaku saat melihat pria berbadan tegap itu hendak membuka pintu.
“Bukan urusanmu” jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dan terus melangkah melewati pintu dan meninggalkanku yang masih ingin melihatnya pagi ini. Aku pun memberanikan diri melihat gerak langkah laki-laki itu hingga berada di depan mobilnya yang ternyata sudah berdiri gadis manis yang langsung memeluknya erat. Aku hanya terdiam melihat pemandangan yang sudah sering kulihat ini tapi tetap saja meskipun sudah sering kulihat rasanya tetaplah sama, menyakitkan.

Langkah kakiku membawaku untuk segera pergi ke kamar dengan air mata yang tak terasa sudah mengalir di wajahku. Aku tak peduli, aku harus tetap bertahan dengan keadaan ini apapun yang terjadi. Aku harus bisa menjadi isteri yang baik baginya. Isteri? Ya, aku adalah seorang isteri dari seorang pria yang baru saja berpelukan di pagi hari dengan gadis manisnya.

Sangat klasik memang, kami menikah bukan karena saling mencintai. Cinta itu tidak ada dalam kehidupan kami, khususnya di hati namja yang berstatus sebagai nampyeonku itu. Karena yang aku tahu, cintanya itu sudah melekat erat pada gadis manis yang pagi ini sudah menyambutnya dengan pelukan hangat seperti biasanya. Gadis manis? Ya, gadis itu memang manis, yeojachingunya. Aku akui jika dibandingkan denganku yang sangat biasa ini, dia jauh lebih baik daripada aku, jadi wajar saja jika suamiku sendiri lebih memilih untuk tetap bertahan pada hubungannya dengan gadis manis bernama Kim Hyeri itu dibandingkan denganku yang berstatus sebagai isterinya.

Author POV
Air mata itu sudah tak mengenangi wajah wanita yang bernama Cho Aira tersebut. Ia kini justru tengah sibuk dengan berbagai dokumen dan berkas-berkas yang harus ia selesaikan sebelum petang menjelang. Kehidupan baru yang dijalaninya kali ini memaksanya untuk tidak lembur karena ia sudah mempunyai kewajiban lain yang harus ia kerjakan. Yakni menjadi seorang ibu rumah tangga sekaligus menjadi seorang isteri yang baik bagi suaminya. Ia terus berkutat dengan pekerjaannya tanpa memedulikan bisikan teman-temannya yang selalu usil membicarakan tentang kehidupannya bersama pria bernama Cho Kyuhyun.
“Yak, Aira-ya! Kenapa kamu serius sekali? Masih berusaha untuk tak lembur?” ujar temannya yang kini tengah berdiri di hadapannya. Tanpa melihat siapa yang berbicara ia sudah tahu bahwa sahabatnya yang bernama Kim Ga yoonlah yang bertanya padanya karena ia sudah hapal betul dengan suara nyaring temannya tesebut.
“Ia, aku harus memasak makan malam untuk suamiku nanti. Jadi jangan sampai aku terlambat” jawabnya masih dengan mengetik beberapa kata yang ia yakini sebentar lagi akan selesai.
“Arasseo, kau memang seorang wanita yang hebat Ra-ya, beruntungnya Cho Kyuhyun yang arogan itu menjadi suamimu” katanya lagi
“Ne, gomawoyo Ga yoon-ah, sudah yah aku harus pulang sekarang. Annyeong…” ujar Aira kemudian langsung menyambar tasnya segera dan meninggalkan kantor yang gedungnya tinggi menjulang langit.

Ia tersenyum lega saat melihat beberapa makanan lezat sudah berada di meja makan berukuran sedang tersebut. Ia memasak banyak malam ini karena suaminya sendirilah yang memintanya untuk memasak yang banyak dan lezat. Ia pun tersenyum mengingat ini adalah permintaan pertama yang Kyuhyun minta darinya setelah hampir satu tahun berjalannya pernikahan mereka. Tentu saja dengan senang hati Aira menjalankannya, ia tak ingin keinginan Kyuhyun yang pertama kali ini tidak bisa terlaksana. Ia sudah berjanji bahwa ia akan menjadi isteri yang baik bagi Kyuhyun.

Ting TongSuara bel segera menghentikan kegiatan Aira melihat-lihat makanan hasil karyanya. Kini ia tengah berjalan cepat menuju pintu, ia sudah yakin bahwa suaminya telah pulang. Setelah pintu dibuka munculah laki-laki yang sering menyita perhatiannya tersebut berada di hadapannya. Aira pun tersenyum dengan manis untuk menyambut kedatangan suaminya tersebut. Namun senyumnya tak bertahan lama saat ia melihat disamping suaminya sudah berdiri seorang gadis manis yang tengah bergelayut manja di lengan suaminya itu.
“Annyeong eonnie….” sapa gadis manis itu dengan sangat ringan seolah tidak memperhatikan bagaimana perasaan wanita yang tadi sudah disapanya. Ia masih tampak sangat senang bergelayut manja pada lelaki yang sesungguhnya sudah tak berhak lagi ia sentuh.
“A..anyeong Hyeri-si”
“Masuklah dan langsung duduk saja, Oppa akan mandi dan mengganti baju dulu” ujar laki-laki di sampingnya tersebut kemudian tanpa rasa canggung langsung bergegas menuju kamarnya dan membiarkan Hyeri dan Aira berdua dalam ruangan tersebut.
“Eonnie, apa kau sudah masak makanan yang lezat untuku? Aku sangat senang saat Oppa bilang kalau Eonnie sudah memasakan makanan yang enak untuku malam ini. Gomawoyo” ujar Hyeri dengan raut yang menunjukan betapa bahagianya ia malam ini. Sementara Aira, ia tengah berusaha untuk menahan emosinya. Ia berusaha untuk tetap menampilkan wajah yang biasa saja di hadapan gadis yang umurnya 2 tahun dibawahnya tersebut.
“Ne, aku sudah memasak. Semoga kau menyukainya” ucap Aira
“sekali lagi gomawo-yo, aku pasti akan makan banyak malam ini. Tenang saja” katanya masih dengan wajah yang sangat bahagia.
“Ne, aku harus ke kamar menyelesaikan pekerjaanku yang belum selesai, permisi” kata Aira kemudian tanpa menengok ke arah belakang lagi ia terus berjalan menuju kamarnya, bukan untuk mengerjakan pekerjaannya tapi untuk menemui nampyeonnya, meminta penjelasan atas kesalahpahaman yang mungkin terjadi diantara mereka.

Sesampainya di kamar, Aira dikekutkan dengan pemandangan yang sangat menegangkan menurutnya. Ia melihat Cho Kyuhyun, suaminya baru keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melekat di pinggangnya.
“Ah, mianhe Oppa, aku lupa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu” ujar Aira sambil menunduk tanpa mau melihat pemandangan yang ada di depannya.
“Gwenchana, ada apa?” tanyanya sambil berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya
“Kenapa Oppa tidak bilang akan ada Hyeri ke rumah kita?”
“Hyeri itu tamuku, tidak ada hubungannya denganmu. Aku hanya memintamu untuk memasak saja” jawabnya enteng
“Tapi Oppa, seharusnya Oppa bilang padaku sebelumnya. Aku kira malam ini Oppa akan makan malam bersamaku di rumah” Kata Aira dengan nada yang sedikit rendah di akhir kalimatnya.
“Malam ini anniversaryku dengan Hyeri yang ke lima tahun jadi aku akan merayakannya di rumah untuk itu aku harap malam ini kamu tidak mengganggu kegiatan kami. Arraseo?”
“Tapi oppa….” Aira langsung menahan segala kata-kata yang ingin ia keluarkan setelah ia melihat tatapan mata suaminya yang tajam. Ia menyadari jika sudah begitu suaminya pasti tidak akan mau mendengarnya. Untuk itu Aira langsung keluar kamar dan berjalan ke ruangan yang biasa ia gunakan untuk mengerjakan pekerjaannya meskipun ia tahu tak ada yang bisa ia kerjakan di ruangan tersebut. Ia duduk dan tak lama ia sudah tak kuasa lagi menahan sesuatu yang tadi ia tahan untuk tak keluar dari matanya dan akhirnya air matanya itu mengalir dengan cepatnya dari mata indah milik Aira, air matanya mengalir tiada henti kala mengingat sesuatu yang menurutnya menyenangkan sekaligus menyakitkan.

hari ini juga anniverasary pernikahan kita yang pertama Oppa…………….

***

Aira POV
Haruskah aku akhiri saja?
Aku selalu berpikir demikian setiap aku merasakan hatiku sakit kala mendapat perlakuan dinginnya padaku. Kapankah hatinya akan luluh. Apakah dengan segala perhatian dan kasih sayang yang aku berikan dan tunjukan padanya masih belum bisa membuatnya melihat ke arahku? Kenapa sulit sekali? Kutub utara yang sangat beku saja sudah bisa meleleh bahkan gunung yang menjulang tinggi pun sudah bisa tergapai oleh manusia tapi kenapa hatinya sangat susah sekali untuk kudapatkan padahal aku sudah sangat berusaha untuk mendapatkan sedikit saja perhatiannya.

Ditambah lagi dengan kehadiran gadis itu, gadis yang sebenarnya tak ingin kulihat justru sudah menjadi kebiasaan sering melihatnya setiap akhir pekan, kyuhyun oppa selalu membawanya ke apartemen tiap akhir minggu. Apakah kyuhyun Oppa tak memikirkan perasaanku? Bukankah aku isterinya? Ah, aku lupa aku kan isteri yang tak pernah diinginkannya.

Apa lagi yang harus kulakukan agar membuatnya melihatku. Aku sangat ingin ia mengucapkan kata saranghae padaku, aku sangat menginginkannya. Namun mengingat ia yang sangat tak menyukai keberadaanku membuat harapanku pupus begitu saja.

***

Siang ini aku diminta eomonim untuk membawakan Kyuhyun makan siang karena kyuhyun oppa pasti sangat sibuk dengan kegiatan proyek barunya dan aku pun dengan semangat menyanggupi permintaan eomonim.

Setibanya di kantor suamiku, aku merasa suasana di sini sepi sekali, biasanya jika aku ke sini akan ada sekretaris cantik yang selalu menyambutku dan mengantarku sampai ke ruangan Kyuhyun Oppa, tapi mengingat ini adalah jam istirahat mungkin sekarang ia sedang makan siang jadi kuputuskan untuk langsung masuk saja ke ruangan kyuhyun Oppa
“Oppa, aku dat….tang…. ah, mian, mianheyo” aku langsung membukuk berkali-kali melihat pemandangan yang seharusnya tak kulihat. Aku mengutuk diriku sendiri yang sudah lancang memasuki ruangan Kyuhyun Oppa tanpa ijinnya terlebih dahulu. Jika tahu akan begini lebih baik tadi aku menunggu sekretarisnya saja yang mengantarku
“Oh, eonnie, kau sudah datang? Mian, eonnie jadi melihat apa yang kita lakukan. Aku jadi malu” kata gadis yang tadi sedang melingkarkan tangannya di leher suamiku, kyuhyun oppa.
“ne, aku membawa makan siang untuk kyuhyun oppa”
“wah, gomawo-yo eonnie”
“Ne. Aku taruh di sini saja. Aku permisi”

Aku langsung berlari meninggalkan ruangan itu dan berusaha untuk cepat-cepat menjauh dari kantor itu. Aku menyesal, sangat menyesal. Seharusnya aku tahu kalau Hyeri pasti akan ada di ruangan itu. Ah, aku bodoh sekali. Pabo pabo pabo. Kini aku jadi terbayang kegiatan mereka yang seharusnya tak pernah kulihat karena hal itu justru membuat indikasi untuk segera mendaratkan aliran sungai di mataku jika mengingatnya. Kyuhyun Oppa, jahat sekali ia padaku.

Aku terus belari tak menghiraukan apapun meski kini salju sudah mulai turun membasahi bajuku, aku terus berlari mencari tempat yang sekiranya bisa membuat hatiku tenang. Hingga kakiku sudah tak mampu lagi untuk berdiri dan aku pun jatuh terduduk dengan baju yang sudah mulai basah di mana-mana.

Ya Tuhan, hatiku sangat sakit, rasanya sungguh sakit, sampai kapan aku harus menahan ini semua. Suamiku sendiri, orang yang aku cintai dengan terang-terangan bermesraan di depan mataku. Dosa apa yang telah aku lakukan di masa lalu hingga mendapatkan ujian berat seperti ini Tuhan, aku tak sanggup….

***

Hyeri POV
“Oppa, apa kita tidak terlalu keterlaluan pada Aira Eonnie?” tanyaku pada Kyuhyun Oppa yang sedang makan dengan lahap masakan yang dibawakan oleh Aira eonnie
“Maksudmu chagiya?” tanyanya tanpa melihat ke arahku malah sibuk mengambil makanan-makanan yang lain. Aku mengerucutkan bibirku kesal.
“Aku merasa kita sudah jahat pada Aira Eonnie, bagaimana pun Oppa kan sekarang sudah menjadi suaminya tapi aku masih saja mengganggu Oppa”
“Biarlah”
“Apa Oppa tak merasa kasihan pada Aira Eonnie? Ia wanita yang baik, penurut juga selalu ada di saat Oppa membutuhkannya? Apa tak pernah sebentar saja Oppa melihat bagaimana perjuangannya mendapatkan hatimu?” kataku mencoba untuk membuka sedikit hatinya, aku tahu Oppa pasti pernah merasakan keberadaan isterinya yang baik itu meskipun hanya sedikit. Aku tahu Oppa pasti akan bisa mencintai wanita itu.
“……………”
“Oppa….?”
“……………”
 

Bukankah yang kukatakan benar? Sekarang saja Oppa sering terdiam saat aku membicarakan tentang Aira eonnie yang tak lain adalah isterinya. Aku memang masih merasakan kepedulian Oppa padaku, tapi aku pun tak buta, aku bisa melihat ada sedikit ruang yang ia buka untuk isterinya tapi itu semua terhalang karena ia telah bersamaku.

Kyuhyun Oppa, pria dingin yang sangat aku cintai. Aku telah cukup lama menjadi kekasihnya. Anhi, menjadi seseorang yang selalu mengikutinya. Mungkin itulah kata yang tepat sebenarnya karena memang akulah yang selama ini mengikuti kemanapun ia pergi. Meski aku tahu Kyuhyun Oppa sebenarnya hanya menganggapku tak lebih dari seorang dongsaeng, tapi aku tak peduli, aku mencintainya, mungkin itulah yang membuatku tetap nekat untuk terus didekatnya meski ia telah menikah dengan wanita pilihan orangtuanya. Setidaknya aku ingin sampai waktuku habis nanti aku ingin dialah yang menemaniku. Ya, waktuku tak kan lama, aku sakit dan penyakitku ini belum bisa disembuhkan.

Untuk itu, aku ingin tetap Kyuhyun Oppa selalu di sampingku. Aku ingin ia yang selalu mendampangiku setidaknya sampai aku menghilang nanti. Aku ingin mempunyai memori yang indah bersamanya. Namun rupanya kehadiran wanita itu membuat posisiku langsung bergeser. Aku kini tak bisa menempati hatinya secara untuh karena aku sudah merasa bahwa Kyuhyun oppa sudah mulai menerima keberadaan isterinya yang sering kupanggil eonnie itu di hidupnya.
Hyeri Pov End

***

Apartemen Kyu_Ra, 10.00 pm
Aira POV

“Oppa lelah?” tanyaku yang baru saja melihat kedatangannya, penampilannya sedikit berbeda dari biasanya, rambut berantakan dan kemeja yang terlihat sudah kusut menjadi gambaran keadaannya kini meskipun kuakui dengan keadaan yang seperti itu ia masih terlihat tampan.
“………”
“Mau kubuatkan cokelat panas? Atau mau kusiapkan air hangat untuk Oppa mandi?” tanyaku yang mulai beranjak dari tempat dudukku dan bersiap untuk menyiapkan keperluannya. Namun baru satu langkah aku melewatinya, langkah kakiku terhenti karena sebuah tangan yang menarik lenganku lembut, kulihat dan ternyata itu adalah kyuhyun Oppa

Aku pun menatapnya meminta penjelasan apa yang ia inginkan sebenarnya namun aku justru hanya melihat mata yang sarat akan kelelahan dan tak lama tangan itu manariku mendekat ke arahnya dan aku merasakan tangan kekar tersebut telah mengerat di punggungku, ia memelukku. Benarkah?
“Oppa… waeyo?” tanyaku yang masih berada dalam pelukannya. Aku tak mendengar sesuatu yang keluar darinya hanya pelukan yang semakin mengerat di tubuhku. Aku pun menggerakan bandanku memintanya untuk melepaskan pelukannya. Aku ingin tahu sebenarnya apa yang telah terjadi padanya.
“Biarkan seperti ini, bisakah?” tanyanya yang membuatku terdiam, ia ingin seperti ini? Memelukku? Aku sungguh tak percaya namun aku tetap diam dan tak melakukan apapun. Kubiarkan ia memeluku, memeluku dalam diam.
 

Drt drt drt
Ponselnya bergetar, ia secara refleks melepaskan pelukannya dan segera menjawab telepon yang tadi menghubunginya. Aku hendak meninggalkannya yang tengah menerima telepon namun langkahku harus kembali terhenti saat mendengar ucapannya.
“Mwo? Apa yang terjadi? Ne, aku segera ke sana” katanya kemudian langsung pergi meninggalkanku yang hanya bisa terdiam melihat sikapnya.

***

at hospital….
Tubuh itu terbujur kaku, selang infus masih terpasang dengan nyata di depan mataku. Mungkinkah ini Hyeri? gadis manis itu? Ya Tuhan, ada apa dengannya mengapa ia begitu sangat mengkhawatirkan. Alat-alat medis sudah terpasang dengan sangat lengkap di sekitarnya.

Dan di depanku masih setia seorang pria duduk memperhatikan gadis itu dengan menggenggam erat tangannya. Berharap dengan segala kehangatan yang dimilikinya akan memberikan respon yang baik darinya sehingga dengan cepat mata yang masih tertutup itu akan segera terbuka.
“Oppa belum makan, lebih baik sekarang Oppa makan terlebih dahulu biar Hyeri aku yang akan menjaganya” kataku akhirnya memecahkan keheningan yang meliputi kami
“Nanti saja” jawabnya tanpa melihat ke arahku
“Kalau Oppa tidak makan nanti Oppa akan sakit, hal itu justru akan membuat Hyeri sedih Oppa. Oppa tentu tidak ingin melihat Hyeri sedih kan?” tanyaku dengan sedikit membujuknya
“….”
“Oppa, otte?”

Ia pun mengangguk. Akhirnya ia mau juga menuruti keinginanku untuk makan. Aku sangat sedih melihat keadaannya sekarang ini. Ia sangat tak bergairah. Tak ada lagi wajah angkuh dan dinginnya. Tak ada lagi sikap dinginnya. Yang ada hanya wajah yang sangat kusut dan gurat lelah yang ada padanya terlebih lingkaran hitam di bawah matanya semakin menunjukan betapa kacaunya dirinya yang sekarang. Aku semakin sedih.

Hyeri, Kim Hyeri, gadis ini sangatlah beruntung. Meski sedang tidak sadarkan diri ia masih bisa menerima perhatian yang begitu banyak dari Kyuhyun Oppa, suamiku. Aku semakin iri padanya. Selain wajahnya yang manis, tubuh yang proporsional ditambah lagi ia sangat dicintai oleh laki-laki yang dicintai pula olehnya. Betapa beruntungnya gadis di hadapanku ini.

***

“TIDAK MUNGKIN DOK!”
Aku sangat terkejut melihat reaksi yang ditunjukan oleh Kyuhyun Oppa, dia sangat tidak terima saat dokter mengatakan kondisi kesehatan Hyeri semakin menurun dan mungkin Hyeri tidak sanggup lagi untuk bertahan. Begitu besarkah cinta yang dimiliki Kyuhyun Oppa pada Hyeri?

Malam ini, aku dan Kyuhyun Oppa menjaga Hyeri, meskipun dokter mengatakan hal terburuk yang akan menimpa Hyeri namun Kyuhyun Oppa tetap yakin bahwa Hyeri akan segera sadar dari tidur panjangnya.

Aku terbangun saat matahari sedikit menyilaukan mataku. Aku tak bisa bergerak banyak karena kini di pangkuanku ada Kyuhyun Oppa yang tertidur. Semalam ia menangis, untuk pertama kalinya aku mendengar segala tumpah ruah perasaannya dan untuk pertama kalinya pula ia memeluku begitu erat sampai ia tertidur di pangkuanku. Aku tak ingin membangunkannya, ia masih terlihat lelah jadi aku berinisiatif menggantikan bantal sebagai sandaran kepalanya. Ia menggeliat sebentar tapi langsung kembali terlelap dalam tidurnya.

***

a miracle….
Keajaiban bukankah selalu ada di dunia ini? Keajaiban itu pula yang selalu menjadi tanda bahwa Tuhan memang ada. Tuhan mendengar doa yang Kyuhyun Oppa dan aku kirimkan untuk kesembuhan Hyeri. Kyuhyun Oppa, dengan air mata yang terus saja mengalir memohon pada Tuhan agar gadis manisnya ini segera dibangunkan dari istirahat panjangnya. Akupun turut mengamini setiap kata yang ia utarakan.

Kini, aku tengah memotong buah apel yang manis ini menjadi beberapa bagian untuk kuberikan pada Hyeri yang kini tengah memandangiku. Aku tahu, ia pasti akan bertanya ini dan itu tapi kurasa aku cukup menjawab pertanyaan yang berhubungan denganku saja. Karena aku tetap tahu diri untuk menjaga kesepakatan antara aku dan Kyuhyun Oppa tentang urusan pribadi yang tidak boleh disentuh.
“Kenapa Eonnie baik sekali padaku? Bukankah seharusnya Eonnie sekarang ini marah padaku atas apa yang telah aku lakukan padamu?” tanyanya yang membuatku mau tak mau harus menghentikan kegiatanku memotong apel yang tengah kukerjakan dan beralih menatapnya yang mengajakku berbincang.
“Kamu gadis yang manis Hyeri-ah, mana mungkin Eonnie bisa marah padamu?” jawaban itulah yang keluar dari mulutku.
“Tapi eonnie, aku telah mengambil Kyuhyun Oppa darimu” sanggahnya yang kurasa ia belum puas atas jawaban pertama yang kuberikan padanya.
“Dari dulu hingga sekarang Kyuhyun Oppa bukan milikku, tapi dia milikmu Hyeri-shi. Aku yang salah, aku yang tiba-tiba hadir di kehidupan kalian dan mengacaukan segala rencana indah yang telah kalian impikan. Mianhe Hyeri-shi” ujarku sambil menggenggam erat tangannya setelah tentunya menaruh potongan apel di mejanya.
“Aku yang seharusnya minta maaf eonnie, aku masih saja bergantung pada kyuhyun Oppa, aku masih saja mengganggunya padahal ia sekarang sudah menjadi suamimu eonnie, mianheyo….” katanya membalas genggaman tanganku. Aku hanya bisa tersenyum melihatnya.
“Kyuhyun Oppa sangat mencintaimu Hyeri-shi, kurasa itu hal yang wajar mengingat kau memang gadis yang sangat manis. Aku tahu dibalik sikapmu ini, ada hati yang baik yang selama ini kamu sembunyikan dari orang-orang. Jadi, aku percaya selain manis kamu juga gadis yang sangat baik hati” kataku menambahkan. Aku teringat segala ucapan Kyuhyun Oppa yang terus menerus memuji sifat dan sikap Hyeri yang mungkin tak diketahui orang banyak kecuali dirinya.
“Eonnie……” katanya dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkinkah dia terharu atas kata-kata tersebut?
“Kamu tenang saja Hyeri-shi, bersabarlah sedikit lagi, karena sebentar lagi aku akan berpisah dari Kyuhyun Oppa dan untuk seterusnya Kyuhyun Oppa akan selalu bersamamu” kataku kali ini aku sudah tidak bisa memandangnya lagi. Aku menunduk mencoba untuk menyembunyikan raut wajaku. Aku pun tak dapat melihat bagaimaa ekspresinya setelah mendengar perkataanku. Entahlah karena tak lama setelah itu aku langsung melepaskan tangannya karena pintu tiba-tiba saja terbuka. Setelah kutengok ternyata Kyuhyun Oppa datang dengan membawa sebuah kantung plastik besar.
Aira POV End
Hyeri POV
“Eonnie……” aku tak sanggup mengatakan apa-apa. Tuhan, tolong hukum aku, aku begitu jahat pada wanita di hadapanku ini. Dia wanita yang sangat baik meski aku sudah bersikap sangat menjengkelkan ia tetap saja baik terhadapku, ia yang mendonorkan darahnya padaku saat aku kekurangan darah dan dia pula yang selalu senatiasa menjagaku saat Kyuhyun Oppa tak bisa menemaniku.

“Kamu tenang saja Hyeri-shi, bersabarlah sedikit lagi, karena sebentar lagi aku akan berpisah dari Kyuhyun Oppa dan untuk seterusnya Kyuhyun Oppa akan selalu bersamamu” ujarnya yang membuatku terkejut. Berpisah? Aira Eonnie berniat berpisah dari Kyuhyun oppa? ANDWE, ini tidak boleh terjadi. Aku tahu wanita yang selalu terlihat tegar ini sangat mencintai Kyuhyun Oppa dan aku pun dapat merasakan bahwa Kyuhyun Oppa pun juga memiliki rasa yang sama padanya. Aniya! ini tidak boleh terjadi.

Aku harus menghentikan niatnya yang cukup gila itu dan aku akan mengatakan yang sebenarnya bahwa sebenarnya…..
“Oppa..” refleks aku memanggil Kyuhyun Oppa yang tiba-tiba saja sudah berada di ruanganku. Ia pun menghampiriku dan mencium keningku seperti biasanya.
 

Tak lama setelah itu kulihat Aira eonnie sudah bersiap untuk meninggalkan ruanganku
“Aira-ya…” suara kyuhyun oppa begitu terdengar jelas di telingaku
“Ne..” jawab wanita yang dipanggilnya
“Sebelum pulang, makanlah dulu, aku sudah membawakan makanan untukmu. Ambilah di meja itu” katanya sambil melihat ke arah makanan yang dia simpan di meja.
“Gwenchanayo Oppa, aku akan makan di rumah saja”
“Aniyo, kau makan saja makanan yang telah kubawakan, itu nasi goreng seafod kesukaanmu” katanya lagi. Aku semakin yakin bahwa sebenarnya Kyuhyun Oppa juga peduli pada isterinya, bukankah dengan menyuruhnya makan itu menandakan bahwa seseorang peduli pada orang lain. Terlebih Kyuhyun Oppa yang notabene tak pernah bisa perhatian pada orang lain.
“Ne, gomawo” ujar Aira eonnie kemudiam mengambil bungkusan makanan tersebut dan akhirnya meninggalkan ruangan ini, meninggalkan ruangan yang hanya ada Kyuhyun Oppa dan aku di dalamnya. Kyuhyun Oppa, ia terus saja melihat ke arah pintu, memperhatikan Aira eonnie yang berjalan dengan pelan kemudian menghilang dari balik pintu itu.
Hyeri POV End

Aira POV
“Aira-ya…” suara bass itu membuatku menghentikan langkahku yang hendak meninggalkan ruangan ini.
“Ne..”
“Sebelum pulang, makanlah dulu, aku sudah membawakan makanan untukmu. Ambilah di meja itu” katanya sambil melihatku.
“Gwenchanayo Oppa, aku akan makan di rumah saja”
“Aniyo, kau makan saja makanan yang telah kubawakan, itu nasi goreng seafod kesukaanmu” katanya lagi. Aku sedikit kaget mendengarnya. Seolah-olah Kyuhyun Oppa sedang memberikan perhatiannya padaku. Bolehkah aku sedikit beranggapan seperti itu?
“Ne, gomawo” kataku akhirnya membawa makanan yang telah diberikannya padaku. Jujur aku merasa senang. Ini pertama kalinya selama kami bersama ia memberikan makanan untukku.

***
 

Aku sepertinya sudah yakin dengan keputusanku. Dengan segala kejadian yang kulihat akhir-akhir ini membuatku yakin jika aku memang tak seharusnya ada di kehidupan Kyuhyun Oppa dan Hyeri. Aku sungguh wanita yang jahat karena merebut kebahagian gadis manis yang mengidap penyakit yang tak ada obatnya itu, aku juga jahat menahan Kyuhyun Oppa untuk hidup bersama gadis yang dicintainya. Aku berharap keputusanku kali ini merupakan akhir dari kisah hidupku dengan Kyuhyun oppa, kuharap ia bisa bahagia dengan gadisnya itu dan memang sudah sepantasnya dua orang yang saling mencintai itu untuk hidup bahagia.

****

Dua bulan kemudian……….
Other Place…

Hidup tanpa Kyuhyun Oppa merupakan perjuangan yang sangat menyakitkan. Aku tak sanggup hidup tanpa melihat wajahnya yang bahkan jarang sekali ia tersenyum padaku. Aku selalu terbiasa dengan adanya dia di hidupku. Aku sungguh mencintainya. Tapi, apakah mungkin ia juga merasakan hal sama. ANIYA, itu jelas sekali bukan. Di hidupnya sudah ada Hyeri jadi tak mungkin ada tempat untukku di hidupnya.

Perjuangan yang sangat menyakitkan itu kuisi dengan tinggal di panti asuhan tempat awal aku dibesarkan. Tumbuh dan berkembang di tempat ini membuatku sadar bahwa aku tak sepenuhnya hidup sendiri. Meski cintaku berakhir, meski aku telah kehilangan Kyuhyun Oppa namun aku tak benar-benar ditinggal sendiri. Ada anak-anak yang selalu tersenyum dan tertawa di tengah-tengah kesakitanku. Tuhan masih baik padaku, Gomawo.

***

Aku kini mematung di tempatku, tempat yang biasa kugunakan untuk mengisi waktu kosongku di malam hari kini terasa berbeda. Aku biasa mengisinya dengan bercanda dan bersenda gurau dengan anak-anak yatim piatu di sini, namun kali ini, aku dihadapkan pada sosok tinggi tegap yang kini tengah duduk di sampingku. Sosok yang selalu ingin kuhapus dari memoriku, sosok yang begitu menyisakan pengalaman yang pahit tapi sekaligus menyedihkan kini ada di hadapanku. Tengah duduk memandang hamparan bunga di taman belakang Pondok ini.
“Aku dihadapkan pada dua pilihan yang sulit, aku harus memilih untuk bersama gadis yang berwajah manis atau wanita berhati malaikat. Memilih untuk hidup bersama gadis yang selalu bisa membuatku tertawa atau justru hidup bersama dengan wanita yang mampu menenangkan hatiku” Katanya membuatku sedikit tertegun untuk mencerna maksud dari ucapannya tersebut. Gadis berwajah manis itu tentulah Hyeri sedangkan wanita berhati malaikat? Apakah wanita berhati malaikat itu aku? Tapi aku sangsi jika itu memang ditujukan untukku. Berhati malaikat di mananya? Bahkan aku sudah dengan lancang menjadi penghalang bagi kebahagiannya dengan gadis yang dicintainya.
“Ra-ya, mengapa saat itu kau langsung pergi meninggalkanku tanpa sedikit pun penjelasan yang kau berikan padaku. Aku sangat syok saat melihat sudah ada map cokelat yang berisi surat perceraian yang kau ajukan bahkan di surat itu sudah tertera tanda tanganmu.”
“Mianhe Oppa, saat itu kupikir itulah hal yang harus kulakukan”
“Kau pergi dengan tak berpamitan padaku maupun pada Hyeri. Kau tahu, aku bahkan mencari-carimu seperti orang gila. Aku tak mempedulikan berapa puluh kali sekretarisku meneleponku, yang ada dalam pikiranku saat itu adalah bertemu denganmu dan meminta penjelasan atas semua ini. Tapi, yang kudapatkan justru kau sudah pergi meninggalkanku begitu saja.”
“……”
“Hari itu, aku sudah memantapkan hatiku untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku, aku sudah memutuskan dengan siapa aku akan menghabiskan sisa hidupku.”
“Oppa….”
“Saranghae Ra-ya, jeongmal saranghae….” ujarnya menatap mataku dalam. Kuberanikan diri untuk menatap matanya mencari apakah ada kebohongan dibalik itu semua. Aku terus menatap matanya, aku tak bisa memungkiri, aku masih sangat mencintai pria yang kini menggenggam erat kedua tanganku ini. Namun, aku takut….
“Oppa, mianhe….”
“Waeyo Ra-ya, apa yang membuatmu tak bisa lagi bersamaku?”
“Aku sudah berjanji pada diriku sendiri, saat itu di rumah sakit, ketika aku benar-benar tak tahan melihat keadaan Oppa yang sangat memprihatinkan karena kondisi Hyeri yang semakin memburuk, aku berjanji akan melepaskanmu untuknya dan aku akan pergi dari kehidupan kalian berdua asalkan Hyeri sembuh dan kaupun tak akan menderita lagi Oppa….”

Flasback ON
at hospital….

“Hyeri, tidakkah kau ingin melihat bulan malam ini? Ia sangat indah” ungkapku memandangi langit pada malam hari di rumah sakit. Kini, hanya tinggal aku yang menjaga Hyeri, Kyuhyun Oppa masih di kantor karena proyek besarnya yang sudah tidak bisa ditinggalkan.
“Hyeri bangunlah, apa kau tidak lelah hanya berdiam diri saja? Tak inginkah kau kembali pada Kyuhyun Oppa-mu itu”
“Aku….. ak, aku… akan menyerahkan Kyuhyun Oppa padamu jika kau sadar. Ak, aku sadar cintanya padamu tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan apapun. Bahkan cinta yang kumiliki untuk Kyuhyun Oppa pun sepertinya tidak akan bisa menandingi cintanya Kyuhyun Oppa padamu….”
“Hyeri….bangunlah…. dan kembalilah pada Kyuhyun Oppa, aku akan melepaskannya. Dengarlah Hyeri, aku akan melepaskan Kyuhyun Oppa asalkan kau bangun…. Hyeri aku mohon….” aku benar-benar sudah putus asa menghadapi ini semua. Aku tak ingin Hyeri pergi, aku ingin melihat senyumnya yang manis, aku masih ingin melihat sikap aegyonya yang selalu ia tunjukan pada Kyuhyun Oppa jika ia menginginkan sesuatu. Bukankah hal itu sangat lucu dan menggemaskan. Aku tak ingin kehilangan gadis manja ini. Gadis yang seharusnya kubenci itu justru aku sangat menyayanginya dengan segala hal yang telah ia lakukan padaku. Aku merasa akulah yang menjadi orang ketiga dibalik hubungan mereka, aku menghancurkan impian gadis ini untuk menikah dengan pangeran yang sangat ia cintai, aku juga menjadi penghalang bagi Kyuhyun Oppa untuk meminang gadis yang ia cintai. Bukankah aku sangat jahat? Kuharap keputusan yang kuambil ini memang suatu kebenaran yang seharusnya kulakukan sejak dulu. Mianhe Hyerin, mianhe Kyuhyun Oppa….

Flasback OFF
Pagi menjelang setelah percakapan di malam hari yang cukup panjang itu, seperti biasa, aku mulai menggerakan badanku. Mataku perlahan kubuka sedikit demi sedikit. Aku terdiam, warna dinding ini, aroma ini, kamar ini, OMO! Ini bukan kamarku.
Apakah ini…..?
 

Aku pun segera keluar dari kamar dan turun untuk memastikan keadaan pagi ini yang membuatku sangat tercengang. Sebenarnya apa yang terjadi. Aku masih ingat bahwa tadi malam aku berbincang dengan Kyuhyun Oppa sampai malam dan aku.. ter..ti..dur.. Astaga!
“Oppa, apa-apaan ini?” tanyaku kaget saat melihat Kyuhyun Oppa tengah duduk menonton televisi di rumah kami. Rumah kami? Ya benar, aku sekarang yakin kini aku berada di rumah yang dulu pernah menjadi saksi bagaimana tumbuhnya cintaku padanya.
“Tidak ada apa-apa, aku hanya membawamu pulang ke tempat yang semestinya” jawabnya ringan seolah tak merasa bersalah telah membawaku yang sedang tidak sadar ke rumah ini.
“Tapi, oppa….” aku berusaha mengelak namun tiba-tiba saja aku terdiam saat melihatnya matanya yang menatap tajam padaku. Ia pun menghampiriku yang masih berdiri di bawah tangga.
“Dengar Ra-ya, aku sudah memutuskan untuk membuatmu berada di sisiku. Itu sudah menjadi hak paten dari seorang Cho Kyuhyun yang tidak bisa diubah-ubah lagi. Arasseo?” Ujarnya tepat di depan mataku.
“Aniya Oppa, kita tidak bisa tinggal bersama lagi. Kita sudah bercerai.” Kataku berusaha mengingatkannya akan keputusan salah yang telah diambilnya.
“Kata siapa? Asal kau tahu, surat cerai itu langsung kubakar sehari setelah kau pergi”
“Tap.. tapi…”
“Ah sudahlah, lebih baik kamu segera mandi, kita kencan hari ini” ujarnya dengan ringan. Mwo? Apa tadi? kencan?
“Oppa, ini salah… Tidak seharusnya kita….”
“Ra-ya, sudahlah, lagipula resiko dicintai Cho Kyuhyun itu harus mau untuk selalu berada di hidupku.” selanya tanpa mau mendengar perkataanku. Huh.
“Oppa, ini tidak..”
“Diam Ra-ya, atau aku akan menciummu!” katanya yang langsung membuatku diam seketika.
“Sip, anak yang baik” katanya yang langsung mengelus rambutku dan dengan gerakan yang sangat cepat ia menciumku sekilas. Omo!
“Morning kiss chagi, saranghae…” ujarnya kemudian menariku pelan masuk dalam pelukannya yang hangat.

Aku masih diam dan tak tahu harus berbuat apa, mungkinkah ini akhir dari perjuanganku mendapatkan kata cinta darinya? Aku masih bingung. Tapi yang kuyakini, sekarang ini bukanlah mimpi, karena aku dapat merasakan tangannya yang memeluku erat dan hembusan nafasnya yang dapat kurasakan.

Lama kami terdiam dalam posisi ini. Aku masih menikmati harum tubuhnya yang sudah lama tak kucium. Semakin lama aku pun merasa nyaman dalam posisi ini dan melingkarkan tanganku di pinggangnya, membalas pelukannya setelah satu bisikan terdengar jelas di telingaku.
“Saranghae nae anae….”

Nado saranghae nae nampyeon, aku juga mencintaimu.

Hah, hatiku kembali, tak ingin pergi. Lega rasanya. Inilah akhirnya keputusan yang aku ambil. Kembali membuka hatiku, mencintainya. Aku pun mengeratkan pelukanku padanya dan merasakan indahnya suara jantung kami yang berdetak secara bersamaan…

_END_

KOMENTAR

About The Author