Select Page

alterntif text

Hotel Pasar Baroe Bogor, Saksi Bisu Zaman Kolonial Yang Mulai Terlupakan

Bogor (headlinebogor.com)_ Terletak di Jalan Klenteng No. 88 RT.02 RW.07 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Provinsi Jawa Barat.  Hotel Pasar Baroe merupakan salah satu hotel tertua di Bogor,  dibangun bersamaan dengan Hotel Belavue dan Hotel Salak pada tahun 1873 oleh seorang Tionghoa bernama Tan Kwan Hong.

Menurut Lim Hie Nio, cucu mantan pengurus Hotel Pasar Baroe, yaitu Lim Siang Hien, hotel tersebut beroperasi sejak zaman kolonial Belanda.

Hotel tersebut didirikan pada 1873 oleh keturunan China bernama Tan Kwan Hong. Kemudian hotel itu dibeli  keluarga Lim dan Lie setelah dua kali berpindah tangan. Bangunan yang berdiri di atas lahan seluas 1.200 meter persegi tersebut memiliki keunikan arsitektur Eropa kombinasi Tionghoa

“Karena wilayah tersebut berada di kawasan Pecinan, jadi mengkombinasikan Eropa dan China,” ujar Lim Hie Nio, Senin (30/1/2017) dikutip Liputan6.com.

Hotel itu mulai berkembang sejak beroperasinya kereta api dari Batavia ke Buitenzorg pada 1873 hingga peralihan abad 20. Pada masa itu hotel tersebut menjadi primadona bagi para pelancong, selain Hotel Salak dan Hotel Belavue (kini menjadi pusat perbelanjaan dan sempat menjadi Pasar Ramayana).

Hotel Pasar Baroe muncul dan menjadi pilihan bagi golongan kelas menengah ke bawah. Bukti hotel tua sebagai bagian dari peradaban Kota Bogor dilihat dari sejumlah bangunan bersejarah yang ada di sekitarnya.

Di sekitar gedung itu banyak ditemukan bangunan antik berlanggam Eropa-Tionghoa yang diperkirakan mulai dibangun pada peralihan abad.

Kawasan tersebut merupakan pertemuan antara Kelenteng Weg atau Jalan Kelenteng Hok Tek Bio dan Pasar Weg atau Jalan Pasar pada masa kolonial Belanda.

Bukti sejarah lainnya adalah sejumlah nama-nama yang pernah menginap di hotel tersebut.

Salah seorang pendiri Sjarikat Islam (SI) yang juga pergerakan nasional, yaitu Tirto Adhi Soerjo, pernah menjalankan aktivitas atau kegiatan politiknya di Buitenzorg dan menginap di Hotel Pasar Baroe.

Hotel yang terletak di kampung Pecinan ini pun sempat dihuni oleh sejumlah keluarga dari Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) hingga berakhirnya peristiwa Gestok (Gerakan 1 Oktober)

Namun, kini Hotel bersejarah ini hanya tinggal kenangan, puing-puing atap hotel terlihat kumuh dan tidak terawat. Setelah tidak beroprasi hotel itu dibiarkan begitu saja dan yang menempati hanyalah orang-orang yang mengais rezeki di pasar tersebut, seperti pedagang kecil di pasar maupun buruh. (Wdi).*

KOMENTAR

About The Author