Select Page

Kepanitiaan Tahun Baru Sunda 1 Saka 1955 Resmi Dibubarkan Di Padepokan Kijalu | Headline Bogor

Kepanitiaan Tahun Baru Sunda 1 Saka 1955 Resmi Dibubarkan Di Padepokan Kijalu | Headline Bogor

KABUPATEN BOGOR – Resmi dibubarkannya kepanitiaan kegiatan PABARU SUNDA dalam rangka memperingati 1 Saka 1955 tahun baru sunda yang dilaksanakan di Gedung Kesenian Cibinong Kabupaten Bogor 26 Agustus lalu. Abah Gontor Gontor Galigota selaku ketua panitia PABARU Sunda 1 Saka 1955 menjelaskan kepada HeadlineBogor.com bahwa dalam memperingati tahun baru sunda masyarakat Sunda pun belum memahami seluruhnya. (31/08)

“Kegiatan memperingati tahun baru sunda 1 Saka 1955 ini belum dipahami seluruh masyarakat Bogor yang notabene adalah masyarakat Sunda, maka dengan ini kami berharap agar kegiatan memperingati 1 Saka tahun depan perlu di sosialisasikan lebih mendalam lagi kepada masyarakat luas”. Tutur Abah Gontor.

Selain harapan untuk diperingati di tahun depan Abah Gontor pun berharap masyarakat terus mendukung kegiatan yang dilakukan oleh para budayawan dari tiap paguyuban budayawan.

“Kami pun berharap masyarakat Bogor khususnya masyarakat Sunda terus mendukung kegiatan para budayawan yang tergabung dari beberapa paguyuban hal ini adalah kegiatan masyarakat sebagai tolak ukur untuk mempertahankan kearifan lokal budaya yakni salah satunya tahun baru sunda”. Ungkap Abah Gontor.

Diwaktu yang sama tuan rumah pembubaran kepanitiaan PABARU SUNDA Lulu Azhari Lucky yang dikenal dan disapa Ki Jalu selaku tokoh Bogor menjelaskan bahwa kegiatan memperingati tahun baru sunda ini adalah yang pertama kali di Bogor.

“Kegiatan memperingati 1 Saka Tahun 1955 ini adalah yang pertama kali di Bogor, padahal di daerah Kota dan Kabupaten lain sudah sering dilakukan. Memang secara sejarah sunda, peradaban sunda adalah yang tertua itu diakui dari beberapa suku budaya lain. Tapi tidak apa-apa hal ini kita akui saja dengan hitungan yang ada”. Jelas Ki Jalu.

Ki Jalu pun berharap Bupati Bogor dan Walikota Bogor melalui Dinas Pariwisata Dan Kebudayaan perlu memberikan perhatian khusus untuk kegiatan budayawan sunda demi meningkatkan kualitas SDM dan efek domino dari kebudayaan Bogor menuju daerah yang tidak melupakan sejarah dan tradisi para leluhur.

“Kemarin, kegiatan ini tidak ada kepedulian dari pemerintah daerah baik dari Pemerintah Kabupaten Bogor maupun Pemerintah Kota Bogor, sampai tidak ada yang datang satu pun, harusnya pemerintah melek mata untuk hal ini. Tapi kami pun cukup berterimakasih atas pastisipasi fasilitas yang di berikan menggunakan Gedung Kesenian. Hal ini sebagai wujud eksistensi masyarakat sunda dan ruh dari Bogor itu sendiri, kalo Bogor masih ada Masyarakat Sunda yang peduli dengan tradisi budaya sunda. Bukan hanya budaya Sunda kebogoran tapi tradisi budaya Sunda keseluruhan. Masyarakatnya saja masih peduli dengan Bogor masa Pemerintahannya tidak peduli.” Pungkas Ki Jalu.

KOMENTAR