Select Page

Kolaborasi Apik Mira Lesmana DaN Riri Riza Dalam Film Kulari Ke Pantai | Headline Bogor

Kolaborasi Apik Mira Lesmana  DaN Riri Riza Dalam Film Kulari Ke Pantai | Headline Bogor

JAKARTA – Produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza lagi-lagi berkolaborasi. Duet sineas penggarap Ada Apa Dengan Cinta 2 (2016) ini sudah selesai menggarap sebuah film anak berjudul Kulari ke Pantai, yang siap tayang pada 28 Juni 2018.

Dalam wawancara eksklusif di kantor Beritagar.id, Jakarta Pusat (9 Juni 2018), Mira dan Riri menceritakan perjalanan mereka dalam memproduksi film anak-anak, serta perbedaan mendasar antara membuat genre ini dengan jenis film lainnya.Keduanya tampak antusias saat menceritakan film anak-anak. Genre ini memang spesial bagi mereka. Perjalanan Mira dan Riri dalam membuat film anak hampir sepanjang karier mereka di industri perfilman nasional.

Mira mendirikan Miles Films pada Maret 1995. Setahun berikutnya, ia dan Riri menjadi produser untuk serial berjudul Anak Seribu Pulau, sebuah doku-drama 13 episode yang ditayangkan di lima televisi swasta nasional saat itu.

Anak Seribu Pulau menjadi semacam “sekolah” bagi para sutradara yang saat ini namanya sudah berkibar, seperti Nan T. Achnas dan Garin Nugroho. Riri juga turut berperan sebagai sutradara dalam episode yang mendokumentasikan anak-anak di kota Solo, Jawa Tengah dan Tana Toraja, Sulawesi Selatan.

Pada 2000, Miles Films merilis Petualangan Sherina, yang menjadi film panjang pertama yang disutradarai Riri. Film yang dibintangi Sherina Munaf itu menjadi salah satu tonggak awal kebangkitan film Indonesia dengan ditonton lebih dari satu juta orang.

Lalu pada 2004, duet produser-sutradara ini merilis Untuk Rena, sebuah drama yang menjadi film pertama Maudy Ayunda–saat itu ia masih kelas lima SD.

Pada 2008, Miles memproduksi Laskar Pelangi. Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya Andrea Hirata itu sukses besar, menjadi film terlaris 2008 dengan jumlah penonton sebanyak 4,7 juta orang.

Selang lima tahun kemudian, Mira dan Riri sempat membuat sebuah drama berjudul Sokola Rimba. Film yang diangkat dari kisah nyata ini, diambil bukan dari sudut pandang anak-anak, melainkan tokoh utama dewasa bernama Butet Manurung (diperankan Prisia Nasution), sang pendiri sekolah untuk anak-anak di pedalaman hutan di Jambi.

Jejak karya yang panjang itu menjadikan Mira-Riri sebagai sineas film anak dengan sejuta pengalaman. Lalu apa perbedaan dalam menggarap film anak dengan genre lainnya?

“Film anak itu membutuhkan pemikiran yang khusus,” jelas Riri. “Nomor satu, kami harus berpikir dalam tingkatan dan imajinasi anak-anak.”

Maksud sineas berusia 47 ini, jangan sampai konsep filsafat orang dewasa ada dalam film anak-anak. Tentu saja skenario harus dibikin dengan pemahaman bahwa karakter utamanya adalah anak-anak, dengan motivasi yang kekanak-kanakan, dan tentu saja cara berpikir mereka.

Kedua, sineas harus menyadari bahwa mereka berhadapan dengan bocah. “Kita butuh kepekaan tersendiri, perlu bikin lingkungan yang child friendly untuk anak,” jelas Riri.

Seluruh kru dan aktor dewasa harus bersedia untuk menyadari sepenuhnya, bahwa ada anak kecil di sekitar mereka. Lingkungan harus dibuat senyaman mungkin dengan para bocah. “Tempat merokok terpisah, enggak boleh ngomong jorok,” Riri mencontohkan.

Terakhir, sineas tidak boleh mengabaikan tugas utama seorang anak, yaitu belajar. Kalau proses syuting dilakukan saat mereka tidak sedang liburan, berarti anak harus izin dari sekolah. Miles menyediakan mentor atau guru privat untuk menanggulangi hal ini.

Orang tua sang aktor cilik juga sebisa mungkin harus menemani anaknya syuting. “Untungnya anak-anak dalam Kulari ke Pantai didukung penuh oleh orang tua mereka. Sepanjang perjalanan, hampir 1.100 kilometer dari Jakarta sampai Banyuwangi setidaknya mereka ditemani salah satu orang tuanya,” jelas Riri.

Sedari awal menggarap Petualangan Sherina, rupanya Mira-Riri sudah mafhum soal hal-hal yang disebutkan di atas.

“Anak saya seumur Sherina, kesadaran itu (soal perbedaan film anak dengan genre lain) lahir karena saya juga jadi orang tua,” ujar Mira.

“Bedanya (Petualangan Sherina dengan Kulari ke Pantai), dulu ruang yang kami persiapkan berbeda. Sewaktu syuting Petualangan Sherina, kami bawa buku, board game, kartu, buku gambar, dan pensil warna. Kalau sekarang siap-siap bawa powerbank,” tutup Mira sambil tertawa.
Kulari ke Pantai bercerita mengenai dua anak yang sangat berbeda. Sam (Maisha Kanna) adalah anak pantai yang hobi menjelajah alam. Sepupunya, Happy (Lil’li Latisha) kebalikannya, anak kota yang manja dan tak pernah mengenal alam.

Sam dan sang ibu, Uci (Marsha Timothy) berencana melakukan perjalanan darat dari Jakarta ke Banyuwangi untuk menemui peselancar idola Sam di sana. Sebelum berangkat, Happy mengejek dan merendahkan Sam.

Ibu Happy, Kirana (Karina Suwandi) kesal, lalu meminta anaknya ikut dalam perjalanan, dengan harapan agar Happy bisa lebih menghargai sepupunya.

Kulari ke Pantai juga dibintangi antara lain oleh Lukman Sardi, Ibnu Jamil, Dodit Mulyanto, Suku_Dani, Varun Tandjung, Fadlan Rizal, Ligwina Hananto, dan M. Adhiyat.

KOMENTAR