Select Page

Rektor UNJ Diduga Lakukan Praktik Nepotisme

Rektor UNJ Diduga Lakukan Praktik Nepotisme

Jakarta (Headlinebogor.com) – Kabar praktik nepotisme di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) tersiar begitu cepat. Mahasiswa, dosen dan karyawan kini bergerak dan meminta pertanggungjawaban rektor.

Seorang sumber yang minta disamarkan namanya menyebutkan pimpinan UNJ berinisial DJA, pada 20 Oktober 2016 mengangkat anaknya NJH menjadi Koordinator Pusat (Koorpus) Studi Kajian Wanita dan Perlindungan Anak di LPPM UNJ. Saat diangkat, NJH masih berpangkat penata muda Tingkat1 Golongan III/B. NJH adalah satu-satunya yang berpangkat Penata Muda Tk.1 Golongan III/B dengan Jabatan Fungsional Asisten Ahli.

“Sementara yang lain adalah Lektor, dan Lektor Kepala dengan golongan III D dan golongan IV,” kata sumber rilis.id, Kamis (8/6/2017).

Menurutnya, keterangan itu dapat dilihat dalam lampiran SK Nomor: 1197/SP/2016. Juga tentang yang bersangkutan bisa dilihat pada Surat Pernyataan Menduduki Jabatan Nomor: 4389/UNJ39.2/KP/2016.

Berikutnya, ia melanjutkan, BM juga sebagai salah satu anak rektor UNJ  diangkat menjadi Sekretaris  DJA. BM disebut-sebut mendapat fasilitas kendaraan roda empat tersendiri padahal jabatan sekretaris rektor tidak ada dalam SOTK kampus.

“Fasilitas kendaraan BM sering digunakan istrinya bernama RM, sementara BM sering menggunakan kendaraan jabatan DJA,” ungkapnya.

Disebutkan pula,  WYN yang juga merupakan anak dari DJA, yag sebelumnya menjadi dosen Universitas Palangkaraya, berijazah S1 kedokteran, saat ini statusnya pindah menjadi dosen Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) UNJ.

“Padahal tidak ada formasi penerimaan dosen di FIO dan melanggar syarat minimal dosen yang seharusnya berpendidikan S2. WYN mutasi ke kampus ini dengan memo DJA kampus ini yang juga Ayah kandungnya sendiri pada tanggal 12 Februari 2016,” ungkapnya lagi.

Suami WYN, yang berinisial BAM, juga telah menjadi dosen di FIO, dan diangkat menjadi CPNS 31 Maret 2015, mendapat izin belajar pada 1 Desember 2016 saat masih CPNS, padahal sesuai aturan dosen lain tidak diperbolehkan karena masih CPNS. Kemudian, 19 Desember 2016, BAM menjadi dosen PNS di FIO. Hal tersebut dapat dicermati pada SK Nomor: 22398/A4/KP/2015 dan Nomor: 100258/A2.1/KP/2015.

Namun menurutnya tidak hanya itu, nepotisme di kampus UNJ, juga melibatkan kerabat istri DJA, misalnya seperti TA, menjadi dosen Tata Niaga FE yang saat tes menurut Prodi Tata Niaga FE tidak lulus karena nilainya rendah tetapi diluluskan DJA.

“Apakah fakta tersebut tidak termasuk katagori nepotisme di kampus ini?,” tanyanya.

Sementar hal lain ditemukan, menurutnya, ketika NS, istri DJA, melakukan ujian Doktor. DJA sebagai suaminya berposisi sebagai ketua penguji yang akan menguji istrinya sendiri. Temuan lain juga disampaikan bahwa anak DJA berinisial NJH saat melakukan ujian doktor juga diuji oleh DJA.

“Saat itu DJA menjabat Direktur Pascasarjana. Kalau ini soal etika dan kepatutan akademik yang diabaikan. Bagaimana bisa menjamin tidak ada conflict of interest?” ujarnya.

 

 

Sumber : http://rilis.id/rektor-unj-dituding-nepotisme-dan-melanggar-etika-ini-faktanya.html

KOMENTAR