Select Page

Indonesia dan Australia Tingkatkan Kerjasama Adaptasi Perubahan Iklim | Headline Bogor

Indonesia dan Australia Tingkatkan Kerjasama Adaptasi Perubahan Iklim | Headline Bogor

JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Senin, 13 Agustus 2018. Australia memiliki sejarah kerja sama yang cukup panjang dengan Indonesia, sebelumnya Indonesia bersama Australia telah melaksanakan Asia Pacific Rainforest Summit (APRS) yang menghasilkan banyak kesepakatan diantara negara-negara Asia Pasifik untuk penyelamatan hutan hujan kawasan ini. Australia dan Indonesia juga telah melakukan kerjasama dalam bidang penghitungan karbon yang akhirnya tertuang dalam Indonesia National Carbon Accounting System (INCAS), yang merupakan sistem pengukuran, pelaporan dan verifikasi (MRV) dari Gas Rumah Kaca (GRK), termasuk aktivitas REDD+.

Saat bertemu dengan Duta Besar Australia untuk Lingkungan Hidup, Mr. Patrick Suckling, Menteri LHK, Siti Nurbaya mengatakan, “Indonesia ingin meneruskan kerjasama dengan pihak Australia terutama dalam bidang sistem pengukuran karbon kredit, karena Australia dan New Zealand telah mengimplementasikan pengukuran tersebut”.

Indonesia memiliki target penurunan emisi sebesar 29% pada 2030 dan dengan dukungan internasional target tersebut menjadi 41%, dimana penurunannya ditargetkan sebesar 17% dari kehutanan termasuk dari blue carbon forest terutama mangrove, sementara 11% penurunan dilakukan melalui sektor energi.

Setelah mengadopsi Perjanjian Paris di COP-21, Indonesia telah membangun Sistem Registrasi Nasional (SRN) sebagai instrumen dari transparansi kerangka kerja pengukuruan karbon pada tingkat nasional. SRN yang di perkenalkan kepada publik pada tahun 2016 lalu memiliki peran utama dalam mencatat dan memverifikasi penerapan kontribusi nasional pengurangan GRK termasuk REDD+. Dalam pertemuan ini juga Menteri Siti juga menyampaikan bahwa secara nasional di Indonesia didapati bahwa kaum perempuan lebih siap dalam menghadapi perubahan iklim.

Sementara itu Mr. Patrick Suckling, menyampaikan apresiasinya atas keberanian delegasi Indonesia dalam menyuarakan posisinya sebagai individual country party dalam setiap kesempatan dan tidak selalu bergantung pada posisi grup (G-77) dalam negosiasi-negosiasi perubahan iklim.

Dalam pertemuan ini, Indonesia dan Australia menyepakati akan melakukan Training of Negotiator, bukan hanya kepada anak muda dan perempuan saja tapi juga para negosiator untuk adaptasi perubahan iklim lainnya seperti DELRI, untuk itu kedua negara ini bersepakat akan melakukan pertemuan antara negosiator negara maju dan negara berkembang, agar kedua belah pihak dapat saling memahami posisi masing-masing, sehingga terbangun kepercayaan antar negara dalam melakukan mitigasi perubahan iklim, terutama dalam mengatur anggaran-anggaran pendanaan di bidang pengendalian perubahan iklim atau climate financing. (*)

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *