Select Page

Advertisement

BOGOR RUNNER (LARI DARI KENYATAAN)

BOGOR RUNNER (LARI DARI KENYATAAN)

Baliho “Bogor Runner” terpampang di Jalan Protokol. Oh acara lari toh. Pantesan ada status Wakil Walikota Usmar Hariman soal olahraga lari. Kata Usmar: larilah ke masjid untuk berdoa pada Allah SWT.

Unik memang. Bogor ini dipimpin keanomalian. Walikotanya bergaya sedang lari, tanpa wakilnya. Sementara wakilnya mengkritik acara lari dalam statusnya. Ya mungkin acara lari itu dirancang pada ruang yang berbeda di Balaikota Bogor.

Pastinya acara lari dirancang di ruang walikota dengan satu tim event organizer mumpuni. Sementara di ruang lain sang wakil walikota mungkin lagi main gadget karena gak dikasih pendelegasian tugas. Setidaknya diminta lari-lari peresmian ini-itu.

Yang jadi pertanyaan: ini acara lari kepentingannya apa? Apa dampaknya untuk masyarakat? Jangka pendek, jangka panjang atau jang(ka) imah? Coba deh kalau ada tim walikota tolong soal ini kasih penjelasan.

Pastinya acara tersebut menyedot anggaran. Kalau dianggarkan di APBD, mestinya sudah diketahui bersama oleh wakil walikota. Sebab menyusun anggaran itu juga melibatkan wakil. Tapi kenapa pak wakil bikin status itu?

Kalau bukan dari APBD dari mana itu anggaran? Pertanyaan sama untuk acara memperangati tiga tahun kepemimpinan Bima-Usmar. Yang ramai foto walikota, foto wakilnya nyaris tidak ada.

Terkait anggaran, semestinya pemkot peka bahwa ada kebutuhan yang mendasar yang perlu diselesaikan dengan anggaran darimanapun. Terakhir walikota kunjungan ke rumah yang kena longsor. Adalah bagus kunjungan itu.

Akan tetapi perlu diketahui longsor setiap tahun terjadi dimana-mana di Kota Bogor. Tapi tidak juga dapat solusi permanen. Hanya ada bantuan terpal dan makanan emergency. Selanjutnya terserah anda.

Juga sarana-sarana posyandu di kampung- kampung. Banyaknya adalah swadaya warga. Sementara infrastruktur lingkungan yang masih ada belum dianggarkan.

Ada lapangan sekedar berolah raga ditepi sungai di Sirnasari sudah dikunjungi walikota. Kata warga dua kali walikota datang, namun tidak juga selesai dikerjakan pengecorannya.

Terminal. Ini juga wajah bopeng yang tidak sempat ditambal oleh pemkot. Bahkan terminal bagaikan daerah tak bertuan. Pemkot memang ada. Tapi disana dikuasai komunitas terminal.

Mereka (komunitas terminal) yang sibuk sekarang harus melakukan pengerasan dan pengecoran dengan dana swadaya. Jadi ini kota bertuan atau tidak sesungguhnya?

Terminal Baranangsiang adalah fasat Kota Bogor. Didiamkan terlantar tanpa penyelesaian. Sementara pemkot bisa mengusahakan dana mempercantik kota dengan taman, pedestrian dan lawang salapan.

Silakan saudara-saudara masuki lorong-lorong pemukiman warga kebanyakan Kota Bogor. Rumah petak berdempetan ukuran 3×4. Yang diisi lebih dari satu keluarga. Sanitasi buruk. Pengab. Bahkan ada yang kebanjiran. Rutilahu yang menebar dimana-mana.

Warga tidak dididik untuk kelola sampah. Sungai jadi bak sampah terbesar di dunia. Karena memang tidak disediakan tempat sampah pada wilayah pemukiman dan tidak ada manejemen kelola sampah.

Dua kontras wilayah pusat kota minus terminal dan kontras pemukiman yang semestinya jadi keprihatihan pimpinan kota (walikota dan wakil walikota). Adalah cermin psikologis pemimpin kota yang tidak berempati.

Bagaimana bisa seorang kepala daerah bisa tenang lari-lari dengan perencanaan matang. Pengambilan angle-angle foto terbaik. Bersama para selebritas (Wakil Gubernur Jakarta) atau selebriti lainnya yang mungkin hadir.

Sementara rakyatnya harus didiamkan. Menonton di tengah pergumulan masalahnya. Ini adalah gejala kejiwaan egosentris. Megalomania. Tidak bertanggung jawab bahkan lari dari kenyataan.

Saya sudah menahan diri soal pleger. Tetapi setelah saya blusukan ke kampung-kampung, saya makin tahu terjadi kesenjangan antara aksi pemerintah dengan kebutuhan warga.

Mungkin ada yang bisa memberikan apologi atas tumpahan kritik saya ini. Mari kita duduk bersama.

Dalam situasi rakyat yang sulit sebaiknya kita berempati. Tidak seharusnya kita mengumbar tindakan-tindakan yang mensegregasikan diri dengan pergumulan warga. Pemimpin terpisah dari rakyat. Atau rakyatnya yang mau saja dibodohi dan senang dengan pencitraan pemimpinnya?

Ah ini tulisan juga orang yang lagi kampanye dan pencitraan. Bisa saja. Yang pasti saya muak dengan politik kosmetik Kota Bogor.

Kalau ada yang tersinggung silahkan hubungi saya. Kita diskusi. Kalau perlu bersama stakeholder kota.

Salam,

Sugeng Teguh Santoso, SH
(Calon Walikota Bogor 2018)

 

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *