Select Page

Jelang Puasa Disdik Larang Pelajar Bogor Sahur Di Jalanan

Jelang Puasa Disdik Larang Pelajar Bogor Sahur Di Jalanan

(Headlinebogor.com) – Jelang puasa, Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor mengelu­arkan surat edaran tentang larangan Sahur On The Road bagi para pelajar.

Kadisdik Kota Bogor Fahrudin men­gatakan, surat edaran itu bakal diter­bitkan dalam beberapa hari ke de­pan khusus untuk tingkat SMP. Sedangkan untuk setingkat SMA atau SMK, pihaknya berkoordinasi dengan kepala sekolah (kepsek). “Karena kalau SMA dan SMK itu kan kewenangannya ada di provinsi,” ujar lelaki yang akrab disapa Fahmi itu. ­

Menurutnya, banyak keg­iatan positif yang bisa dilaku­kan selain melakukan sahur di jalanan. Untuk itu, setiap guru juga dipaksa memantau kegiatan siswanya selama bulan puasa. “Setiap guru juga harus mengingatkan para siswanya, sehingga para siswa pun dapat menjalankan kegiatan yang mempunyai dampak postitif dan nilai iba­dah yang tinggi,” paparnya.

Ketua Komisi D DPRD Kota Bogor Adityawarman Adil mendukung adanya edaran larangan sahur di jalanan selama bulan puasa. Sebab, kegiatan itu rawan dengan aksi tawuran. “Kita harus cermat melihatnya, seperti SOTR ini lebih banyak kebai­kannya atau keburukannya. Kalau banyak keburukannya kenapa harus dilaksanakan,” katanya.

Politisi PKS ini berharap agar Disdik maupun setiap sekolah membuat kegiatan khusus di bulan Ramadan, sehingga dapat menga­komodasi keinginan para siswanya beribadah. “Belajar bentuk ibadah. Nah, ini guru maupun Disdik harus mem­buat kegiatan-kegiatan,” jelasnya.

SOTR Rawan Tawuran

Sementara itu, hal serupa juga dilakukan jajaran Polres Bogor. Pelarangan ini di­lakukan mengingat keg­iatan itu kerap menimbulkan tawuran hingga menyebab­kan penumpukan sampah. “Pelaksanaan SOTR di jalanan itu nggak ada manfaatnya. Makanya kalau ada seperti itu akan kita larang,” kata Ka­polres Bogor AKBP AM Dicky.

Menurut Dicky, sebenarnya kegiatan SOTR ini boleh saja dilakukan di Kabupaten Bogor. Asalkan pelaksanaan itu dilakukan dengan cara mengunjungi tempat panti asuhan hingga tempat orang tidak mampu lainnya. “Kalau seperti itu kita tidak melar­ang,” ucap dia.

Bagi masyarakat yang ingin melakukan SOTR, sarannya, sebaiknya melakukan sahur bersama dengan cara meny­erahkan kepada pihak atau komunitas yang menangani itu. Sebab, hal tersebut jauh lebih efektif, lancar dan aman bagi keamanan masyarakat. “Jadi kita mengizinkan SOTR yang dilaksanakan adalah mereka melakukan sahur bersama dilanjut salat Subuh bersama. Intinya dilakukan di tempatnya, bukan di jala­nan,” imbuhnya.

Ia juga meminta masyara­kat bisa menghormati bulan suci Ramadan ini, bukan malah diisi dengan hal nega­tif. Karena jika diketahui ada tindak kekerasan yang sudah mengancam nyawa hingga harta dan benda, pihaknya tidak akan segan menin­daknya. Bila perlu melaku­kan tembak di tempat. “Kita lakukan (tembak di tempat, red) jika mereka melakukan perlawanan atau melarikan diri. Saya peringatkan kita akan mengambil sikap te­gas,” tutupnya.

 

 

(Metropolitan.id)

KOMENTAR