Select Page

Nama Achmad Ru’yat Jadi Anies, Bos Charta Politika Akui Salah Ketik | Headline Bogor

Nama Achmad Ru’yat Jadi Anies, Bos Charta Politika Akui Salah Ketik | Headline Bogor

KOTA BOGOR – Survei terhadap empat pasangan calon Walikota dan calon Wakil Walikota Bogor yang bertarung di Pilwalkot Bogor 2018 dilakukan oleh lembaga survei Charta Politika. Dalam penyampaian hasil survei oleh Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, mengungkapkan fakta mencengangkan dan terkesan tidak obyektif. 

Yunarto atau yang akrab disapa Toto menjelaskan, berdasarkan survei yang dilakukan sejak tanggal 01 sampai 05 Maret 2018 dan baru di sampaikan ke publik, Rabu (11/4),  di enam Kecamatan di Kota Bogor dengan 400 responden dengan cara wawancara tatap muka dengan kuesioner terstruktur, dari empat pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Bogor, Charta Politika menempatkan Bima Arya Sugiarto masih unggul diantara calon lainnya. Disusul posisi kedua Ahmad Ruyat dan Zaenul Muttaqin, ketiga Edgar-Sefwelly dan terakhir Dadang dan Sugeng. 

“Survey ini dilaksanakan di enam Kecamatan di Kota Bogor dengan 400 responden dengan cara wawancara tatap muka dengan kuesioner terstruktur. Ada enam faktor yang membuat elektabilitas Bima Arya Sugiarto- Dedie A Rachim masih tinggi,” kata Toto, kemarin. 

Metodologi sampel dipilih sepenuhnya secara acak (probability sampling) dengan menggunakan metoda penarikan sampel acak bertingkat (multistage random sampling), dengan memperhatikan urban/rural dan proporsi antara jumlah sampel dengan jumlah penduduk di setiap Kota. Dengan jumlah sampel sebanyak 400 responden, margin of error + 4.9% pada tingkat kepercayaan 95%. Unit sampling primer survei (PSU) ini adalah desa/kelurahan dengan jumlah sampel masing-masing 10 orang di desa/kelurahan yang tersebar di Kota Bogor. Quality control dilakukan terhadap hasil wawancara, yang dipilih secara random sebesar 20% dari total sampel. 

Berdasarkan release dari Charta Politika, poin ke empat dari elektabilitas top of mind (Pertanyaan Terbuka), elektabilitas Bima Arya Sugiarto berada di atas rivalnya (50,5%). Sementara Achmad Ru’yat (Anies) memperoleh (10,8%), Edgar Suratman (2,0%), dan Dadang Danubrata (2,0%) terdapat (34,8%) masyarakat yang menyatakan Tidak Tahu/Tidak Jawab. Poin keempat itupun menjadi tanda tanya seluruh peserta yang hadir dalam konfrensi pers, karena mempertanyakan adanya tulisan Anies pada pasangan Achmad Ru’yat dan Zaenul Mutaqin. Sedangkan diwaktu bersamaan, Yunarto Wijaya sedang menjelaskan kaitan survei Pilgub DKI Jakarta. Entah apakah data Charta Politika itu telah meng copy paste hasil survey di DKI Jakarta dan digunakan di Kota Bogor. 

Ketika ditanyakan, Toto menjelaskan bahwa terdapat kesalahan pengetikan dari tim keredaksian Charta Politika pada poin ke empat. “Mohon maaf karena telah terjadi kesalahan pengetikan, saya mohon maaf, saya pikir kalaupun itu terkait pilkada DKI dan angkanya tidak mungkin seperti itu. Ini murni kesalahan redaksional dan saya minta maaf silahkan untuk di hapus saja nama” Anies” nya,” kilah Toto. 

 

Hasil survei Charta Politika itu mendapat reaksi tanggapan beragam dari berbagai pihak. Calon Walikota nomor empat Dadang Danubrata meragukan obyektifitas dari hasil survey. 

“Tanggal survei nya saja sudah tidak update, pihak Charta Politika melakukan survei pada tanggal 1 sampai 5 Maret 2018, sedangkan di umumkan tanggal 11 April 2018. Tentunya selama satu bulan itu banyak perubahan. Survei itu harus update dan tidak di simpan dulu, karena semua calon bergerak ke masyarakat,” tegas Dadang. 

Selain itu, objektivitasnya juga diragukan, karena sebelum jadi Walikota Bogor, Bima Arya adalah Direktur Charta Politika, jadi unsur subyektivitasnya terlalu besar. Salah satu yang tidak obyektif adalah soal pembangunan taman, kenyataannya warga Kota Bogor banyak yang tidak setuju Pemkot Bogor hanya membangun taman, sedangkan urusan penting lainnya tidak di utamakan. 

Kemudian, Ketua GP Ansor Kota Bogor, Rachmat Imron Hidayat pun ikut angkat bicara dan menilai bahwa hasil survei itu terlalu subyektif berpihak kepada salah satu paslon yaitu Bima Arya, sebab bagaimanapun ada konteks sejarah yang tidak bisa diabaikan dan dipungkiri bahwa Bima Arya pernah menjadi bagian penting dalam lembaga survey Charta Politika.

“Hasil survei Charta Politika yang menempatkan Bima Arya sebagai pemenang di Pilkada Kota Bogor terlalu prematur dan subyektif. Prematur sebab politik dan kecenderungan perilaku pemilih bersifat dinamis. Saya kira masyarakat politik tahu soal ini dan sebab itu semestinya lembaga survey juga berkewajiban memberikan pendidikan politik yang sehat kepada publik. Lalu soal sampling tentu perlu dibedah lebih dalam akurasinya khususnya terkait responden dan perimbangan jumlah populasi kota bogor,” tandas Rommy. 

Bukan itu saja, Rommy juga mengatakan bahwa survey ini terkesan lucu lucuan, survei tersebut aneh seperti copi paste survei DKI, masa nama Ahmad Ru’yat menjadi Anies, ini kebohongan publik yang mungkin tadinya bermaksud merekayasa opini publik.

“Tapi Allah SWT membuka rekayasa tersebut sehingga terekspos dengan sendirinya dan bikin malu. Sudahlah, penyesatan opini ini harus dihentikan jangan melakukan pembodohan. Masyarakat sudah cerdas bahwa warga Kota Bogor ingin perubahan.  Politik gincu dan pencitraan sudah bukan zaman lagi,” tutupnya. (RIF)

KOMENTAR