Select Page

Refleksi Bulan Reformasi, Bima-Dedie : Mahasiswa dan Pemuda Harus Berhasil Mengubah Nasib Diri dan Bangsanya | Headline Bogor

Refleksi Bulan Reformasi, Bima-Dedie : Mahasiswa dan Pemuda Harus Berhasil Mengubah Nasib Diri dan Bangsanya | Headline Bogor

KOTA BOGOR – Bulan Mei diperingati sebagai bulan reformasi. Bulan untuk mengenang akhir dari pemerintahan otoriter Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto, 20 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 21 Mei tahun 1998. Jatuhnya pemerintah Soeharto yang selama 32 tahun hanya berfikir tentang pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, dengan tulang punggung para konglomerat yang menjadi kroninya. Dan Soeharto jatuh bukan karena keinginannya, tetapi dipaksa turun melalui aksi damai ribuan mahasiswa dan masyarakat Indonesia. Dan aksi yang menjatuhkan Soeharto pada 18 tahun yang lalu merupakan puncak dari perlawanan yang sudah dilakukan sebelumnya, sejak awal Soeharto berkuasa. Puncak dari kejenuhan masyarakat terhadap pemerintahan yang otoriter dan koruptif.

Calon Wali Kota Bogor yang juga merupakan Mantan Aktivis Mahasiswa, Bima Arya Sugiarto mengatakan reformasi yang dahulu diperjuangkan oleh para mahasiswa Indonesia pada Mei 1998 kini telah mati muda. Menurut Pokitisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini, reformasi yang diperjuangkan oleh para mahasiswa pada Mei 98 yakni menuntut pemerintahan yang bersih tidak terwujud sampai saat ini, sehingga perjuangan itu masih sebelum waktunya. “Korupsi, kolusi dan nipotisme masih terjadi, mungkin dalam berdemokrasi kita bangkit, tetapi pemerintahan yang bersih belum,” katanya. 

Meski pada saat reformasi, dirinya sedang study di Malbroune Australia, Bima Arya mengaku setiap saat memantau perkembangan situasi di Tanah Air. Menurut Mantan Senat Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung ini, dari berita-berita yang dibaca saat itu membuat ia menangis karena rumit kondisi kala itu.

Bima Arya juga berharap para mahasiswa dapat mengambil pelajaran dari kisah Mei 1998 untuk membangun bangsa dan negara menjadi lebih baik lagi. “Yang paling utama adalah semangat yang harus dipertahankan. Semangat perubahan, baik merubah dirinya maupun negaranya menjadi lebih baik. Itulah reformasi,” kata dia.

Calon Wakilnya di Pilwalkot Bogor 2018, Dedie Rachim juga senada. Menurut Mantan Pejabat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini, anugerah dari reformasi adalah terbukanya kesempatan bagi publik untuk ambil bagian dalam pesta demokrasi. “Saya contohnya. Bisa ikut pilkada karena reformasi. Meskipun dalam praktek berdemokrasi masih banyak hal yang harus diperbaiki dan disempurnakan, paling tidak sudah ada beberapa capaian penting khususnya di sektor reformasi birokrasi, pemberantasan korupsi dan keterbukaan informasi. Ini catatan serius yang menjadi pekerjaan bersama, baik mahasiswa ataupun pemuda,” tandasnya.

KOMENTAR