Select Page

ABK 3 Kali Lebih Besar Rentan Bullying | Headline Bogor

ABK 3 Kali Lebih Besar Rentan Bullying | Headline Bogor

JAKARTA – Kasus bullying yang terjadi Indonesia memang semakin meningkat terlebih lagi sasarannya juga kepada Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang lebih rawan mengalami bullying tiga kali lebih besar dari pada anak-anak pada umumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan The British Journal for Learning Support, ABK rawan mengalami bullying karena banyak faktor lingkungan yang kurang memahami, sosialisasi yang membuat si anak menjadi minder, komunikas antar manusia, dan ketidak pemahaman masyakarkat pada diri korban. Namun, agar mereka korban peka. Ajari mereka dengan cara-cara ini :

1. Ajarkan anak berkebutuhan khusus mengenali bentuk bullying
Banyak ABK yang tidak menyadari bila dirinya sedang menerima bullying. Biasanya yang melakukan bullying adalah seorang teman atas nama persahabatan. Ajari anak, bila pertemanan tidak melakukan bullying satu sama lain.

2. Ajari anak tidak menanggapi bullying yang dilancarkan kepadanya
Orang tua dapat mencegah ABK jadi target bullying dengan tidak bereaksi terhadap pancingan yang dilancarkan pelaku bullying. Bila korban tidak bereaksi, pelaku bullying akan kehilangan keyakinan untuk meneruskan perbuatannya.

3. Ajari anak mengenai adanya bullying di dunia maya. Beberapa kelompok Anak Berkebutuhan Khusus sudah ada yang mudah mengakses berbagai teknologi informasi. Banyak di antara mereka yang bahkan memiliki akun media sosial. Pantau kegiatan anak dalam bermedia sosial. Orang tua juga bia memperkaya modus bullying di medsos. Salah satunya berpura-pura sebagai lawan jenis yang tertarik kepada mereka.

4. Cegah bullying dengan melibatkan orang berpengaruh di sekitar ABK
Tidak dapat dipungkiri, bullying dapat dihentikan dengan campur tangan orang berpengaruh di sebuah lingkungan pergaulan. Jadikan orang tersebut tempat mengadu ABK bila mengalami bullying. Dengan adanya mentor pelindung, ABK dapat menyelesaikan masalahnya, daripada menghadapinya sendiri.

5. Ajari guru, teman, orang tua teman maupun orang lain di sekitar ABK untuk menerima keadaan ABK
Pelaku bullying dipercaya memiliki persepsi “Dapat berlaku semena-mena terhadap orang yang berbeda”. Pengertian terhadap perbedaan kondisi ABK. Guru atau orang dewasa yang tidak sadar sedang melakukan bullying akan diikuti oleh anak yang tidak mengerti. Karena itu perlu ada peningkatan kesadaran terhadap kondisi di sekitar ABK.

Meningkatnya laporan tentang kasus Bullying di KPAI tentang bullying di Indonesia menjadi hal yang bukan biasa.
Para pelaku Bulying biasanya melakukan tidakan itu karenasuatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan.

Penindasan fisik:
Tindakan penindasan dengan kontak secara fisik yang menimbulkan perasaan sakit fisik, luka, cedera, atau penderitaan fisik lainnya. Contohnya memukul, menampar, atau menendang orang lain.

Penindasan psikologis :
Tindakan penindasan yang menimbulkan trauma psikologis, ketakutan, depresi, kecemasan, atau stres. selain itu juga menimbulkan kegalauan/gusar hingga korban memicu bunuh diri bahkan bisa menjadi rentan akan sosialisasi, dan ketidak percayaan diri.

KOMENTAR