Select Page

Bekraf Kemendikbud Sambut Tantangan London Book Fair | Headline Bogor

Bekraf Kemendikbud Sambut Tantangan London Book Fair | Headline Bogor

JAKARTA – Pada hari Rabu, 4 April-2018 bertempat di salah satu hotel di jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, IIBF ( Indonesia International Book Fair) melalui Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) mengadakan jumpa pers dalam rangka merpersiapkan dua agenda penting bagi insan ekonomi kreatif bidang penerbitan,yaitu London Book Fair di Olympia London, Inggris (10 s/d 12 April 2018) dan Kuala Lumpur International Book Fair 2018 di Kuala Lumpur, Malaysia (27 April s/d 6 Mei 2018).

BEKRAF berencana akan membawa sekitar 300 judul buku pada event “London Book Fair” (LBF) tersebut. LBF Ke 47 tersebut akan diselenggarakan di gedung pameran Olimpia London dengan mengusung “Talking Word Futher Content Across Media”. Indonesia membuka kesempatan seluas – luasnya bagi bidang industri kreatif di luar penerbitan buku untuk ikut ditampilkan pada pameran tersebut.

“Sebgaai country market focus di London Book Fair 2019 nantinya Kami (BEKRAF-red) ingin mengambi peluang ini untuk membawa sektor penerbit di Indonesia dan sector lainnya yang berkaitkan untuk ke level selanjutnya,” ujar Ricky Joseph Pesik yang merupakan Wakil Kepala Bekraf.

BEKRAF dalam kesempatan tersebut ingin menampilkan para penulis – penulis dari Indonesia, para penerbit, dan karya yang merupakan warisan Literasi di Indonesia. BEKRAF menargetkan bisa menjual puluhan hak cipta, baik di bidang penerbitan maupun non buku.

Kepala Bidang Pemasaran Komite Pelaksana Indonesia Market Focus untuk London Book Fair, Thomas Nung Atasana mengatakan Indonesia menargetkan 35 judul buku di tahum 2018.

“Tahun ini kami menargetkan 35 judul, dan pada tahun 2019 menjadi 50 judul. Untuk bidang non buku seperti film, boardgame, dan aplikasi buatan Indonesia pada 2019 nanti, selain itu keikut sertaan tahun ini merupakan persiapan untuk menjadi Market Focus Country dalam LondonBook Fair 2019,” ujar Thomas Nung Atasana (4 April 2018).

Sementara itu Dirjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilman Farid mengatakan, London Book Fair merupakan pasar yang seharusnya menjadi lahan bagi pegiat industri kreatif Indonesia untuk menawarkan berbagai produk kreatifnya.

“London Book Fair merupakan ajang pemasaran global bagi negosiasi hak cipta yang meliputi penjualan serta distribusi konten – konten intelektual dan kreatif yang meliputi bidang cetak, audio, TV, film, dan jaringan-jaringan digital. Tahun ini Londok Book Fair memasuki tahun ke 47 dan akan dilangsungkan di Olympia London pada 10 sampai 12 April 2018 dengan tema “Taking Words Further Content Across Media”, dan Bekraf pun akan membawa Film Dilan, Laskar Pelangi, Filosofi Kopi, Sang Penari, dan Lautan Bercerita juga akan diputar di pameran buku terbesar itu,” ujar Hilman

“London Book Fair sangat penting bagi Indonesia karena merupakan pintu masuk ke pasar buku dunia, kita akan menawarkan dan menjual hak cipta buku-buku serta film dan game board di sana,” kata Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) Ricky Joseph Pesik

“Tahun ini selain buku juga ada 5 film yang akan diputar dan ditawarkan di LBF, yaitu Dilan, Laskar Pelangi, Filosofi Kopi, Sang Penari, dan Lautan Bercerita, Film – film tersebut sangat laris di putar di Indonesia dan ceritanya diadaptasi dari buku yang laris,Kami harap hak cipta buku dan film tersebut juga laris dijual di pasar dunia melalui LBF,” ujar Ketua Harian Komite Pelaksana Indonesia Market Focus di London Book Fair 2019, Laura Prinsloo.

Setelah sukses menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair, Indonesia kini bersiap untuk menjadi pusat perhatian di salah satu perhelatan pameran buku internasional lainnya, yaitu London Book Fair (LBF). Melalui Bekraf dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Indonesia telah menandatangani nota kesepakatan dengan panitia LBF untuk menjadi market focus pada 2019.

Tiara

KOMENTAR

About The Author