Select Page

Kisah Inspiratif Adik Pramodya Ananta Toer, Seosilo Toer | Headline Bogor

Kisah Inspiratif Adik Pramodya Ananta Toer, Seosilo Toer | Headline Bogor

JAKARTA – Kadang apa yang kita lihat sering kita katakan “kok bisa?” “Kok kenapa?”banyak segilitir pertanyaan dan penuh tanda tanya mengalir dalam setiap orang ketika melihat sosok pria tua memulung di dearah Belora, yang ternyata adalah seorang doktor, penulis, dan adik dar penulis terkenal dan legenda itu, Seosilo Ananta Toer, adik dari Pramodya.

Seosilo adalah lulusan dari Universitas Patrice Lumumba dan Institute Perekonomian Rakyat Plekhanov , di Rusia. Bahkan beliau sering mendapat penghargaan dan sering mepdapat tawaran kerja dimana-mana oleh pemerintahan luar negeri. Namun kini telah berbeda, di usia tak lagi muda ia harus mengais -ngasi sampah, yang berada di bak sampah dan dijalanan. Tapi itu tidak membuat dia putus asa dan bersedih hati. Malah ia menggap itu adalah pekerjaan yang indah dari Tuhan kepadanya karena bisa membantu orang lain dan membersihkan lingkungan.

Uang yang dia dapatkan dari royalti buku hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari dan penghasilannya tidak banyak. Buku yang dia punya juga sering ia sumbangkan pada perpustakaan dan kepaada orang yang membuthkan buku untuk bahan bacaan.

Di usia yang memasuki 81 tahun, ia juga masih semangat mencari rizki dan menulis, bahkan pendengaran beliau, matanya, semangatnya masih berapi-api menghadapi hidup.

Mungkin tidak banyak orang tahu sosok legenda sastrawan kelahiran 17 Febuari 1937 itu adalah orang yang sangat berpendidikan tinggi bahkan menguasai berbagai macam bahasa , seperti Rusia, Belanda, Inggris, dan Jerman. Tidak hanya itu ia juga menyandang gelar master dan dokor di bidang politik dan ekonomi. Semua ijasah dan piagam penghargaanya masih tersimpan rapih. Namun, gelarnya seakan-akan tak berarti baginya sekarang ini.

Pria yang diundang di acara hitam putih, studio Trasmedia corp, ketika diwawancara tidak ingin dipanggil kakek, mbah atau pun eyang, ia hanya ingin dipanggil “bro” karena ia merasa gairahnya masih muda dan ingin kembali lagi seperti dulu karena masih pengen mengukir banyak karya.

Soesilo Toer menceritakan kehidupannya yang kini menjadi pemulung untuk menyambung hidup melalui talkshow Hitam Putih, yang dipandu Deddy Corbuzier.

“Apa hubungannya ijazah dengen pekerjaan. Saya memulung karena ingat kisah Socrates yang memilih bunuh diri dengan caranya sendiri, yakni minum racun pohon cemara, saat dijatuhi hukuman mati oleh pemerintah Yunani. Socrates berkata, kenalilah dirimu, karena kematian adalah kebahagiaan abadi. Saya ambil kalimat itu dan saya balik, kenalilah diriku, karena memulung adalah kenikmatan abadi buat saya,” kata Soesilo Toer.

Soesilo Toer menerangkan jika dirinya sebanarnya adalah warga negara Belanda. Sebab, menurut peraturan yang berlaku zaman kolonial dulu, semua orang yang lahir sebelum tahun 1949 secara hukum adalah warga negara Belanda.

“Sudah banyak orang yang menawari saya bekerja di Belanda. Tapi, saya memilih Indonesia. Karena saya patuh pada perjanjian saat saya ke luar negeri. Tapi, saat saya pulang paspor dicabut karena dianggap membela orde lama. Padahal saya anak buahnya Pak Harto. Pada saat pembebasan saya adalah seorang Letnan Batalyon serbaguna. Seharusnya saya dapat jabatan, malah dibui,” sambung Soesilo Toer. Tapi, Soesilo Toer sama sekali tidak dendam. Dia merasa kehidupannya sekarang sangat bahagia dan penuh kenikmatan

Tiara

KOMENTAR