Select Page

Presiden Galau Di Tahun Politik | Headline Bogor

Presiden Galau Di Tahun Politik | Headline Bogor

Oleh : Wahyu Hidayat Lubis

Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pakuan Kota Bogor

Sekali Bu Mega mengambil keputusan politik, tidak pernah goyang, kami selalu memberikan kesempatan dua kali. ‘Tetapi kami ingin memberikan pembelajaran politik’.
Pernyataan Hasto Kristiyanto
Sekretaris Jendral PDI-P
Majalah Tempo Edisi 8-24 Januari 2018
Menariknya dari sambungan ucapan di atas adalah pada tanggal 27 Juli 2016, Partai Golkar telah mendeklarasikan presiden Jokowi untuk di usung kembali mencalon menjadi—presiden di tahun 2019 nanti.
Hasto, sangat menyayangi sikap tergesa-gesa partai berlambang beringin tersebut. Buat mereka (PDI-P) hal tersebut terlalu dini. Membawa kompetisi terlalu ke depan. Hal yang semacam ini katanya untuk kepentingan jangka pendek—untuk mendorong elektabilitas partai Golkar semata imbuhnya.

Pertanyaan mendasar untuk fenomena dinamika kekuasaan di tahun politik ini—kapankah PDI-P akan mendeklarasikan jagoannya ke pada publik? Apakah presiden Jokowi kembali akan di usung atau ada kader baru yang akan di usung oleh PDI-P? Dan kepada siapakah diberikan pembelajaran politik yang dimaksud oleh sekretaris jendral PDI-P tersebut? Sehingga partai yang mengusungnya dari awal belum juga mendeklarasikan siapa calon yang akan mereka perjuangkan di tahun 2019 akan datang. Sekiranya wajar pertanyaan di atas menjadi dasar pertanyaan di tulisan ini. Sebab ada beberapa hal yang menjadi teka-teki di publik mengenai dinamika politik untuk menjadi perjuangan bersama menentukan pemimpin bangsa ini berdasarkan pemilihan umum.

Publik sangat mengetahui bahwa presiden Jokowi di partai PDI-P bukanlah seseorang yang memiliki kuasa yang penuh dalam mengambil keputusan apakah ia akan dicalonkan kembali atau tidaknya.
Ia hanya lah seorang kader partai atau yang disebut oleh Ketua umum PDI-P Megawati Soekarno Putri sebagai ‘petugas partai’ yang berhasil merebut hati rakyat. Popularitasnya tidak didasari atas Jam terbangnya sebagai pengurus partai di tingkat nasional. Tetapi lahir dari rahim cinta masyarakat karna dianggap sebagai tokoh yang mampu memperjuangkan kepentingan rakyat dan memiliki karakter pribadi yang mudah bergaul dengan rakyat.

Mengintip Kemenangan Jokowi di tahun 2014

Heboh, bermusuhan, bersikeras suara hingga diperjudikan dalam memprediksikan pemenang kekuasaan di negeri ini pada waktu itu. Tongkrongan-tongkrongan kopi hingga keluarga satu rumah pun ikut heboh saling mendukung dan meramalkan bahwa jagoan-jagoan masing-masing mereka akan memenangkan pemilihan presiden di tahun tersebut. Antara pasangan Jokowi-Jk melawan Prabowo-Hatta. Rakyat sudah terpancing di kala itu, sudah tidak lagi memikirkan ide-ide atau gagasan-gagasan yang menjadi dasar pencalonan para calon tersebut—untuk menyelesaikan permasalahan bangsa ini—namun lebih kepada siapa yang populer dan merakyat, itulah yang ideal untuk menjadi pemimpin bangsa ini. Mungkin paradigma ini lahir karna selama ini—politisi terlalu elitis dipandang oleh masyarakat.

Namun Jokowi hadir sebagai calon pemimpin merakyat dan sederhana—di tengah-tengah kondisi masyarakat yang Mis-kepercayaan kepada elit politik di negeri ini.

Dilansir oleh majalah tempo edisi 14-20 Juli 2014, mengenai perihal salah satu strategi presiden Jokowi memenangi kekuasaan menjadi orang nomor satu di negeri ini—jika dalam militer, dikenal dengan istilah ‘flanking strategy’, —menyerang secara masif dari sayap, tak lagi dari tengah. Hal ini di ungkapkan oleh Andi Widiajanto selaku sekretaris tim pemenangan dan mantan dosen ilmu pertahanan di Universitas Indonesia.
Strategi ini dilancarkan melalui akun-akun media sosial para artis-artis yang tergabung dalam tim relawan pemenangan Jokowi-JK. Artis-artis tersebut mulai dari penyanyi, pemain film hingga sutradara. Mereka di minta untuk ikut berpartisipasi menyuarakan pilihan mereka di akun Twitter dan facebook.
Ada tagar khas yang di rancang untuk dipakai serentak oleh para artis tersebut agar menular ke penggemar mereka. Idenya begini: #AkhirnyaMilihJokowi Mereka bersepakat mempopulerkan tagar pada 3 Juli secara serentak pukul 12.00 WIB.

Keterusterangan pernyataan pilihan politik mereka ini berhasil membuat pengikut mereka untuk mempopulerkan hal yang sama. Bahkan selama 12 jam, tagar itu dicuitkan 90 ribu kali hingga menjadi trending topic dan membawa imbas kepada elektabilatas presiden Jokowi. Padahal mereka sebenarnya artis-artis yang tak pernah mau berbicara persoalan politik secara terang-terangan.

Setelah membuat tagar ini di media sosial, berlanjut ke konser salam dua jari, sebagai pengingat nomor urut Jokowi-JK—di Gelora Bung Karno di waktu itu. Konser tersebut digagas oleh Abdee Negara, gitaris Slank—menghadirkan 100 penyanyi dan dibanjiri lebih dari 100 ribu orang—semua artis yang tampil di acara ini tidak dibayar sama sekali. Pada waktu yang bersamaan presiden Jokowi di promosikan kepada publik—Tanpa bendera partai dan atribut organisasi, artinya adalah menunjukkan ia calon presiden yang didukung oleh rakyat—secara sukarela. Lalu mari kita ajukan pertanyaan kembali apakah presiden Jokowi melakukan hal yang serupa ditahun 2019 yang akan datang untuk mengambil hati rakyat kembali? Atau apakah Presiden Jokowi sudah ditimpa Kegalauan di tahun politik saat ini?

Presiden Jokowi Memanah; Rakyat atau Partai

Di atas ada ungkapan yang berkalimat—kami ingin memberikan pembelajaran politik. Kepada siapakah ditujukan kalimat itu. Pernyataan itu tidak dapat ditarik lagi agar hilang dari permukaan sebab itu sudah termuat dalam berita publik di majalah tempo (8-14/01/18).

Jika disiasati pernyataan kalimat itu ditujukan kepada presiden Jokowi, betapa galaunya presiden tersebut. Memang akhir-akhir ini presiden Jokowi begitu gencar-gencarnya mencari dukungan partai agar bisa mencalon kembali di tahun 2019. Namun PDI-P belum kunjung mendeklarasikannya, lantas partai manakah yang akan bersama presiden Jokowi mendayung di tahun 2019 akan datang untuk mempertahankan kekuasaannya? Apakah PDI-P masih akan mendayungkannya? Atau tidak ikut serta mendayungkannya lagi? Sulit untuk mendapatkan kepastian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya, dalam politik kita sering mendengarkan ungkapan—tidak ada lawan abadi atau kawan abadi yang ada hanya kepentingan abadi. Ketika kepentingan sama maka mereka berkawan dan ketika kepentingannya berbeda maka mereka menjadi lawan—hingga di sini berlakulah adagium—to kill or to be killed—membunuh atau dibunuh.

Sebenarnya, jikalau memang presiden Jokowi ingin kembali mencalon, alangkah baiknya ia melaksanakan apa yang di inginkan oleh masyarakat, karna ia dari dasar mendapatkan dukungan dari masyarakat. Jika presiden bisa memanah hati rakyat kembali seperti semula ia tidak akan galau, karna partai pasti akan mendekatkan diri. Yang ditakutkan dari gerakan-gerakan politik presiden sekarang adalah ia tidak dicintai rakyat lagi—jika ini terjadi partai pun tidak akan ingin mencalonkannya lagi menjadi presiden di tahun 2019 nanti. Sebab partai yang mencalonkannya menumpang untuk ikut naik elektabilitasnya. Tidak semudah itu partai menaikan seseorang yang bukan siapa-siapa di partai di naikan begitu saja. Pasti saling memanfaatkan dan saling menguntungkan satu sama lain. Dalam kamus perpolitikan—tidak ada makan siang gratis—jadi kalau Jokowi tidak bisa mendongkrak elektabilitas partai, Jokowi tidak akan di usung menjadi presiden di pencalonan akan datang. Jangan panah partai tapi panahlah hati rakyat dengan kejujuran.

KOMENTAR

About The Author