Select Page

Belajar Demokrasi Di Masyarakat | Headline Bogor

Belajar Demokrasi Di Masyarakat | Headline Bogor

Oleh : Aldi Cikal Yudawan

Malam tadi, saya ketitipan Kabul untuk menyampaikan kisahnya. Sebuah kisah yang lumrah, biasa terjadi di masyarakat. Masyarakat yang katanya berada pada tatanan bawah.

“Saya tidak mengerti maksud tatanan bawah.” Kata Kabul. “Kalau memandangnya dari kacamata pejabat, entah RT/RW, Kelurahan/Desa, Kota/Kabupaten, Provinsi, bahkan tingkat parlemen dan kabinet, memang rakyat sengaja ditempatkan di bawah.” Protesnya.

“Akan tetapi, jika kita menggunakan kacamata rakyat yang selalu lugu, polos, bahkan berjiwa besar, dan sesuai azas demokrasi, maka sebenarnya rakyatlah yang paling tinggi.” Lanjutnya.

“Rakyatlah pemegang kekuasaan itu. Rakyat berkehendak. Rakyat yang punya uang dan donatur utama berlangsungnya negara.”

“Rakyat yang seharusnya ingin ini, ingin itu. Rakyat punya hak penuh atas kedaulatan dirinya dalam posisi bernegara.”

“Bahkan, bisa saja rakyat tidak butuh negara. Negaralah yang butuh rakyat. Kalau negara tidak disumbang negara, maka kiamat sughralah negara tersebut.” Begitu kata Kabul menutup sesi prolog obrolannya.

Setelah menyeruput kopi, dia kembali bicara. “Sebenarnya malam ini saya kepingin cerita. Cerita tentang peristiwa yang saya alami di masyarakat belakangan ini. Peristiwa yang membuat saya banyak belajar kepada masyarakat tentang arti sebuah kemerdekaan.”

“Suatu malam saya mendengar sayup-sayup terdengar pengumuman dari speaker mushola. Isinya sebuah pengumuman bahwa akan diadakan pemilihan ketua RT baru. Saya mendadak kaget dan bertanya ke tetangga, ‘Apakah sebelumnya ada pemberitahuan bahwa akan diadakan pemilihan ketua RT?’ Mereka menjawab belum ada. Saya keheranan dan bertanya kepada tetangga yang lain.”

“Jawaban yang saya dapati sama. Mereka sama-sama tidak mengetahui. “Kalau tidak mengetahui dari Kang Kabul’, kata mereka, ‘Mungkin kami tidak tahu apa-apa.’ Saya bertambah kaget dan penasaran ingin mendatangi lokasi pemiliham tersebut.”

“Di lokasi, saya menemukan banyak wajah yang sudah saya kenali. Termasuk guru ngaji saya dahulu. Ada juga kawan bermain saya sewaktu kecil. Juga tentu saja ada Pak RT yang lama dan masih menjabat.”

“Pembicaraan diawali oleh tuan rumah yang ternyata berlaku juga sebagai pemimpin forum malam itu. Beliau sangat halus tutur katanya sehingga warga dengan seirama memberikan anggukan kepala manakala beliau selesai satu kalimat.”

“Yang saya kemudian herankan adalah ternyata pemimpin forum itu langsung menunjuk satu per satu yang ada di forum itu untuk menjadi RT. Anda bisa bayangkan, semua serba dadakan. Anda tidak tahu perjalanan persiapan forum itu, lalu tiba-tiba saat anda datang langsung ditunjuk jadi RT. Kaget? Jelas. Tapi itu katanya sudah biasa di forum RT tersebut.”

“Ternyata tidak ada yang mau mencalonkan diri. Maaf, lebih tepatnya saat ditanyai satu per satu. Hingga akhirnya pemimpin forum mengarahkan pertanyaan yang sama kepada ketua RT yang merupakan petahana. Alhamdulillah beliau siap kembali menjadi RT.”

“Saya belum senang. Saya masih heran. Mengapa tidak ada pertanyaan lagi kepada para peserta forum untuk mengikuti kesepakatan yang dibuat?”

Lalu apa peranmu di forum, Bul?

“Saya belum bisa ceritakan di sini. Yang saya bisa ceritakan di awal ini adalah betapa gelagapannya saya saat mengikuti forum tersebut dari awal. Apalagi saya semakin kaget, saat masyarakat memang banyak yang hadir. Jumlahnya lebih banyak dari rapat-rapat sebelumnya. Tapi mereka tidak diberikan kesempatan bicara.”

Kabul seruput kopinya lagi. “Saya sedang belajar berdemokrasi di masyarakat.” Ketusnya. “Itu baru bahasan kerangkanya.”

Buset!

Gandok, 1 Januari 2018
Selamat tahun baru, Pak RT (baru).

KOMENTAR