Select Page

Advertisement

GMKI DAN SOCIAL ENTERPRISE | Headline Bogor

GMKI DAN SOCIAL ENTERPRISE | Headline Bogor

Kehidupan masyakarat saat ini mulai mengalami perubahan. Dulu kita melihat banyak orang bekerja, bangun pagi, berangkat kantor, mengerjakan laporan, mencapai target perusahaan hingga mendapatkan gaji untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Orang bekerja untuk mengikuti tujuan perusahaan, mencapai keuntungan sebanyak-banyaknya. Hal seperti ini adalah suatu hal lumrah apalagi ditengah arus teknologi, informasi dan keuangan yang terus bergerak cepat, karyawan dituntut lebih giat, agar perusahaan tidak mati oleh jaman. Karyawan di sibukkan dengan tugas-tugas kantor, harus mengikuti rapat direksi, mengurus pajak dan lain-lain. Sehingga terkadang sangking sibuknya nilai-nilai sosial bermasyarakat belum diperhatikan penuh. Dalam iklim perusahaan pasti tidak jauh dari prinsip meminimalisir pengeluran tapi bisa menambah pemasukan.

Saat ini mulai berkembang dengan nama social enterprise. Ada yang tau ? social enterprise (se) adalah kewirausahaan sosial yang bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat dan bukan semata-mata untuk menghimpun kekayaan sebanyak-banyaknya. Perkembangan social enterprise cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, ditandai dengan menjamurnya di setiap kota dengan bidang-bidang yang berbeda. Pelaku atau orang yang melakukan social enterprise biasanya disebut dengan social entrepreneur atau sociopreneur. Prinsip social enterprise dilihat berdasarkan dari seberapa besar jumlah penerima yang ditimbulkan/terkena dampak dari kegiatan dan tidak hanya dilihat dari jumlah uang yang dihimpun. Apalagi hal ini didukung pemerintah dibawah koordinasi Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementrian Komunikasi dan Informasi dengan membuat Gerakan 1000 Startup Digital. Anak muda saat ini mulai menggandrungi bekerja di SE karena mereka akan mendapatkan dua hal, bekerja sambil mengkampanyekan isu-isu sosial.

Indonesia sebagai Negara besar dengan segudang permasalahannya, sebenarnya bisa melahirkan sangat banyak social enterprise. Karena ide awal berdirinya dimulai dari keresahan dalam melihat lingkungan sekitar. Dalam isu lingkungan kita bisa mengenal Greenpeace, Waste 4 Change, Angkuts. Dalam bidang politik ada Amnesty International. Dalam bidang pendidikan ada Terminal Hujan, RuangGuru dan masih banyak lagi. Bahkan untuk membantu orang yang membutuhkan orang tak perlu mengunjunginya, bisa berdonasi di KitaBisa.Com, Aksi Cepat Tanggap dan lain-lain. Dengan menggunakan sistem kerelawanan banyak orang yang ingin terlibat didalamnya. Karena menyangkut nilai-nilai sosial, pasti setiap orang mau melakukannya. Membantu orang lain bukan karena lebih berkecukupan, pendapatan banyak tapi karena mereka (yang membutuhkan) adalah saudara dalam kemanusiaan.

Hal yang membuat social enterprise (se) bertahan karena ia focus dengan bidang yang digelutinya, semakin banyak dampak semakin bermanfaat kehadirannya. Ini berbeda dengan perusahaan, walaupun memiliki suatu divisi/struktur, CSR (Corporate Social Responsibility) cenderung bersifat seremonial, agar perusahaan terus bisa dikenal publik, menghilangkan citra dengan mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Dalam perjalanannya social enterprise merubah bentuknya menjadi perusahaan atau yayasan yang sifatnya memiliki badan hukum. Hal ini dibuat agar mudah untuk diterima oleh donator-donatur seperti perusahaan, pemerintah, filantropi. Karena dalam prinsipnya donator akan memberikan dana apabila lembaga sudah berbadan hukum.

Namun ada catatan yang perlu dicermati dengan sistem kerelawanan dalam social enterprise yaitu kurangnya kekuatan basis masa/orang dalam mengikuti kegiatan. Sistem kerelawalan membuat orang bisa masuk dan keluar kapan saja, karena tidak ada hubungan yang mengikat. Kemudian belum banyak setiap social enterprise yang memiliki jaringan dibeberapa daerah. Kalaupun ada namun sifatnya seagai mitra karena bidang yang sama bukan nama (se-nya) yang sama. Bicara basis masa organ kemahasiswaan ekstra kampus sangat banyak, salah satunya Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI).

GMKI merupakan organ mahasiswa ekstra kampus yang menitikberatkan pada tiga medan pelayanan yaitu masyarakat, gereja, dan perguruan tinggi. Dalam perjalanan GMKI di beberapa cabang kegiatan sosial, diskusi pasti mengangat isu local yang menjadi keresahannya. Hasil kajian-kajian yang dibuat menjadi bahan audiensi dengan pimpinan kepala daerah. GMKI sebagai mitra kritis pemerintah tidak bisa menjadi social enterprise (se) karena GMKI dalam melakukan tugas layanan tidak diajarkan berbisnis, namun terus bersosial.
Menjadi berkat bagi sesama. Inilah yang menjadi nilai tambah. Walaupun dalam Kongres 2016 di Tarutung yang ada pembahasan ingin menjadikan GMKI berbadan hukum. GMKI memiliki badan hukum hanya akan membantu dirinya untuk menggalang dana donator tapi tidak menjadikan dirinya social enterprise. Kalau GMKI menjadi social enterprise maka orang yang jadi pengurus bukan berdasarkan panggilan tapi uang.

Ada opsi atau alternatif yaitu dengan meminta setiap cabang membuat yayasan. Ada beberapa cabang yang sudah memiliki yayasan, setiap yayasan berbadan hukum. Dari yayasan inilah yang menjadi legal standing untuk membentuk komunitas. Nanti GMKI sebagai penggerak komunitas yang dibuat dan menjadi program kerja cabang. Bicara tentang bidang apa yang akan dikerjakan komunitas tersebut, maka itu terkait di cabangnya masing-masing biasanya hasil Konferensi Studi Lokal (KSL) dapat menjadi rujukan karena mengangkat keresahan-keresahan di daerah.

Sarindan
AKTIVIS GMKI

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *