Select Page

Menggerakkan Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh Sebagai Bahasa Persatuan | Headline Bogor

Menggerakkan Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh Sebagai Bahasa Persatuan | Headline Bogor

Indonesia adalah negeri yang sangat kaya. Memiliki tanah yang subur, banyak tanaman dapat tumbuh di dalamnya. Sangking suburnya band legendaris Koes Plus dalam bait lagunya mengatakan “tongkat kayu dan batu jadi tanaman”. Kekayaan Indonesia tidak hanya pada hasil alamnya saja, tetapi juga pada ragam suku, bahasa, agama, kepercayaan, dan adat istiadat. Indonesia memiliki jumlah suku dan bangsa yang sangat banyak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 mengatakan terdapat 1.211 bahasa daerah, 300 kelompok etnis, dan 1.340 suku bangsa di Indonesia. Sungguh karunia yang sangat luar biasa yang diberikan Sang Pencipta.

Kekayaan suku dan bangsa memiliki dua makna, dapat memberikan keuntungan maupun kerugian bagi bangsa Indonesia sendiri. Perbedaan yang ada harus dimanfaatkan dengan baik. Tidak boleh ada yang mengatakan suku dan bangsa mana yang paling kuat, yang paling layak memimpin negeri, yang paling tinggi begitu juga sebaliknya. Semuanya sama, sederajat. Setiap daerah harus menjunjung perbedaan agar setiap masyarakat didalamnya mampu hidup aman, tentram, dan nyaman. Salah satunya di Provinsi Jawa Barat.

Dalam rilis yang dimuat oleh Setara Institute bulan November 2017 terdapat 2 kota di Provinsi Jawa Barat yang termasuk kota paling intoleran yaitu pada Kota Bogor dan Kota Depok. Di Kota Bogor bisa kita lihat perijinan rumah ibadah GKI Yasmin sampai saat ini belum terselesaikan, kemudian perijinan pendirian tiga rumah ibadah (Gereja Katolik, Gereja HKBP, dan Gereja Methodist) di Parung serta di Kota Depok terdapat penyegelan Masjid Ahmadiyah. Hal ini membuat Provinsi Jawa Barat kehilangan wibawanya. Dari segi kultur masyarakat Sunda sebenarnya sangat ramah, terbuka terhadap masyarakat pendatang. Namun mengapa hal ini dapat terjadi ?. Ini di akibatkan karena sudah mulai lunturnya nilai-nilai budaya kehidupan dalam bermasyarakat sehingga digunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab dengan menggunakan perbedaan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Masyarakat perlu diberikan pendidikan agar tidak mudah terprovokasi. Pendidikan ialah sebagai cara untuk melihat dunia yang luas, dunia yang tingkat perbedaan, keberagamannya tinggi.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, maka sebagai orang Indonesia harus sadar akan tanggung jawabnya sebagai Warga Negara Indonesia. Masyarakat Indonesia harus berperan aktif dalam meghadapi tantangan dengan memberikan ide dan gagasan baru dengan cara yang kreatif. Kesadaran yang semakin tinggi ini perlu supaya orang Indonesia yang beragama dapat juga hadir terlibat dalam membangun NKRI, khususnya generasi muda yang merupakan penerus bangsa dan Negara Indonesia. Sejarah telah membuktikan bahwa generasi muda berperan aktif dalam rangkaian merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, itulah sebabnya generasi muda harus ditempatkan di garda terdepan sebagai pengawal dinamika kehidupan berbangsa, bernegara, beragama, bermasyarakat, dan berbudaya.

Pemuda perlu menyadari bahwa mereka hidup dengan segala tantangan yang harus di hadapi. Salah satu menghadapinya yaitu dengan menggali sejarah bangsa Indonesia, bagaimana bangsa berdiri, fondasi apa yang dibuat sehingga sampai saat ini dapat berdiri kokoh ?. Menggali sejarah bangsa Indonesia tak lepas dari nilai-nilai kedaerahan (tradisonal) yang hidup lebih dahulu dari negara Indonesia. Dalam Bumi Pasundan terdapat suatu falsafah yang terus dihidupi oleh masyarakat Sunda, yaitu Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Falfasah inilah yang digunakan masyarakat Sunda sebagai suatu alat politik sehingga sampai saat ini terus digunakan dan tak lekang oleh waktu atau mengalami kontekstualisasi. Keutamaan dari falsafah silih asah, silih asih, dan silih asuh merupakan suatu sikap, nilai dan hidup rukun yang harus dijiwai oleh masyarakat dalam menjalankan kehidupannya demi terwujudnya masyarakat yang kuat, cerdas, dan saling menebar cinta kasih sesamanya.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, silih memiliki arti saling, ganti, tukar. Silih asah memberi arti saling memberi pengetahuan. Baik dalam saling mengingatkan serta saling membangun kesadaran antar sesama untuk menimba ilmu pengetahuan dan membangun kepribadian yang tangguh. Dengan ilmu pengetahuan membawa masyarakat Sunda untuk cerdas, cerdas dalam pola pikir, cerdas dalam bertingkah laku, cerdas dalam sikap. Ilmu pengetahuan membuka jendela informasi yang saat ini terus berkembang sehingga diharapkan masyarakat Sunda mampu sebagai pembawa arah / arus bangsa dan negara Indonesia menuju cita-cita yang harus dicapai. Kehadiran silih asah sebagai bahasa persatuan dengan membuka pikiran, mendekatkan diri dengan pendidikan, dengan ilmu-ilmu, dengan pandangan-pandangan yang membuat masyarakat berfikir bahwa dunia ini penuh dengan keberagaman dan harus hidup secara bersamaan tanpa memandang latar belakang. Semangat silih asah melahirkan etos dan memperkaya khazanah keilmuan sebagai upaya untuk menciptakan otonomi dan kedisiplinan sehingga tidak mudah tergantung dengan orang lain, karena dengan ketergantungan mempermudah masyarakat untuk tertindas dan terjajah serta mengajak untuk mengikuti paham-paham diskriminasi, intoleransi yang tidak sesuai dengan hati nuraninya.

Tradisi silih asah menjadi penghubung antara ilmu pengetahuan dengan dimensi etis sehingga ilmu pengetahuan bukan alat penindasan yang angkuh tetapi ilmu pengetahuan akan menjelma menjadi anggun yang akan membebaskan dan mengangkat derajat masyarakat dari keterbelakangan.
Silih asih berarti saling menebar cinta kasih atau rasa saling menyayangi. Silih asih merupakan wujud komunikasi dan interaksi antara manusia dengan Tuhan yang menekankan pada cinta kasih Tuhan terhadap sesama manusia. Semangat silih asih merupakan semangat yang tertancap kuat prinsip keTuhanan dan kemanusiaan. Dengan budaya silih asih terjadi keharmonisan, ketentraman, dan keamanan antar umat masyarakat sehingga dalam berkehidupan tidak adanya kelas sosial, semua manusia tidak ada yang dianggap sempurna dan tidak ada manusia yang seluruhnya dicela. Silih asih sebagai falsafah yang nilainya spiritualistik, bagaimana manusia hidup mampu berdampingan dengan sekitar dan sesama ciptaan yang tumbuh dari pendalaman iman dengan Tuhan. Tradisi silih asih sangat berperan dalam menyegarkan kembali manusia dari keterasingan dirinya dalam masyarakat sehingga citra dirinya terangkat dan menemukan ketenangan. Karena dengan kesendirian masyarakat cenderung mengalami kegelisahan, kebingungan, penderitaan, dan ketegangan etis serta mendesak manusia untuk melakukan pelanggaran hak dan tanggung jawab sosial. Silih asih mengajak masyarakat Sunda untuk mensyukuri alam dan sumber daya didalamnya untuk digunakan secukupnya serta menjaga kelestarian agar alam tidak bersabda untuk mengembalikan keseimbangan bumi. Dengan adanya silih asih menjauhkan masyarakat dari tindakan-tindakan anarkis.

Silih asuh memiliki arti saling menjaga atau memelihara. Silih asuh sebagai alat komunikasi dalam masyarakat Sunda untuk saling mengingatkan, memberikan teguran, memberikan masukkan, saran, dan pendapat sehingga ikatan emosinal sesama masyarakat, ada ikatan batin yang menganggap bahwa dirinya diperhatikan dengan sesamanya. Silih asih berbicara bukan “saya”, “dia”, dan “mereka” tetapi “kita”. Kita ini adalah kesatuan masyarakat Sunda yang akan terus ada. Budaya silih asuh merupakan penjaga ketika dalam penerapan silih asah dan silih asih sedang berjalan. Ada nilai-nilai luhur yang harus tetap dijalankan walaupun kehidupan terus berkembang ke arah modern. Disinilah letak silih asuh sebagai mengingatkan akan norma-norma/nilai-nilai agar tidak hilang dan terus terjaga dan diteruskan terhadap generasi berikutnya.

Bila di lihat secara seksama falsafah Silih Asah, Silih Asih dan Silih Asuh dalam masyarakat Sunda sangat kental akan nilai-nilai spritualitas, keharmonisan, dan ketentraman. Nilai-nilai inilah yang seharusnya hidup sampai sekarang bukan berkembang nilai-nilai intoleransi yang digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Cara memulainya yaitu dengan mendorong hadirnya pendidikan yang berkebudayaan. Agar budaya yang dimiliki bangsa Indonesia tidak hilang yang apabila ditelaah secara dalam bahwa budaya lokal mampu sebagai fondasi yang kuat untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan yang saat ini mulai hilang. Mendorong pemuda untuk terlibat aktif dalam kesenian serta memberikan fasilitas seluas-luasnya agar ada kesempatan untuk berekspresi. Serta mengajak setiap masyarakat untuk mempelajari dan memahami budaya lain, karena budaya lain memiliki ciri khasnya masing-masing. Ada ruang-ruang yang bisa dijelaskan dengan jelas dan memberitahukan bagian-bagian yang tidak boleh/dilarang. Proses memberitahukan ini semakin menambah wawasan sehingga terjadi suatu pemaknaan yang sungguh luar biasa.

Provinsi Jawa Barat sebagai salah satu provinsi terbesar di Indonesia mengundang banyak pendatang untuk mengadu nasib, meneruskan generasi, menimba ilmu. Kehadiran masyarakat dan pendatang yang berasal dari latar belakang berbeda adalah sebuah tantangan baru, walaupun disatu sisi mampu membantu perekonomian yang mampu melahirkan kota-kota besar. Arus urbanisasi tidak bisa dibendung sehingga budaya pendatang juga mampu mempengaruhi budaya yang sudah ada. Dengan kehadiran pendatang ini sebenarnya bisa menjadi suatu cara untuk melakukan penyebaran falsafah Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh. Ada peribahasa yang sering didengar “dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung”. Yang memiliki makna bahwa dimana orang berada, dimana punya tempat tinggal maka disitulah masyarakat pendatang harus mengikuti budaya setempat (akulturasi). Dalam proses menerima antara masyarakat setempat dengan pendatang maka perlunya dialog yang intens sehingga tidak menimbulkan kecurigaan.

Saat ini sering sekali kita mendengar “Jaman Now”. Jaman dimana banyak anak-anak dekat dengan teknologi, informasi, dan komunikasi. Teknologi yang terus berkembang membuat generasi mulai antipasti terhadap perkembangan sekitar, kemiskinan, kesemrawutan, banyak yang berproses di organisasi secara instan sehingga menimbulkan generasi yang kurang berkarakter, bermartabat. Namun kita tidak bisa juga menghentikan laju teknologi. Dengan adanya teknologi budaya-budaya lokal mengalami tantangan berat. Hal ini bisa dimanfaatkan dengan membuat budaya-budaya lokal dalam sebuah aplikasi yang mampu di instal dalam Apple Store dan Play Store. Atau bisa membuat game online dengan mengangkat budaya-budaya lokal, dengan membuat karakter tokoh Cepot , Pandawa, Hanoman, Arjuna dll. Budaya tidak boleh hilang tetapi mengalami kontestualisasi.

KOMENTAR

About The Author