Select Page

Menjadi Pendidik Yang Rendah Hati | Headline Bogor

Menjadi Pendidik Yang Rendah Hati | Headline Bogor

Sebuah Penghormatan
Sudah hari guru lagi. Tanggal 25 november 2017 lalu. Serasa baru kemarin, Bu Nani menegur saya di kelas satu Sekolah Dasar (SD). Sepertinya baru kemarin, Bu Sinaga mengeluarkan saya dari dalam kelas saat belajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Nampak baru tadi, Pak Dedi memberi nasihat kepada kami saat mengajarkan konsep kimia dan fisika agar bermanfaat dalam kehidupan, di Sekolah Menengah Atas (SMA). Dan seperti baru saja Bu Surti membimbing saya dengan dalam menyelesaikan skripsi.
Kenapa nama-nama itu yang tersebut? Apakah hanya mereka yang bisa diingat? Apa yang membuat mereka sulit dilupakan sebagai guru, atau lebih tepatnya pendidik?
Begini, setiap orang pasti memiliki kenangan di masa lalu saat menjadi peserta didik. Begitu pula dengan saya. Biasanya, setiap peristiwa yang mudah dikenang adalah sesuatu yang membahagiakan atau sebaliknya. Sesuatu yang biasa-biasa, biasanya hanya berlalu begitu saja. Nah, nama-nama di atas tersebut adalah yang membuat kenangan dalam benak saya. Bukan berarti nama-nama guru yang lain tidak. Hanya saja tempat yang tersedia dalam tulisan ini membuat mereka ditempatkan dalam tulisan lian. Sebagai murid, izinkan saya memberikan penghormatan dengan menceritakan hal apa yang mereka lakukan sehingga sulit untuk dilupakan.

Sekilas Kenangan
Setiap orang mungkin sepakat jika sekolah adalah salah satu tempat bermain. Apalagi saat SD. Saat menjadi peserta didik di sekolah, tak seru jika tidak bermain. Mau main di lapangan, di taman sekolah, di kantin, bahkan di dalam kelas saat sedang proses pembelajaran. Biasanya, hampir semua guru kehabisan ide untuk mengendalikan anak yang terus bergerak di dalam kelas seperti saya dulu. Kemudian Bu Nani muncul sebagai salah satu solusinya.
Beliau adalah guru kelas satu. Jika murid-murid sedang ribut, beliau dengan sabar menghentikan sejenak pembelajaran. Beliau berjalan mendatangi peserta didik yang mengganggu temannya. Dengan penuh kelembutan, beliau merendahkan posisinya menjadi sejajar dengan peserta didik lalu bertanya, Aldi, kamu bisa duduk, sayang? Peserta didik tersebut mengangguk. Kalau kamu terus mengganggu teman yang mau belajar, kasihan mereka. Bagaimana mereka bisa belajar? Nanti mereka tidak mendapatkan ilmu saat pulang ke rumah. Peserta didik itu menurut.

Berbeda dengan Bu Sinaga. Beliau sangat disiplin. Pada awal pertemuan dalam pembelajaran dikelas, beliau menawarkan semacam kontrak pembelajaran. Salah satu klausulnya berbunyi bahwa jika terlambat masuk setelah beliau berada di dalam kelas, maka setiap peserta didik harus menerima konsekuensi belajar tambahan selepas pulang sekolah. Jika beliau yang terlambat masuk, peserta didik boleh free time.

Lain halnya denga Pak Dedi. Dalam membelajarkan anak didiknya agar memahami konsep fisika dan kimia, Pak Dedi selalu menyatakan bahwa janganlah mempelajari satu hal tanpa keseriusan. Pelajarilah semua hal, karena sudah pasti setiap hal yang dipelajari akan berguna bagi kehidupan. Dalam belajar kimia, kami sering diajarkan praktek langsung membuat sesuatu. Misalnya, kami diajari konsep pembuatan sabun, pewangi, dan bumbu-bumbu makanan. Dalam pelajaran fisika, kami selalu diajak “melakukan sendiri dan langsung apa yang dipelajari. Tidak hanya teoritis seperti membaca, menulis, dan mendengarkan. Tapi juga mengaplikasikan, menganalisis, dan menciptakan sesuatu. Sungguh sangat menyenangkan.

Puncaknya, saat bimbingan skripsi dengan Bu Surti. Beliau adalah calon guru besar. Saya begitu menemukan hal yang sangat aneh dan sempat terkejut dengan pernyataan beliau tentang dunia ilmiah. Termasuk tentang dunia pendidikan. Beliau menyatakan bahwa semua dalam dunia ilmiah sangat relatif dan dinamis. Bisa jadi yang sekarang bisa dibuktikan ilmiah dan diterima sebagai sebuah kebenaran, beberapa tahun ke depan tidak menjadi sesuatu yang benar lagi.
Menurutnya, kita tidak boleh tertutup dengan pengetahuan dan ilmu baru. Maka jika ada mahapeserta didik atau peserta didik di kemudian hari saat saya jadi guru, yang menawarkan hal-hal baru yang ilmiah, hendaknya diapresiasi dan difasilitasi agar bisa mengembangkan diri. Hal itu dikarenakan kita sebagai manusia atau nanti sebagai guru sangat memiliki keterbatasan.

Sikap Rendah Hati
Saya jadi ingat dialog Iqbal Aji Daryono dengan Hayun soal dinosaurus. Dialog seorang Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Australia dengan anaknya yang masih SD di Melbourne Museum.
“Jadi bentuknya dinosaurus tuh seperti ini, Pak,” kata Hayun.
Hayun mengucapkannya sambil menunjukkan beberapa patung binatang masa lalu tersebut. “Tapi it can be right, it can be wrong.” Bisa benar, bisa salah, katanya.
Lho, siapa yang bilang begitu? Iqbal bertanya.
“Ya guruku, Mrs. Alison,” jawab Hayun. “Bentuk yang ini bisa benar, bisa salah. Soalnya hewan-hewan ini sudah nggak ada yang hidup lagi, dan scientist cuma guessing aja pakai tulang-tulang.”
Iqbal langsung terkesan dengan jawaban itu. Iqbal lebih terkesan dengan penjelasan guru sekolah Hayun. Murid kelas satu SD sudah diberi bonus keterangan, bahwa apa yang dipaparkan guru mereka adalah hal yang relatif, sekaligus rapuh. Bisa benar, namun bisa juga salah. Entah, apakah itu memang metode pengajaran standar di Australia, ataukah cuma karena gurunya Hayun saja yang kebetulan luar biasa.

Dalam pendidikan, hal ini kita kenal dengan istilah pedagogik. Pedegogik merupakan ciri khas seorang guru. Sebuah kompetensi yang tidak dimiliki oleh profesi lain. Kompetensi pedagogik ini mencakup pemahaman guru terhadap peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Ditunjang dengan kompetensi lainnya, yaitu kepribadian, sosial, dan profesional. Ragam kompetensi itu bukan hal yang tiba-tiba muncul, melainkan melalui upaya belajar terus menerus tanpa kenal lelah. Kompetensi itulah yang Bu Nani, Bu Sinaga, Pak Desi, dan Mrs. Alison, guru Hayun itu terapkan dalam mendidik.
Dari percakapan di atas, kita sebagai guru juga mestinya mengerti bahwa guru bukanlah sebuah kebenaran tunggal di kelas. Guru tidak boleh merasa bahwa apa yang disampaikannya adalah mutlak apalagi harus dipaksakan kepada peserta didik. Sekalipun yang disampaikan sesuai menurut teori di buku. Guru juga bisa keliru, apalagi peserta didik.

Jika yang diajarkan hanya sesuai dengan buku, maka apa bedanya dengan copy kemudian paste? Anak-anak sekarang juga tinggal browsing saja di internet. Itu berarti, pendidik yang dibutuhkan hari ini harus lebih dari itu.

Jika kita hanya mengandalkan kemampuan yang sama seperti dulu kita diberi pendidikan, untuk memberi proses belajar kepada para peserta didik, maka bisa ditebak, peserta didik kita tidak berkembang secara maksimal sesuai dengan zamannya. Kita bisa jadi egois dengan menyamakan yang terjadi di masa lalu sehingga harus juga kita jadikan patokan mendidik anak-anak di masa ini. Kalau begitu, bukankah kita sudah membatasi kemerdekaan setiap peserta didik untuk belajar, untuk berkembang menjadi lebih dari diri kita sebagai peserta didik di masa lalu. Sedangkan kita tahu bahwa seharusnya kita mendidik anak kita sesuai dengan zamannya.

Pendidik hari ini, nampaknya perlu berendah hati. Merasa bahwa peserta didik adalah kawan utama dalam proses pembelajaran. Kawan yang akan membantu tercapainya tujuan belajar. Dengan rendah hati, kita sebagai guru bukan hanya memberikan pengetahuan, melainkan lebih tinggi dari itu, yaitu kebijaksanaan. Hal itulah yang tidak terdapat di google dalam situs apapun.

Monolog Seorang Pendidik
Akan tetapi, sebagai generasi produk dari masa lalu, kita selalu memberi indikator keberhasilan pendidikan anak-anak sama seperti indikator keberhasilan kita di masa lalu. Kita mati-matian menghafal rumus hingga hafal misalnya, kemudian kita paksa juga peserta didik kita melakukan hal yang sama. Setelah kita lulus dari dunia persekolahan, kita baru sadar bahwa rumus-rumus tersebut tidak berguna.

Kita sebagai pendidik terkadang asyik menyusun tujuan dan cara belajar sendiri sesuai yang kita inginkan untuk diterapkan kepada peserta didik. Manakala tujuan dan cara belajar tersebut tidak membuahkan hasil yang diharapkan, kita tumpahkan kekesalan kepada peserta didik. Kita anggap merekalah yang tidak bisa mengikuti dan menjalankan metode yang digunakan.
Kita tidak pernah ajak mereka berbincang barang sekali-dua kali untuk menentukan tujuan belajar apa yang hendak dicapai. Kita tidak pernah menyajikan pendidikan sesuai dengan yang mereka butuhkan. Kita anggap semua anak berkemampuan sama. Saat ada peserta didik menanyakan sesuatu, kita menghindar dengan mengalihkan topik. Kita tidak sadar bahwa itu memasung sikap kritis peserta didik. Sikap yang secara natural dibawa oleh generasi ini.

Saya sepakat dengan Eka Wardana yang menyatakan bahwa sikap kritis adalah sebuah pil pahit bagi tubuh yang sakit. Dalam bukunya berjudul Behind The School : OMG, Selama Ini Mengajarku Salah, Eka menyatakan bahwa sikap kritis merupakan sesuatu yang penting dalam proses belajar. Akan tetapi guru-guru terkadang tidak nyaman dengan hal itu. Eka menambahkan bahwa sikap kritis merupakan bukti antusiasme peserta didik dalam proses pembelajaran. Kalau kita hanya ingin didengar, diikuti, dan dilaksanakan perintah-perintah kita oleh peserta didik, apa itu bukan namanya monolog seorang pendidik. “Berbicara sendiri dalam pembelajaran dan itu sangat membosankan.

Mendidik Kids Zaman Now
Generasi yang sedang kita hadapi adalah mereka yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya. Para ahli menyebut mereka generasi Z. Generasi yang oleh Bill Gates disebut i-generation yang sudah akrab dengan teknologi. Genarasi yang belasan tahun mendatang akan mejadi pemimpin di negeri ini. Generasi yang hari ini kita sebut dengan kids zaman now.

“Kids zaman now” saat ini memiliki rentang usia antara 7-22 tahun. Secara demografis, merekalah yang saat ini sedang duduk di bangku sekolah mulai dari SD, SMP, SMA sampai pada perguruan tinggi. Tulisan Satriawan Salim dalam Harian Republika beberapa hari lalu yang menyebutkan bahwa mereka para “kids zaman now” bercita-cita memiliki “profesi” yang berbeda anak seusia kita dulu. Mereka dengan lantang mengatakan ingin menjadi menjadi youtuber, vloger, bloger, gamer, selebgram, influencer, komikus bahkan menjadi hacker, barista dan penambang bitcoin. Kenyataan ini memberi gambaran pada kita bahwa sebagai pendidik, kita harus mampu memfasilitas dan mendidik mereka sesuai dengan zamannya.

Mungkin memang sudah sejak lama kita telah dididik untuk bersikap fanatik buta terhadap segala sesuatu yang menurut banyak orang benar. Lalu kita anggap hal tersebut konstan dan tidak akan berubah. Padahal tidak. Itu relatif dan dinamis, apalagi tentang teori-teori dalam materi pembelajaran dan kondisi zaman. Ditambah lagi kita malas mencari dan mengembangkan diri.

Saya rasa cara mendidik itulah yang bisa dipelajari dari guru-guru yang memberi kenangan di atas. Dari Bu Nani, saya belajar kelembutan hati dan perilaku seorang pendidik. Dari Bu Sinaga, saya belajar kedisiplinan dalam membina diri sendiri khususnya dalam hal apapun, termasuk dalam belajar. Pak Dedi, mendidik agar sungguh-sungguh dalam hidup, memaknai setiap saat adalah proses belajar, dan dari apa yang dimaksudkan Bu Surti, baru sekarang saya sadari saat menghadapi peserta didik di dunia nyata bahwa sebagai pendidik, kita harus mampu bersikap terbuka dan mau terus belajar. Di atas itu semua, saya diajarkan agar terus rendah hati. Tidak merasa benar sendiri dan memaksakan yang saya yakini kepada orang lain. Sampai saat ini, mereka masih menjadi orang biasa, meski telah ribuan orang mereke buat jadi luar biasa.

Kids zaman now akan terus tumbuh dan berkembang. Dengan terus didampingi oleh pendidik yang rendah hati, mereka akan diantarkan pada rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa yang akan terus bergelora dalam menyelami ilmu Allah yang tidak terbatas, sekalipun lautan dan pepohonan dijadikan tinta untuk menuliskannya dan dikalikan tujuh kali lipat jumlahnya.
Mereka akan tumbuh menjadi generasi yang menganggap perbedaan adalah rahmat. Generasi yang mampu mengayomi masyarakat dunia sebagai rahmatan lil alamiin. Generasi yang bisa menggunakan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai sarana menjadi khoirunnas anfauhum linnas dan ahsani taqwim.

Akhirnya, semoga tulisan saya ini tidak dianggap semuanya benar. Dan rugi juga jika dianggap semuanya salah. Tabik.

Aldi Cikal Yudawan adalah guru sains yang senang menulis. Tercatat sebagai salah satu pendidik di Bogor. Kini, dia aktif juga sebagai pegiat gerakan literasi sekolah dan masyarakat. Tulisan-tulisannya bisa dibaca di laman facebook pribadinya : Aldiyudant Cikal. Bisa disapa melalui sms, telepon, dan WhattsApp di 085693192390 atau email aldiyudantcikal@gmail.com

KOMENTAR