Select Page

Peran Mahasiswa Dalam Menghadapi Isu Sara Di Pilpres 2019 | Headline Bogor

Peran Mahasiswa Dalam Menghadapi Isu Sara Di Pilpres 2019 | Headline Bogor

OPINI – Entitas keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia merupakan suatu anugerah yang telah Allah berikan kepada kita yang harus disyukuri dan dinikmati. Keberagaman suku, budaya, ras dan agama merupakan alat pemersatu dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dari nilai-nilai inilah lahir sebuah bangsa yang beradab. Bangsa yang memiliki kekayaan keberagaman yang disatukan oleh Pancasila dan Bhineka Tungga Ika.

Sudah 73 tahun republik ini merdeka dan sudah 7 kali pergantian pemimpin dalam mengawal dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Berbagai prestasi pembangunan baik ekonomi, politik, sosial dan budaya terus dilakukan demi menegakkan cita-cita luhur UUD 1945.

Tetapi sangat ironis rasanya jika kita melihat persaingan politik saat ini. Kesadaran berbangsa dan bernegara telah terkalahkan oleh kerakusan dalam mendapatkan kekuasaan. Jiwa negarawan telah pupus hilang digantikan oleh keserakahan. Fitnah, ujaran kebencian, mengadu domba, politik sara, hoax menjadi hal biasa di negeri ini demi memenuhi syahwat politiknya. Itulah dagelan yang dipertontonkan oleh oknum pemimpin kita saat ini. Tak heran pula jika segala cara akan dilakukan bahkan harga diri pun bisa tergadaikan.

Dan ditahun 2019 nanti adalah momen terpenting dalam merubah etika politik kita menjadi etik dan bermoral. Anak-anak muda, mahasiswa harus melibatkan diri dalam melawan isu-isu sara dengan terjun ke masyarakat mengajarkan politik etik, juga mengajarkan kesadaran berbangsa dan bernegara sehingga masyarakat cerdas dalam memilih dan menaggapi isu-isu politik. Penguatan kesadaran bersama melalui diskursus, seminar dan pertemuan-pertemuan lainnya baik dengan sesama mahasiswa, masyarakat, maupun dengan para politisi untuk melawan isu-isu sara. Dari kesadaran bersama inilah akan lahir sebuah etika moral politik yang akan membawa bangsa ini menjadi lebih beradab dalam berdemokrasi.

Selain itu kontrol sosial juga harus terus dilakukan oleh mahasiswa terutama kepada lembaga penegak hukum, bahwa isu-isu sara yang masuk dalam delik aduan seperti ujaran kebencian, fitnah, berita hoax dan lain sebagainya harus diproses secara hukum hal ini sesuai dengan Pasal 27 ayat (3) dan Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Bunyi Pasal 27 ayat (3) UU ITE adalah sebagai berikut:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik._

Sedangkan bunyi Pasal 28 ayat (2) UU ITE adalah sebagai berikut:

Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Persoalan perbedaan pilihan adalah hal biasa. Siapapun calon pemimpinnya harus kita hargai dan hormati, hilangkan kebencian utamakan persatuan dan persaudaraan.

Mari sama-sama tingkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara kita dalam menghadapi Pilpres nanti. Lawan isu sara, lawan politik tak bermoral. Semoga bangsa kita senantiasa Allah SWT persatukan dengan keberagaman dan perbedaan pilihan.

Penulis : Muhamad Arifin, Ketua BEM KM Universitas Djuanda Bogor.

KOMENTAR