Select Page

Refleksi Paskah di Tahun Politik | Headline Bogor

Refleksi Paskah di Tahun Politik | Headline Bogor

Yesus secara politik pernah mengalami kekalahan dengan proses demokrasi yang buruk, voting yang dilakukan Pontius Pilatus dihadapan massa yang berkerumun memutuskan Barnabas bebas dan status Yesus menjadi terdakwa.

Alkitab mencatat, Yesus selama kampanyenya di masyarakat pernah memberi makan 5 ribu orang, memberi pengobatan gratis, melayani masyarakat akar bawah bahkan Yesus punya kader/murid yang militan, harusnya dia bisa memenangkan ketika voting dilakukan.

Tapi kemana mereka semua ketika proses voting dilakukan?
Petrus contohnya salah satu murid yang Yesus kasihi bahkan menyangkalnya dihadapan publik, sebelumnya Yudas yang dipercaya sebagai bendahara menjadi silau akan uang, melalui tangannya proses pengadilan Yesus ini dilakukan dengan menjual Yesus, sekaligus menampik tuduhan bahwa ia pengikut Yesus.

Selama proses pra penyaliban Yesus berlangsung, selama itu juga kita melihat banyak intervensi bagi penegakan hukum, tentu itu menjadi proses yang buruk bagi penegakan hukum zaman Pemerintahan Romawi.

Ketika putusan dibacakan, Pontius Pilatus mencuci tangan, simbol politik kepemimpinan yang takut terhadap tekanan massa. Putusan yang menjadi menjadi pukulan telak bagi pendukung Yesus saat itu, kelompok besar yang diam atau silent majority yang takut mendapat tekanan.

Alkitab pernah mencatat proses demokrasi yang buruk terjadi ribuan tahun silam bahwa suara mayoritas bukan suara yang mewakili kebenaran pun sebaliknya. Walaupun secara ke imanan kristen kematian Yesus adalah bukti kasih penggenapan janji Allah pada dunia ini untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.

Dari contoh di atas, kita bisa melihat apa yang menjadi sisi lemah dari proses demokrasi, juga di bangsa kita sendiri,
Adanya kelompok besar yang diam dan takut adalah tindakan yang tidak mengubah apa-apa, bahkan cenderung menyeret terhadap persoalan-persoalan ketidakadilan berikutnya.

Tahun ini bangsa kita akan diperhadapkan dengan tahun politik, dimana tahun ini bangsa kita akan memilih pemimpin melalui Pilkada serentak 2018 dan Pilpres di tahun 2019 adalah menjadi kewajiban untuk kelompok besar masyarakat yang jarang mengungkapkan pandangannya (silent majority), harus bersuara dalam menghadapi Pilkada 2018 dan Pilpres 2019.

Sebab, ujaran kebencian di media sosial, hoax, ancaman aksi kekerasan berupa persekusi dengan isu SARA akan berpotensi mengganggu jalannya proses pemilihan. Berharap pihak-pihak yang menjunjung nilai keberagaman dan kemajemukan harus menjadi sosok perlawanan utama terkhusus sebagai pengikut Yesus segimana Yesus pernah melakukan perlawanan dengan cara-cara yang sejuk.

Keseluruhan, peristiwa kematian Yesus dan kebangkitanNya selain simbol kasih Allah yang begitu besar pada manusia yang berdosa juga adalah simbol ketidakadilan dan dengan demikian maka tugas orang Kristen salah satunya adalah untuk melawan dan bangkit atas ketidakadilan dan menyatakan kebenaran dalam segala bidang.

Selamat Paskah bagi saudara/i semua.
Salam damai penuh kebajikan.

Andry Simorangkir
Wakil Ketua Bid. OKK GAMKI Bogor.

KOMENTAR