Select Page

Segumpal Daging ; Wildan F Mubarock

Segumpal Daging ; Wildan F Mubarock

Aku membenamkan kebenaran dan menggantinya dengan rasa yang bernama dengki. Rasa yang tak pernahku pelajari di bangku sekolah dan tempat kuliah sekali pun. Rasa yang entah kapan mulai singgah dan menyeruput di benda yang mereka sapa ‘segumpal daging’. Aku sebenarnya membenci rasa ini. Dengki seakan mengikuti langkah kecilku dan berdansa di benakku yang berkabut lagi kalut bergelayut di pelupuk mata coklatku. Kini, Segumpal daging bersemayam menggerogoti sekujur tubuhku yang rapuh oleh waktu. Aku mulai merasakan penderitaan dari segumpal daging.

Aku pun mulai tak nyaman pada situasi yang sebenarnya nyaman lagi aman dan tentram. Ada geram yang sejak tadi pagi mengganggu aliran darahku yang melupakanku pada jam makan siang bersama rekan kerja di kantor. Aku tak habis pikir pria berperawakan kurus dan bermuka oval itu mulai menjadi virus yang menakutkan dan meneror setiap malam menyapa dan hadir di mimpiku sebagai mimpi buruk tentunya. Mimpi yang pada akhirnya memaksa aku terjaga dengan keringat yang membasah. Aku semakin tersiksa di paviliun Angrek 207 B RS PMI Kota Bogor.

 

Aku mulai merasa pria dengan topi hitam yang selalu saja menjadi olok-olokanku kini bisa jadi akan mengolok-ngolokku. Segumpal daging dalam tubuhku mulai bicara tanpa kata tapi jelas terasa ada. Aku mulai belajar dan mengenal rasa yang belakangan ku tahu bernama iri. Dan membawa rasa itu dalam berat tubuhku yang tambun tertimbun lemak dan mungkin saja dosa.

Aku merasa mendapatkan smash keras dari dirinya. Aku merasa bogem tinju dari dirinya juga merontokkan gigi gerahamku yang mulai tanggal karena usia. Aku merasa. Ya memang aku yang merasanya saja. Karena pria kurus kerontang itu tak benar-benar akan berniat melakukannya apa lagi melakukannya. Siapa memang dia ? Dia pikir dia siapa? Bukannya dia anak kemarin sore. Bukannya Dia hanya bocah ingusan tanpa selampe tangan. Bukannya dia cuma dia. Mantan muridku yang hanya sebatas murid dan takkan sanggup menyayangi keniscayaanku sebagai mantan gurunya dengan segudang pengalaman mengajarku. Bukannya dia cuma calon sarjana sementara aku sudah magister. Dia cuma mantan muridku. Dan aku mantan gurunya. ‘Tidak”, aku buru-buru membantah. Guru tidak pernah menjadi mantan. Guru sama dengan anak. Jika mantan istri ada, maka mantan anak tak pernah ada.

 

Bukannya aku ini guru atas dirinya? Bukanya dirinya murid atas aku? Dan atas itu pula aku tak berterima atas keberhasilan dirinya. Tidak, bukan atas keberhasilan dirinya. Melainkan atas keberuntunga dirinya saja. Aku juga bisa. Itu sangat mudah untukku. Mudah sekali untukku. Aku jagonya untuk hal itu. Aku hanya saja kurang beruntung. Sementara dirinya sedang dalam keberuntungan. Tapi bukanya aku pernah bilang bahwa kesuksesan itu bukan keberuntungan semata. Ah, aku jadi benar-benar merasa ini sebuah ancaman serius. Apa kata orang? Bagaimana dengan pimpinan memandang kenyataan ini. Bahwa aku tak bisa apa-apa dan kalah telak oleh dia dalam banyak hal.

Ah, ada apa ini ?. Apa yang sebenarnya terjadi? Tanyaku lagi-lagi membentur dinding ruang bercat abu.

 

Rekan kerja dan bawahan mulai tak memperdulikan aku. Sebagian malah mulai mengacuhkan titah dan perintahku yang dahulu sangat bertuah dan sakral untuk dibantah. Semua malah terlihat asyik dan terserang virus antik di kantor yang hampir paceklik karena ada culik dan konflik yang mencekik leherku.

 

Tentang dirinya lagi dan lagi. Kenapa semua orang membicarakannya. Kenapa dirinya yang diperbincangkan. Apa di kantor ini sudah tak ada bahan perbincangan dan tema lain untuk membicarakan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan dirinya. Ini gila. Aku benar-benar baru merasa asing di tempatku sendiri. Sangat asing untuk aku yang sudah menua lagi renta. Bukannya dirinya terlampau dini menyaingi keberadaanku. Bukannya pula aku sudah menggiring sejak awal kehadirannya dengan persepsi buruk untuknya. Tidak. Aku bukan hanya menggiring opini bawahanku tapi juga melarang dan membisikan bisikan yang akan menghancurkan dirinya pada rekan kerja dirinya. Lah anehnya kok dirinya malah terus berkarya dan berbuat. Dan perbuatanya itu menyebabkannya disukai banyak rekan di kantor.

 

Walah sepertinya apa aku salah dalam mengantisipasi. Bukannya aku jago dalam strategi dan pintar dalam memanipulasi. Aku tak mungkin salah tapi aku mungkin saja kalah mesti seharusnya sebagai pimpinan dan senior di kantor aku tak mungkin terkalahkan. Tidak, aku tidak mungkin kalah. Wong aku yang menyebabkan dirinya tetap bekerja di kantor ini. Mesti saat pengangkatan pegawai silam aku yang menghalangi dirinya. Aku pula yang menghambatnya. Aku sepertinya menzaliminya. Apa karena aku menzalimi dirinya. Tuhan mengangkat derajat dirinya? Apa karena itu aku jadi terkapar di rumah sakit? Alah, aku tambah geram dan tak mengerti Tuhan berpihak pada siapa?

 

Dasar pria kurus berkulit hitam tak berguna. kerjanya cuma bercanda dan ketawa. Aku selalu saja menghina dan meragukan dirinya. Padahal aku tahu Tuhan sekali pun tak pernah meragukan sedikit pun kemampuan manusia. Tapi dengan bercanda lagi-lagi dia punya karya yang menyakiti segumpal danging kebanggaanku. Nah, aku ini apa dan kenapa? Aku belum punya apa-apa untuk menandai keberadaanku dan tentu saja aku pun tak punya kesempatan untuk dikenang sama sekali. Padahal …

 

Jika ingin dikenang banyak orang, salah satunya caranya dengan menulis. “Menulislah seperti mereka yang menulis. Bila kalian tiadauntuk tetap ada dan diperbincangkan”. Tuturku beberapa waktu silam.

 

Waktu itu aku berdiri di depan kelas dengan semangat mengajar 45. Gelora mengajarku membahana bergelora. Namun, segalanya meredup ketika Seorang mahasiswa berperawakan kurus bertanya.

“Pak, Maaf. Kapan pelajaran menulisnya?” belum sempat aku menjawab. Pertanyaan kedua lantang dari lidahnya yang tak mampu berujar “R”.

“Pak, kapan mulai menulis narasinya?”

“Pak, Kami ingin baca tulisan bapak?”

 

Aku seperti baru kena cakar serigala dan terjangan tujuh manusia harimau. Semenjak mendung itu bernaung, aku menanam dan menyiram luka di hati. Dan malam ini , aku menuai segumpal daging bernama dengki. Aku kalah lagi, tapi semestinya aku tak memelihara dengki dan tak membawanya ke ruang operasi. “Percuma”, pikirku. Aku menggeram dalam hati, lantas menangis tersedu-sedu di ruang rawat inap yang semakin pengap. Disampingku seseorang yang sangat aku kenali membacakan surat Al-fatihah dan novel terbarunya sebagai bingkisan dengan judul “guruku”. Kontan saja lidahku yang kelu melafal astaghfirullohal’adziim.**

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *