Select Page

alterntif text

Betapa Lucunya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kita

Betapa Lucunya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) Kita

*Betapa Lucunya Gerakan Literasi Sekolah (Kita)*

Aldi Cikal Yudawan*

Maaf, bukan hendak nyinyir. Bukan juga hendak menertawai, apalagi mengkritik kebijakan pemerintah soal literasi. Saya hanya ingin menceritakan beberapa hal-yang menurut saya-lucu dan pantas untuk ditertawakan bersama soal gerakan literasi sekolah (GLS).

Itu lho, gerakan seksi yang muncul di masa mentri zaman _old_. Gerakan respon dari sebab-musabab survey-survey internasioal tentang kemampuan membaca siswa Indonesia (kita) yang selalu menunjukkan ranking yang mepet ke urutan bontot.

Apa sebenarnya tujuan GLS? Kalau tidak salah, salah satu tujuan GLS yang paling inti adalah menumbuhkan minat membaca siswa Indonesia yang masih rendah. Saking rendahnya minat baca siswa kita, kemampuan dalam hal memahami bacaan pun rendah. Bahkan ada seorang jurnalis luar negeri yang mengatakan, “Betapa menyedihkannya siswa Indonesia. Mereka tidak mengetahui kalau diri mereka bodoh.” Kurang ajar!

Memang, menurut survey internasional, minat membaca siswa Indonesia perlu dikatrol. Tengok saja hasil survey _Program International of Student Assesment_ (PISA) tahun 2012 dan 2015. Indonesia masih jauh dari peringkat pertama. Survey tersebut memberikan instrumen tes kepada siswa-siswa yang menjadi sampel di negara yang tergabung dalam OECD. Dalam instrumen tersebut, terdapat beberapa indikator dan pertanyaan yang harus dicapai dan dijawab oleh sampel siswa.

Dari penjelasan di atas, maka GLS kiranya memang perlu bin kudu, harus bin wajib, dilaksanakan. Akan tetapi, beberapa hal saya catat sebagai berikut:
_Pertama_ bahwa jika siswa ingin rajin membaca buku, guru harus menjadi contoh terlebih dahulu. Bagaimana mungkin siswa mampu ditumbuhkembangkan minat bacanya kalau guru-gurunya saja malas baca. Siswa sebagai _kids_ zaman _now_ butuh figur yang bisa menjadi contoh bagi mereka dalam hal membaca buku. Bukan figur yang bisanya hanya baca pesan di grup _whattsapp_. Itu pun tidak beres karena langsung disalin dan ditempel di dinding grup lain yang ada di ponselnya. Entah supaya apa. Padahal dia belum baca isi seluruh pesan tersebut. Pokoknya kalau ada kata-kata motivasi, apalagi ada ayat Al Qur’an dan haditsnya, langsung disalin dan ditempel.

_Kedua_ siswa butuh bacaan segar. Bukan buku-buku berdebu tahun Firaun ngojek. Bukan apa-apa. Masih banyak di pelosok desa sana, sekolah-sekolah yang kekurangan buku. Sedangkan anak-anaknya dipaksa untuk membaca. Ada buku dulu, zaman dimana masih ada pendidikan P4 dan PSPB. Atau, buku warisan orde baru lainnya yang sama sekali buntu kalau bicara sejarah.

_Ketiga_ kalau memang benar anak mau jadi literat karena membaca, ya tolong bacaannya jangan seragamlah. Saya lihat beberapa hari lalu di linimasa seorang teman, ada gambar di suatu sekolah sedang diadakan GLS dimana siswa didudukkan di lapangan dan diminta membaca koran yang sama. Jumlah siswanya ratusan. Kalau bacaannya yang sama, darimana mereka akan bertukar pikiran. Darimana mereka akan memiliki pembanding atas argumen-yang cenderung opini-di dalam koran itu. Kalau korannya independen. Kalau tidak, ya bisa berbahaya. Maklum media sekarang, aksi mahasiswa besar-besaran tidak dimuat, eh pidato mantan presiden yang baru mendapat gelar pemberian alias Doktor Honoris Causa dipajang di halaman depan. Cape deh.

_Keempat_ mengertilah bahwa gerakam literasi adalah sebuah proses panjang, bukan instan seperti tahu bulat itu. Digoreng dadakan. Lima ratusan. Uhuy! Bukan, bukan itu!

Menjadikan siswa literat berarti menyadari proses berkelanjutan sepanjang waktu dalam mendidiknya biasa membaca. Bukan hanya lewat membaca 15 menit, tapi melalui pendekatan setiap mata pelajaran yang diberikan. “Bukannya itu sudah ada di RPP yang guru buat”? Oke. Berapa yang menjalankannya? Hampir setiap guru yang daya tanya, mereka menjawab, “Bingung cara menerapkannya.”

Lha, bagaimana mungkin mencapai tujuan pembelajaran, rencana saja bingung. Tapi tidak apa-apalah. Yang penting eksis. Saat penyelenggaraan membaca masal di lapangan itu, yang penting ada fotonya. Masuk media. Bukti. Lumayan buat akreditasi dan posting di _instagram_, _facebook_, _twitter_ atau yang lainnya untuk promosi sekolah.

_Kelima_ wahyu pertama itu tidak menyuruh membaca buku lho. Coba dibuka lagi kitabnya. Kita lihat firman Tuhan yang artinya sering difahami sebagai membaca buku.
Perintahnya tidak begitu. Perintahnnya adalah bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang Maha Menciptakan. Berarti apa saja ciptaan Allah bisa kita bahas. Selalu akan ada yang begitu. Bukan sekedar membaca buku berjamaah.

_Keenam_ di dalam buku panduan GLS dikatakan bahwa GLS harus dilakukan seluruh pihak atau warga sekolah, termasuk penjaga atau satpam, pedagang di kantin.

Bayangkan, jika pedagang harus mengikuti kegiatan GLS, mereka yang jajan saat tukang dagang membaca, siapa yang akan melayaninnya?
Bagaimana kalau memasak bahan jajanan sambil memasak. Bisa-bisa dagangan gosong. Efek lebih jauhnya menimbulkan kebakaran dan ledakan. Sungguh mengerikan.

Sekali lagi, saya bukan nyinyir atau pesimis tentang GLS, akan tetapi jika GLS hanya dijadikan sebagai penggugur kewajiban dinas di setiap sekolah. Kalau GLS hanya sebagai projek saja. Maka GLS tidak akan sama sekali berpengaruh bagi peningkatan minat baca siswa.

Akhirnya, saya ingin mengajak semua pihak terkait dengan sekolah atau dinas dalam menyikapi GLS. Alternatif yang kita bisa lakukan pertama-tama adalah meninjau ulang pelaksanaan GLS di sekolah kita. Apakah GLS berkorelasi positif dengan minat baca? Atau apakah GLS hanya membaca saja?

Kalau korelasinya negatif, maka gerakan literasi harus diperbaiki. Kini, kita bukan harus menolak atau mengkritisi langsung GLS. Jangan hujat GLS, tapi mulailah dari menertawakan pelaksanaannya.

*Guru sains yang senang menulis.

KOMENTAR

About The Author