Select Page

alterntif text

Cerita Sore Ini ; Wildan F Mubarock

Cerita Sore Ini ; Wildan F Mubarock

Sore itu, Hujan deras menghentikan langkah saya yang hendak mengajar. Beberapa mahasiswa menepi, yang bernyali mencoba menyibak hujan dengan berlari. Saya mematung di muka gedung. Tak lama beberapa bocah menawarkan payung. Tubuhnya basah kuyup. Payung yang dibawa jauh lebih besar dari si bocah.

Iba, saya berpayung berdua. Sambil bertanya beberapa hal. Pendidikan, keluarga dan tentu saja kisah cinta (wak wak wak). Si bocoh asyik bercerita. Sengaja saya pelankan langkah.

Terpaksa, Pak. Demi menyambung hidup. Ujar sang bocah.

Saya terdiam berhenti di tengah guyur hujan. Sang bocah ikut mematung. Hujan mulai mereda. Tapi gelisah di hati mendera dera.

Sebagai penulis saya harus berterima kasih pada kang Bima. Beberapa tulisan tercipta lantaran bertaman ria. Menghirup udara segar, bau tanah dan tentu saja angin semilir yang tak ternilai hargana. Kang Bima membuat wajah Bogor jadi indah jadi cantik dan artistik. Tapi mengingat si bocah saya jadi bertanya perihal Bogor.

Buat si bocah yang nampak tidaklah terlalu penting. Sebab perihal lapar tidak dapat diredam dengan mengunjungi taman kota. Sebab itulah sang bocah memilih jalan sebagai ojeg payung. Lalu benarkah predikat Bogor sebagai kota layak anak pantas melekat. Jangan jangan ada yang salah dengan jukukan ini. Anak anak yang seharusnya belajar nyatanya menggantikan orang tua menyambung hidup. Lagi lagi saya bertanya. Kamarana iyeu kolotna. Jangan jangan ibu dan ayah sedang membuat bocah untuk melahirkan bocah bocah pengojek payung selanjutnya.( Adeuh ; ini mah hanya hipotesis saya. Belum tentu benar)

Sesampainya di rumah. Daaris lagi asyik merakit lego. Bunga mulai kecanduan gajet. Bermain game membuat kue. Saya dongengkan kisah si bocah pengojek payung. saat mereka mendekap ; saya bisikan hokage tak kan membiarkan anak anak menangung beban orang tua. Daaris menganguk, bunga tak perduli. Dan saya mendengar lafal doa para bocah. “Tuhan Turunkan Hujan”

Penulis ; Wildan F Mubarock, mantan Penjual Telur Asin Yang Bercita cita jadi Hokage

 

 

 

KOMENTAR

About The Author