Select Page

alterntif text

Dagelan Politik: “Sisi Lain” Pendidikan Politik

Dagelan Politik: “Sisi Lain” Pendidikan Politik

Dagelan Politik: “Sisi Lain” Pendidikan Politik

Akhir-akhir ini publik dihebohkan dengan mencuatnya kasus yang menjerat SN, Ketua DPR RI. Bagaimana tidak, sisi lain dari kasus ini memperlihatkan “dagelan politik” yang jenaka bagi sebagian masyarakat yang sudah jenuh dengan kurang kondusifnya situasi politik Indonesia. Mulai dari dugaan keterlibatan sang Ketua DPR RI terlibat dalam kasus “papa minta saham” yang lolos dari jeratan hukum hingga kemunculannya dalam kampanye calon Presiden Amerika Serikat Donald Trump beberapa waktu ke belakang yang membuatnyadiberhentikan “sementara waktu” dari jabatannya sebagai Ketua DPR RI pada saat itu. Tidak berhenti disana, setelah diberhentikan dari jabatannya yang pada saat itu digantikan oleh koleganya di Partai Golkar, SN kembali menduduki jabatan Ketua DPR RI tersebut yang tidak sedikit menuai sindiran dari beberapa pihak. Beberapa waktu berselang, barulah SN menemui babak baru “dagelan politik” yang sangat menghobohkan masyarakat dalam “lakon” kasus megaproyek e-KTP baru-baru ini. Beberapa “adegan lakon jenaka” dapat terlihat dalam babak baru kasus ini. Pertama, pada saat SN harus dirawat di rumah sakit karena komplikasi berbagai penyakit besar tepat sesaat SN ditetapkan sebagai tersangka. Namun, berselang beberapa hari (kurang dari satu minggu) SN dinyatakan boleh pulang (sembuh) dari rumah sakit beberapa waktu setelah dirinya dinyatakan menang dalam pra peradilan terhadap dirinya. Sontak hal ini menjadi viral terutama di media sosial yang tidak sedikit memunculkan sindiran-sindiran jenaka dari masyarakat dalam bentuk meme. Beberapa konten yang viral di media sosial memperlihatkan kejanggalan-kejanggalan foto SN saat di rawat di rumah sakit. Banyak pihak yang menduga bahwa hal tersebut merupakan rekayasa belaka mengingat kejanggalan beberapa hal di antaranya monitor pendeteksi detak jantung yang mati serta pemasangan selang infusan yang dianggap tidak masuk akal. Hal tersebut diperkuat dengan diperbolehkannya SN pulang sesaat setelah pengadilan memutuskan SN lolos dari status tersangka pada pra peradilan. Sesaat berselang viral beberapa meme yang menunjukan sindiran jenaka dengan tanda pagar #thepowerofsetnov yang menunjukkan kekebalan SN terhadap hukum. Tidak jarang pula, beberapa media sosial mengutarakan bahwa obat untuk menyembuhkan penyakit SN pada saat itu adalah “putusan pra peradilan” yang memenangkan dirinya. Hal tersebut dapat dilihat ketika SN pulang dari perawatannya di rumah sakit sesaat setelah pra peradilan memenangkannya. Kemudian, “adegan lakon jenaka” yang kedua terlihat pada saat tidak ditemukannya SN di kediamannya pada saat KPK hendak menjemput paksa beliau pada tanggal 15 November 2017 malam. Tidak diduga, kesokan harinya tanggal 16 November 2017 masyarakat dihebohkan dengan berita yang menyatakan bahwa SN mengalami kecelakaan mobil yang menabrak sebuah tiang listrik pada pukul 19.00 WIB sesaat setelah mengikuti live reportmelalui sambungan telepon di Metro TV dan (katanya) hendak memenuhi panggilan KPK. Namun, dalam wawancara tersebut SN enggan menyebutkan dimana dirinya saat itu berada. Sontak pula jagat maya dihebohkan dengan banyak meme yang menyindir SN secara jenaka melalui tanda pagar #savetianglistrik. Secara keseluruhan, sindiran-sindiran jenaka yang terjadi secara viral akhir-akhir ini mengisyaratkan kritikan terhadap SN karena dianggap menghambat proses hukum oleh KPK terhadap dirinya, sehingga peristiwa-peristiwa yang terjadi dianggap sebuah rekayasa belaka.

Terlepas dari benar atau tidaknya “adegan lakon jenaka” dalam “dagelan politik” yang dialamatkan terhadap SN, penulis hanya akan membahas sisi lain dari fenomena tersebut yang menurut penulis secara tidak langsung menjadi sarana “pendidikan politik” bagi masyarakat maupun mahasiswa dalam konteks yang berbeda. Sebagai masyarakat biasa yang hidup di sebuah kampung serta sebagai Pengajar di sebuah universitas, penulis banyak mengamati perilaku politik masyarakat serta mahasiswa dewasa ini. “Overdosis politik” yang dipertontonkan oleh sebagian oknum elite politik di negeri ini menimbulkan dampak yang sangat memperihatinkan bagi masyarakat termasuk mahasiswa dewasa ini. Kejenuhan, keacuh takacuhan, masa bodo, dan lain sebagainya merupakan sebuah kenyataan yang terjadi di dalam kehidupan sebagian masyarakat maupun sebagian mahasiswa. Kondisi yang seharusnya masyarakat bersama pemegang kekuasaan (eksekutif, legislative dan yudikatif) berjalan beriringan mengawal jalannya demokrasi Pancasila, namun yang terjadi malah sebaliknya. “Perkelahian” antar oknum elite politik dalam memperebutkan kekuasaan semakin mempertegas hati dan pikiran sebagian masyarakat maupun mahasiswa untuk apatis dalam tuntutan peran partisipasi politik. Namun, dengan hebohnya pemberitaan yang menjerat SN ini penulis setidaknya merasa sedikit lega atas keprihatinan yang terjadi saat ini. Setidaknya, dengan munculnya kasus SN ini membuat masyarakat maupun mahasiswa sedikit melek dan tergugah hati dan pikirannnya untuk berkomentar meskipun dalam situasi kejenuhan dan keacuh tak acuhan yang selama ini terjadi. Meskipun dalam konteks yang berbeda, yakni melalui sindiran-sindiran jenaka melalui meme atau tanda pagar yang viral di media sosial, setidaknya penulis melihat adanya kesadaran masyarakat dan mahasiswa tersebut untuk setidaknya melek menonton berita situasi politik di televisi yang berarti mereka telah berusaha untuk menganalisa sebuah peristiwa politik. Atau dengan berlomba-lomba membuat meme lucu tentang SN, yang artinya dia sebelumnya telah mengikuti pemberitaan tentang SN terlebih dahulu.

Dalam konteks inilah penulis mengasumsikan bahwa setidaknya kasus SN ini secara tidak langsung telah menjadi sarana pendidikan politik bagi sebagian masyarakat dan mahasiswa yang sebagian dari mereka telah dininabobokan oleh hal-hal yang kurang produktif yang sebagian besar diakibatkan oleh penggunaan teknologi yang kurang bijak. Dalam satu sisi ini pula, kita (mungkin) perlu berterimakasih terhadap SN yang secara tidak langsung mampu merangsang masyarakat untuk melek politik, meskipun dalam konteks yang berbeda. Jauh hari sebelum mencuatnya pemberitaan tentang kasus yang menjerat Setya Novanto, masyarakat mungkin sudah jenuh dengan situasi politik di Indonesia yang tersiar melalui berbagai media. Hal ini yang pada akhirnya berdampak terhadap rendahnya tingkat partisipasi politik masyarakat, bahkan yang lebih memprihatinkan adalah semakin menguatnya ketidakpercayaan masyarakat terhadap elite politik yang mewakili kedaulatan rakyat dalam panggung Demokrasi Pancasila. Namun yang terjadi hari ini, hampir semua masyarakat Indonesia dari berbagai kalangan ikut mencurahkan pikirannya terhadap situasi politik di Indonesia sejak viralnya pemberitaan kasus tersebut. Kita dapat melihat hal tersebut di media sosial (facebook, twitter, instagram, Koran, televise, dll) yang dalam hal ini banyak bermunculan meme yang bernada sindiran-sindiran lucu berisikan kritikan. Mengutip pernyataan dari Dosen penulis pada saat duduk di bangku perkuliahan bahwa kita seharusnya memikirkan solusi permasalahan dari bangsa ini untuk ke depannya dari pada membicarakan kebobrokan negeri ini. Berangkat dari pernyataan tersebut, Penulis menyisipkan satu harapan dari tulisan ini agar masyarakat maupun mahasiswa mampu mengambil pembelajaran dari setiap peristiwa dan musibah yang mendera negeri kita tercinta ini. Kasus SN bukanlah satu-satuya kasus yang harus kita sikapi, tapi masih banyak kasus yang perlu mendapat perhatian kita pula. Bukan untuk diumbar-umbar dalam bentuk ujaran kebencian dan lain sebagainya melainkan dengan memainkan peran kita sebagai pembawa perubahan dan pemberi solusi untuk ke depannya. Wallohua’lam Bissawwaf.

Penulis merupakan Alumnus pada Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan SPs UPI Bandung. Saat ini penulis merupakan Dosen Tidak Tetap pada FKIP Universitas Pakuan Bogor yang mengampu mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan mata kuliah Pendidikan Pancasila.
Penulis dapat dihubungi pada surel: abdulazis.goodcitizen@gmail.com
atau HP. 087821355942

KOMENTAR

About The Author