Select Page

alterntif text

Filosofi Hujan di Kota Hujan

Filosofi Hujan di Kota Hujan

Filosofi Hujan di Kota Hujan

Lima tahun, berada dalam nafas kota ini, saya telah menghirup segala bau nafasnya yang menggenang. Kota ini telah menyemaikan kepingan-kepingan kenangan bagiku. Setiap jejak pada tubuh kota ini adalah hujan kenangan yang selalu membawaku pada sebuah dingin yang merindu.

Bogor. Sebuah kota di negeri ini. Dengan kultur budaya Sunda, menyulam gelagat alam dsn tentang orang-orang di kota ini adalah hal yang istimewa bagi saya. Seorang mahasiswi perantauan.

Kota Bogor (Sunda: ᮊᮧᮒ ᮘᮧᮌᮧᮁ) adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini terletak 59 km sebelah selatan Jakarta, dan wilayahnya berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten Bogor. Dahulu luasnya 21,56 km², namun kini telah berkembang menjadi 118,50 km² dan jumlah penduduknya 1.030.720 jiwa (2014). Bogor dikenal dengan julukan kota hujan, karena memiliki curah hujan yang sangat tinggi. Kota Bogor terdiri atas 6 Kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 68 Kelurahan. Pada masa Kolonial Belanda, Bogor dikenal dengan nama Buitenzorg (pengucapan: boit’n-zôrkh”, bœit’-) yang berarti “tanpa kecemasan” atau “aman tenteram”.

Kota Bogor terletak pada ketinggian 190 sampai 330 m dari permukaan laut. Udaranya relatif sejuk dengan suhu udara rata-rata setiap bulannya adalah 26 °C dan kelembaban udaranya kurang lebih 70%. Suhu rata-rata terendah di Bogor adalah 21,8 °C, paling sering terjadi pada Bulan Desember dan Januari. Arah mata angin dipengaruhi oleh angin muson. Bulan Mei sampai Maretdipengaruhi angin muson barat.

Bogor ditilik dari sejarahnya adalah tempat berdirinya Kerajaan Hindu Tarumanagara di abad ke lima. Beberapa kerajaan lainnya lalu memilih untuk bermukim di tempat yang sama dikarenakan daerah pegunungannya yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan, dan di saat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Namun hingga kini, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh beberapa arkeolog ternama seperti Prof. Uka Tjandrasasmita, keberadaan tempat dan situs penting yang menyatakan eksistensi kerajaan tersebut, hingga kini masih belum ditemukan bukti autentiknya.

Kerajaan Sunda

Di antara prasasti-prasasti yang ditemukan di Bogor tentang kerajaan-kerajaan yang silam, salah satu prasasti tahun 1533, menceritakan kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda. Prasasti ini dipercayai memiliki kekuatan gaib dan keramat, sehingga dilestarikan sampai sekarang. Kerajaan Pajajaran memiliki pengaruh kekuasaan tidak hanya seluas Jawa Barat, Jakarta dan Banten tetapi juga mencakup wilayah Lampung. Kerajaan Sunda yang beribukota di Pajajaran juga mencakup wilayah bagian selatan pulau Sumatera. Setelah Pajajaran diruntuhkan oleh Kesultanan Banten maka kekuasaan atas wilayah selatan Sumatera dilanjutkan oleh Kesultanan Banten.

Pakuan atau Pajajaran yang merupakan ibu kota pemerintahan Kerajaan Sunda (yang sering disebut juga sebagai Kerajaan Pajajaran sesuai nama ibukotanya) diyakini terletak di Kota Bogor, dan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) yang dinobatkan pada 3 Juni 1482. Hari penobatannya ini diresmikan sebagai hari jadi Bogor pada tahun 1973 oleh DPRD Kabupaten dan Kota Bogor, dan diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.

Ada dua kota yang acap menyusup dalam rahim pemikiran saya ketika melewati hari-hari di kota Bogor atau yang dijuluki kota hujan. Larantuka dan Bogor adalah sepasang kota seperti kekasih yang merindukan pertemuan. Jika Larantuka adalah tumbuhnya rasa kasih sayang, Bogor adalah tumbuh dan berkembangnya ikatan rasa yang lebih dewasa, begitulah rasa antara dua kota ini.

Hal yang paling berkesan bagi saya di kota ini adalah “tentang hujan”.
Begitu banyak makna yang diretas dalam setiap rinai hujan di kota ini.
Ia yang datang ketika langit sedang membendung Permenungannya dan mencurahkan rintiknya pada bumi Pajajaran, ia yang datang meluluhlantakkan segala amarah dan kerontang jiwa yang pengap, ia yang merekat dingin pada setiap panasnya peristiwa hidup yang saya lakoni.

Kota adalah tempat mengukur segala ruang pemikiran. Kota adalah tempat menenun tapak-tapak langkah menuju realitas yang sebenarnya, kota adalah akar membangun kepribadian, membelah setiap pertanyaan-pertanyaan yang membatu pada jalan manusia. Dan tentunya kota adalah tempat bagaimana manusia menempatkan kemanusiaan pada setiap laju perilaku.

Di samping saya memaknai arti tentang kota ini, ada hal lain yang tak lindap dari lembaran makna ialah ia sebagai ibu yang mendidik. Kampus. Sebuah lembaga pendidikan yang menetaskan putra putri untuk mempersiapkan diri untuk memegang tongkat estafet dalam pembangunan negeri menuju kebaikan dan cita-cita bersama. Kampus yang tumbuh subur dalam jantung kota ini telah meneteskan pemikiran-pemikiran yang baik. Mengajarkan saya tentang sikap pantang menyerah dan segala catatan-catatan suka duka. Kampus bagi saya adalah ruang penghijauan nurani dan rimba kekar bagi saya untuk menggali eskpresi dan eksistensi diri.

Tak hanya itu, pada derap nafas kota ini, saya belajar bagaimana menjaga ikatan persaudaraan dengan orang-orang yang saya kenal, bagaimana berbudaya kesundaan dalam laju sikap dan perilaku, pun bagaimana menjaga roh toleransi terhadap umat beragama di kota ini.

Meskipun saya lahir dari keluarga Katholik, namun kota ini mengenalkan saya bagaimana indahnya menjaga toleransi, menjaga hubungan persahabatan dan mematikan klaim kebenaran yang paling benar seturut apa yang saya yakini. Bagaimana pun juga, hidup di rimba Nusantara adalah satu jalan indah menenun rasa persatuan dan kesatuan.

Walaupun percaturan politik yang diseduh oleh politikus busuk dan menyandera persatuan dalam perselingkuhannya dengan politik identitas untuk merobek bendera persatuan, tapi saya yakin kota ini tetap konsisten dalam mendekap sendi-sendi persatuan bangsa. Karena hujan di kota ini adalah rintik yang memberi pesan kedamaian, meredam amarah, dan menghanyutkan tensi kejahatan yang berseliweran dalam nafas kota ini. Hal demikian yang membuat saya menyukai hujan. Ada filosofis dan makna estetika kehidupan yang berlumuran dalam setiap rintiknya.

Bogor; 17/11/2017
Yogen Sogen
Mahasiswa FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Pakuan Bogor
Penulis antologi puisi “Nyanyian Savana”
Ketua presidium PMKRI Bogor.

KOMENTAR

About The Author