Select Page

alterntif text

Kabul, Diskusi Tentang Tuhan Dan Keistimewaan Muhammad

Kabul, Diskusi Tentang Tuhan Dan Keistimewaan Muhammad

Kabul, Diskusi Tentang Tuhan, dan Keistimewaan Muhammad
Oleh : Aldi Cikal YudawanS

Saat kuliah, saya punya teman. Namanya Kabul. Asli Sunda dengan wajah mirip orang India. Begitu kata beberapa orang.

Sebagai mahasiswa, dia jarang kuliah di kelas. Dari normalnya 14 kali tatap muka dengan dosen di setiap semester setiap mata kuliah, masuk presensi 70% pun sudah sangat bagus.

Jika dia di kelas, teman-temannya yang presentasi sering kesal berujung sinis. Bagaimana tidak, bahan presentasi setiap kelompok biasanya diperdebatkan, ditanyakannya apa saja. Bukan untuk sok-sok an menjadi paling tahu dan pintar sendiri, melainkan karena memang dia bodoh. Maka dia ingin selalu bertanya. Sayangnya, teman-teman yang ditanyai kadung kesal hingga kehadiran Kabul di kelas dianggap benalu bahkan sempat tidak diharapkan.

Sebenarnya sederhana, Kabul hanya tidak ingin biaya yang dikeluarkan oleh orang tuanya dan para orang tua teman-temannya sia-sia. Belajar tidak serius: presentasi makalah hanya hasil copy-paste. Print makalahnya pun baru beberapa jam sebelum presentasi dan copi-an makalahnya baru dibagikan sesaat sebelum presentasi. Bagaimana bisa ilmu digali dan ditimba dalam setiap presentasi jika hanya percaya pada pemateri? Akhirnya, kita hanya menuntut ilmu saja, tanpa tahu apakah itu berguna atau tidak di masa depan.

Hobi Kabul adalah berdiskusi. Dia berdiskusi dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang. Dia berdiskusi dengan dosen-jika tidak kuliah dalam kelas-. Dia berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa di organisasi dan nonorganisasi di tongkrongan, mahasiswa islam dan nonislam, mahasiswa senior maupun junior.

Dia berdiskusi dengan tukang parkir, buruh pabrik, pedangang, pak polisi, pemabuk, dan tokoh agama. Dia bahkan berdiskusi dengan pohon, tembok, binatang, hingga makhluk-makhluk yang tidak terlihat.

Beberapa diskusi yang cukup menyenangkan hatinya adalah jika membicarakan tentang Tuhan dan Muhammad. Jika membicarakan tentang Tuhan, Kabul selalu memosisikan diri sebagai yang paling tidak tahu, sehingga saat ada salah satu adik kelasnya yang bertanya, “Kang, apakah Tuhan itu betul pintarpintar?” Pertanyaan yang meremehkanNya.
“Kalau betul pintar,” Lanjut si adik kelas, “Kenapa dia panggil Muhammad ke Sidhratul Muntaha dan memberikan perintah sholat 50 waktu?” Dia berhenti sejenak berharap Kabul merespon.

“Dia (Tuhan versi adik kelas Kabul) tentu tahu kalau Muhammad apalagi umatnya tidak akan sanggup menanggung tanggung jawab itu.”

“Betul saja.” Seorang adik kelas yang lain ikut menimpali seakan mereka telah bersekongkol menanyakan itu kepada Kabul. “Setelah itu, Muhammad bingung, kan. Dia turun ke langit-langit sebelumnya untuk mencari jawaban.”

“Saat bertemu nabi-nabi lain, dia diminta melobi Tuhan lagi agar menurunkan jumlah 50.”

” Betul saja. Tuhan akhirnya menurunkan bertahap hingga akhirnya 5 waktu. Tuhan deal dengan Muhammad.”

“Kenapa Tuhan begitu bodoh, Kang? Padahal katanya dia Maha Tahu apapun. Kalau Maha Tahu, harusnya Dia tahu bahwa Muhammad tidak akan kuat dan pasti Dia tahu juga bahwa akhirnya Muhammad akan menawar.”

“Dan, satu lagi, kang. Tuhan jadinya bisa-ditawar-tawar. Macam pedagang saja.”

Kabul pusing. Dia seruput kopi dan hisap rokok kreteknya dalam-dalam. Kabul hembuskan napas berbarengan dengan keluarnya asap rokok yang membumbung.
“Pertanyaan yang cerdas, kawan-kawan.” Kabul menghela napas. “Saya bahkan tidak pernah memikirkan itu. Jikapun saya harus menjawab, semoga ini adalah bukan jawaban yang dianggap benar 100% karena memang sangat relatif. Jikapun jawaban saya salah, semoga tidak dianggap salah 100% karena mungkin melalui kesalahan-kesalahan itu kita bisa terus belajar untuk tetap mencari kebenaran sejati.”

Teman-teman Kabul dan adik-adik yang ada dalam forum sudah mengerti betul kata-kata itu. Mereka sudah tidak bersabar mendengar uraian selanjutnya.

“Sejak kapan yang bodoh itu bisa membuat sesuatu yang luar biasa?” Kabul melanjutkan.

“Maksudnya?”

“Iya, kalau Tuhan bodoh, kenapa menciptakan anda-anda yang luar biasa itu?” Mereka mulai bingung. “Tuhan itu bukan seseorang apalagi jika seseorang itu bisa didefinisikan dengan kata sifat.”

“Tuhan itu kadang memang aneh. Anda tentu ingat kisah seorang genius dengan dosennya.” Kabul mengaitkan dengan topik lain.

Itu lho, saat seorang mahasiswa menggugat dosennya gara-gara dosennya bilang Tuhan itu tidak ada hanya karena Dia tidak terlihat. Kata dosen itu, kalau Tuhan itu ada, coba tunjukkan wujudnya.

Lalu mahasiswa itu berkata bahwa dosennya juga tidak punya otak. Buktinya otaknya tidak terlihat. Dosennya marah. Dia bilang bahwa mahasiswa itu kurang ajar. Mahasiswa itu balik mengatakan bahwa dosennya yang kurang ajar. Si mahasiswa bilang, kalau punya otak, coba tunjukkan buktinya.

Sang dosen kemudian mengatakan bahwa otaknya memang tidak terlihat, tapi bisa dibuktikan dengan karya-karyanya. Karya-karyanya merupakan hasil pemikiran yang dilakukan dengan otaknya. Maka tanpa dilihat otaknya, dia bilang bahwa itu bisa terbukti.

“Itu dia.” Mahasiswa membalikan, “Kenapa Tuhan dikatakan tidak ada hanya karena wujudnya bisa dilihat?” Sama dengan otak si dosen, Tuhan juga tidak perlu dibuktikan wujudnya. Tuhan bisa dilihat dari ciptaan-ciptaanNya. Gunung, lautan, langit, tanah, tumbuhan, hewan, maupun manusia.

“Kalau bapak dosen mau membuktikan wujud Tuhan, silakan mati duluan. Nanti saya akan juga buktikan bahwa bapak punya otak dengan membedah kepala bapak.”
Sang dosen hanya terdiam.

Dari sekian manusia yang diciptakan Tuhan, ada satu manusia yang paling istimewa. Namanya Muhammad. Keistimewaannya bukan hanya tidak mati saat dibedah ketika mengangon kambing sewaktu anak-anak. Bukan hanya kejujurannya dalam berdagang yang tidak biasa. Masa mengatakan keadaan barang yang susungguhnya. Bukan hanya tentang gelar Al Amin yang disematkan kepadanya kemudian.

Bukan juga hanya kemampuannya menggeser matahari sehingga kembali ke posisi siang hari. Bukan juga hanya kemampuannya dalam taktik dan strategi perangnya yang brilian. 300 orang biasa menang lawan 1000 orang lebih tentara terlatih. Melainkan tentang kesanggupannya bersikap lembut kepada siapa saja, sekalipun yang menyakitinya.

Itu, pertama seorang Yahudi yang selalu melempari Muhammad dari jendela rumahnya. Setiap hari, selalu ada saja yang dilemparkan ke arah Muhammad. Hingga suatu hari saat Muhammad melintasi jalan itu, tidak ada yang melemparinya.

Muhammad heran dan bertanya kemana seorang yang selalu melempar ke arahnya? Diketahui kemudian bahwa orang itu sedang sakit.

Duh kalau kita jadi Muhammad, mungkin saja kita bahagia bahkan bersyukur karena yang selama ini melempari kita sedang sakit. Kita mungkin datang ke rumahnya, atau mendoakan agar dia cepat mati.

Tapi Muhammad tidak. Dia datang dan membawa makanan. Betapa terkejutnya pelempar itu melihat Muhammad datang dan membawa makanan. Muhammad menjenguknya dan mendoakan atas kesembuhannya. Pelempar itu menangis dan menyatakan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Tuhan.

Kedua, seorang nenek buta di ujung pasar yang selalu menghasut orang agar tidak percaya pada Muhammad. Nenek buta itu berkata kepada setiap yang terdengar lewat di depannya bahwa Muhammad adalah pembohong. Penipu. Muhammad lewat di depannya dikatai juga.

Bukannya marah, Muhammad malah mendekat dan menjadi pemberi makanan kepadanya. Tapi dasar nenek, diberi makanan yang sedikit keras dia mengeluh dan minta agar makanan tersebut dihaluskan. Muhammad kemudian bukan sekedar memberi makanan, Mihammad dengan sukarela mengunyahkan makanan yang diberikan, lalu menyuapinya. Geli? Tidak. Jijik? Tidak! Itu romantis!

Saat Muhammad meninggal, berpisah jasad dan ruhnya, dan yang menggantikannya adalah Abu Bakar, si nenek merasa ada sesuatu yang berbeda. Disitulah si nenek sadar bahwa yang selama ini memberinya makanan, mengunyahkan, dan menyuapinya adalah orang yang selalu diledeknya. Adalah sesorang yang selalu dicaci dan dimakinya. Akhirnya si nenek menyesal, menangis merindukannya.

Semua dalam forum mengangguk-angguk. Terasa, jam audah pukul 04.00. Bunyi tahrim bersautan satu sama lain.
Kabul pamit, pura-pura ke toilet. Selanjutnya dia ambil air wudhu dan berdoa agar dia dibentukkan cinta segitiga antara Tuhan sebagai pencipta, Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih, dan dirinya sebagai makhlukNya, begitu pula orang-orang yang berdiskusi dengannya.

Oh Tuhan, aku bersyukur engkau telah menciptakan Muhammad SAW. Hari ini kami peringati lagi tanggal dan bulan lahirnya. Allahumma sholli ‘alaa sayyidina Muhammad. Wa’ala alihi sayyidina Muhammad.

Maafkan kami yang kerdil ini. Memaknai Muhammad hanya saat berjasad saja. Usia hidup Muhammad memang hanya 63 tahun, tapi Nur Muhammad ada sepanjang masa, bahlan itulah alasan Engkau menciptakan alam semesta.

Maafkan kami Ya Rosululloh, yang kerap memaknaimu sempit, hanya dari satu sisi. Padahal engkau banyak mencontohkan seluruh aspek kehidupan. Kami kadang selalu menjadikanmu dalam contoh perang saja.

Izinkan kami memegangmu, atau biarlah hanya sekedar memegang sorbanmu. Ya Allah, kami ingin menjadi kekasihMu dan kekasih dari kekasihMu, Muhammad SAW itu.

Bandung, 1 Desember 2017
12 Robiul Awal 1439 H

KOMENTAR

About The Author