Select Page

Resensi Buku : Mencari Perempuan yang Bersembunyi di Balik Hujan

Resensi Buku : Mencari Perempuan yang Bersembunyi di Balik Hujan

Mencari Perempuan yang Bersembunyi di Balik Hujan

 

Oleh : Deden Fahmi Fadilah*

 

Lelaki ini memang sangat menyukai kopi, dan mencari perempuan itu dengan hanya berdiam diri.  Sungguh (?)

Meski sendiri,

Aku tetap di sini.

 

Kopi memang menawarkan rasa pahit,

Tapi pertemuan-pertemuan

Yang tertunda itu,

Sakit!

(Puisi yang Dikirim dari Kedai Kopi)

Dalam buku Perempuan yang Bersembunyi di Balik Hujan (Kopi Sastra; 2016) tampaknya ada misi tertentu bagi si penyairnya: Teguh Syafaat. Tapi bagi pembaca, yang pasti seorang penyuka puisi, definisi “perempuan” pada judul buku ini juga bisa siapa saja, atau mungkin apa saja. Pembaca bisa setuju atau mungkin membantahnya karena telah melihat sampulnya yang seksi. Silakan!

Bagaimana jika membayangkan puisi-puisi dalam buku ini bagaikan kupu-kupu yang bertugas menggenapi misi si penyair. Kupu-kupu bisa menjelma rindu, khawatir, kepesimisan, kemurungan, keputus-asaan, penolakan dan lain-lain. Maka, pembaca juga bisa saja mengibaratkannya juga sebagai kupu-kupu: tak dimiliki siapa pun, tak punya tempat mana pun, siap dinilai bagaiamanapun, dan tak tahu harus bagaimana selain terlihat cantik-ciamik.

Seperti kupu-kupu yang diberi nama: Adinda. Pembaca boleh saja ingat pada ke-pesimisan seorang lelaki menghadapi perempuan—hal ini juga tak menampik bahwa semua lelaki seperti itu. …/entah kenapa/saat meilhatmu, aku selalu ingin mengusir/perasaan-perasaan khawatir//aku khawatir/sebuah perkenalan/justru melukai, umpamanya. Kupu-kupu ini membawa pembaca pada hal yang menggelitik. Karena itu, pembaca akan dibawa pada perasaan yang seutuhnya dianggap tak diinginkan, sebuah perkenalan yang pahit, misalnya. Lalu, perasaan yang haram itu secara diam-diam mencuri sesuatu yang sebenarnya tak diinginkan juga: senyum dan ingatan. Akhirnya pembaca hanya akan melihat kupu-kupu ini terbang tanpa memiliki sesuatu selain kehampaan dan kesedihan.

Selangkah demi selangkah eksplorasi tentang kesedihan dan kemurungan juga jadi gemuk. Mereka membanyak. Pembaca seperti kebanjiran dan tenggelam di kebodohan si “aku”. Namun, itu seperti si “aku” sedang mencari pertolongan yang bergaris lurus dengan: Permintaan. Tiada cinta selain kamu/cinta semesta hatiku/detak dalam tiap detik di hidupku//sebab tak aka nada perjalanan yang begitu panjang/sebab perihal cinta/tak ada namanya kadang-kadang//seperti pantai/kamu memang pintar menarik perhatian/seperti juga laut/kamu pandai menenggelamkan//maka biarkan saja aku tenggelam, kekasih/pada kedalalaman laut hatimu!. Perasaan yang dibawa pada pembaca begitu meyakinkan. Pada sisi yang satu, puisi ini tak membiarkan ada yang boleh menghabiskan waktu selain “kamu”, justru dengan kebanggaan dan kebahagiaan. Juga pada sisi yang lain, si “aku” membiarkan dirinya tenggelam pada kedalaman kesedihan. Bisa saja pembaca melihat si “aku” adalah orang yang bodoh, yang meletakkan kebahagiaan dan kesedihan di suatu ruangan yang sama. Tapi, pembaca juga boleh membilangnya sebagai sesuatu yang cerdas: bukankah keduanya itu yang selalu diminta setiap orang di ruang hatinya?

Ruangan itu juga yang dengan tiba-tiba terbuka bagi si “aku” setelah sekian lama tertutup: jendela, pintu, gorden, ventilasi. Intinya semua itu berubah lega: plong! Namun, seseorang malah terjebak di sana, bersanding rindu. Dia terbuka namun sesungguhnya sangat menyesakkan. Seperti tangan yang terentang lalu memeluk dengan sekuat tenaga: Pelukan yang Menentramkan. Sungguh/aku tidak punya jalan keluar/untuk bisa berhenti merindukanmu, kekasih//bahkan saat pertemuan terbuka/bahkan saat mata kita bergitu dekat jaraknya//…. Ada adegan-adegan yang mengesalkan. Pembaca seperti ingin berkata “pergi saja! Kenapa kamu betah dengan keadaan seperti itu?”. Bagai seekor kupu-kupu, bisa saja menyelinap di lubang ventilasi yang kecil sekali pun. Sekali lagi, dia tak hendak pergi: menolak untuk menjadi masa lalu, menolak mati.

Setelah itu, si “aku” berkesimpulan bahwa menemukan, memunguti, dan menyusun ulang sebuah masa lalu adalah pekerjaan yang menjengkelkan. Pembaca mungkin setuju atas gagasan itu. Tapi, bagi kupu-kupu yang ini, jelas, kenangan adalah senjata yang dipercaya sangat ampuh untuk meluluhkan. Kenangan: Kenangan selalu punya cara/untuk memecahkan dinding hatimu yang kaca//…//kenangan selalu punya cara/untuk melelehkan dinding hatimu yang lilin. Keniscayaan itu jelas naïf! Karena bagaiamana pun, jelas kenangan adalah pisau yang ditusukkan juga keperutnya. Dan membiarkannya malas, bahkan takut, untuk bergerak dan menengok masa depan. Neng: aku melihat kau berjalan mundur/saat gerimis reda di mataku/pelan namun pasti, kau melangkah/menuju pintu hari lalu//kau tidak tersesat/akulah yang terlambat menemukanmu//lantas/ inilah yang mampu kutafsirkan/di matamu, hari lalu barangkali adalah pintu/kau memasukinya/meski kau tahu tak ada jaminan/untuk kebahagiaan baru.

Cukup mengagetkan. Perayaan kupu-kupu dalam buku ini menjadi sesuatu. Napas kupu-kupu itu seketika mengundang mendung. Membiarkan hujan seperti tak terbendung. Kupu-kupu yang serupa rindu itu kebingungan—tak tahu harus kemana akan pulang, tak tahu tuannya, tak tahu harus bagaimana lagi selian berteduh. Maka mereka lari ke mata setiap penikmatnya. Mengorek-korek mata hingga bertetesan airnya. Membuat sarang di dada, bertelur dan siap menjadi kupu-kupu baru nantinya. Ini seperti perasaan yang tertular, atau koreng yang dikupas lalu berdarah lagi.

Perempuan yang bersembunyi itu telah ditemukan, sebenarnya. Ada yang mengatakan bahwa seseorang tak pernah kehilangannya karena tak pernah memilikinya, ada yang membiarkannya membatu dan abadi di ruang masa lalunya, dan ada juga yang bilang bahwa kehilangan perempuan itu serupa cinta yang menyakitkan namun dirindukan, juga membahagiakan. Hujan yang jatuh/menjelma ribuan jarum, kekasih//mengingatmu/ aku seolah merelakan/untuk ditusuki. Seseorang telah mencoba menyadari hidupnya, namun dia juga tak tahu: apakah dia masih memilikinya, pernah tahu bahwa dia pernah memilikinya, atau membiarkan hidupnya berlalu begitu saja?

Jelas, lelaki ini berbohong pada pembaca. Perempuan itu tidak pernah bersembunyi. Sungguh! Dia tahu bahwa perempuan itu ada di balik hujan. Juga dia bukan pecundang. Dia rela tubuhnya tersakiti hujan hanya karena perempuan yang terus bermain-main dengan hujan: menari-nari. Juga, lelaki ini payah. Dia rela meminum kopi pahit meski ada gula yang sebenarnya bisa membuatnya lebih manis. Jika itu semuanya tentang kehidupan, maka ini semua soal menimbang antara masa depan dan masa lalu, rindu dan sakit, bahagia dan kesedihan, senang dan murung, tawa dan air mata, kenal dan tak kenal, cinta dan benci. Dan mencoba mengenali semuanya secara detail.

Seperti lelaki yang tak merasa hidup tanpa perempuan dan sebaliknya, maka lelaki maupun perempuan, mereka sama bersembunyi di balik hujan. Sederhananya adalah di mana pembaca akan berdiri: lelaki yang melihat perempuan di balik hujan atau perempuan yang justru sedang memperhatikan lelaki yang tak berbuat apa-apa di balik hujan? Pembaca wajib waspada karena bersembunyi berarti rahasia, dan rahasia berarti tak tahu apa-apa. Maka pertanyaan utamanya adalah sejauh mana pembaca mengenal diri pembaca serta perasaannya, juga sejauh mana pembaca mengenal seseorang yang sering di sebut “kamu” serta perasaan si “kamu” itu? Mungkin mencari jawaban itulah yang kira-kira menjadi misi si penyair. ***

 

April, 2017.

 

 

*Deden Fahmi Fadilah, Penyuka Puisi

Kandidat Magister Pandidikan Bahasa

Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

KOMENTAR