Select Page

alterntif text

Review Film, Comic 8 : Casino King Part 1

Lazimnya, sebuah ulasan film diberikan sebelum film tersebut tayang serentak di bioskop, berhubung saya tidak dapat undangan gala premiernya, maklumlah namanya juga pengulas film amatir. Saya memutuskan untuk menonton film Comic 8 di hari pertama penayangan film ini dan di jam pertama pula. Selain itu saya juga bela-belain nonton sendirian karena kalau ajak teman berarti yang ngajak harus neraktir. Film Comic 8 : Casino King Part 1 merupakan sekuel dari Comic 8 tahun 2014 yang mencetak hits dengan 1,6 juta penonton. Sekuel ini sudah ditunggu-tunggu para penikmat film tanah air. Terlebih film ini sebelumnya sudah mengalami penundaan jadwal tayang. Mari kita buka saja ulasan film comic 8 : Kasino Kings Berdasarkan apa yang saya tonton.

Sinopsis
Comic 8 Casino King masih setia dilakoni oleh 8 komika tanah air jebolan sebuah talent show di salah satu televisi swasta tanah air. Namun ada yang sedikit berbeda dengan hilangnya Mody Taylor dari daftar cast. Jajaran cast Comic 8 : Casino King terdiri dari Babe Cabita, Ernest Prakasa, Kemal Palevi, Bintang Timur, Mongol Stres, Ari Kriting, Fico Fachriza dan Ge Pamungkas. Sebagai bos agen comic 8 masih diperankan oleh Indro Warkop. Ceritanya sangat sederhana yaitu agen Comic 8 diberikan misi untuk menemukan the king yang diceritakan sebagai bos kasino terbesar di Asia. Dalam perjalanannya kedelapan agen melakukan penyamaran sebagai komika atau stand up comedian untuk bisa menembus kasino milik the king.

Puzzle
Alur cerita dalam Comic 8 : Casino King ini berjalan secara maju mundur. Sama seperti film sebelumnya alur Comic 8 Casino King terdiri dari puzzle-puzzle yang harus disusun untuk mendapatkan cerita yang utuh. Puzzle cerita di film ini terdiri dari The Grudge, The Mission, The Missing Link, The Tour, The King Of Casino dan The Game. Cerita secara utuh akan diketahui setelah menonton keenam puzzle yang ada.

Akting
Karena memerankan karakter masing-masing, maka tak ada yang istimewa dari akting kedelapan komika. Selain kedelapan komika yang sudah disebutkan, di film ini juga tampil komika-komika lain. Saya sih terkesan dengan peran Prisia Nasution sebagai Interpol Singapura, dilihat dari aksennya dan totalitas aktingnya. Saya juga terkesan dengan Hannah Al Rashid. Ternyata Hannah Al Rashid itu cantiknya bukan main. Soal akting memang tidak bisa dibahas satu-satu secara film ini dibintangi oleh kurang lebih 50 aktor dan aktris film Indonesia. Jangan lupa disini tampil juga aktor-aktor lawas seperti Barry Prima, George Rudy, Willy Dozan hingga Lidya Kandau. Atas alasan itu pula film ini dibagi menjadi dua bagian.

Parodi
Meskipun tidak seutuhnya, tapi film ini setidaknya secara garis besar memparodikan beberapa film. Salah satunya film Indonesia dan beberapa film Hollywood. Saya tidak bisa menyebutkan film apa, untuk mengetahuinya harus menyaksikan sendiri filmnya di bioskop. Salah satu adegan parodial film ini adalah ketika Panji (Panji Pragiwaksono) di salam penjara memukul sketsa gambar orang di tembok, persis seperti salah satu film Indonesia yang hits itu.

Spesial Efek
Film dibuka dengan kemunculan para komika di sebuah hutan belantara. Mereka masing-masing ada yang keluar dari dalam koper, seng, hingga dari perut buaya. Ya buaya, banyak sekali buaya yang ditampilkan di sini. Jangan dulu berpikir bahwa buaya-buaya yang ditampilkan akan sama seperti buaya-buaya yang ada di sinetron. Buaya-buaya di sini begitu identik sampai buaya raksasa yang ditampilkan tak kalah dengan reptil-reptil di Jurasic World. Kredit khusus harus diberikan pada tim spesial efek. Selain efek buaya, ledakan-ledakan dan adegan tembak-tembakan yang ditampilkan begitu fantastis.

Mahal
Mungkin ini salah satu film termahal yang pernah dibuat sineas Indonesia. Falcon Pictures selaku rumah produksi memang tidak main-main dalam membuat film ini. Mulai dari setting lokasi, spesial efek, hingga artis-artis yang ditampilkan terlihat jelas bahwa film ini memang bukan film murah. Adegan penembakan sebuah rumah mewah oleh helikopter, peledakan mobil-mobil mewah, pembuatan kasino yang begitu identik, dan penampilan buaya robotika dan CGI yang begitu mirip adalah sebagian dari betapa mahalnya pembuatan film ini. Untungnya Anggy Umbara selaku sutradara tidak menyianyiakan budget fantastis dalam film ini. Dia berhasil meramu sebuah film komedi laga dengan begitu baik.

Kalaupun ditanyakan apa kekurangan film ini, saya barangkali akan menyoroti adegan pesawat yang menerobos awan gelap. Kesan adegan animasi begitu terlihat. Berikutnya adalah ada beberapa kekonyolan-kekonyolan yang agak garing untuk ditertawakan. Namun hal-hal yang kurang itu tidak akan terasa jika menonton film ini secara keseluruhan. Untuk melihat kelanjutan film ini, Penonton harus menunggu Februari 2016. Ya semoga saja kelanjutannya nanti lebih wah seperti yang telah dijanjikan sang sutradara. Selama kurang lebih 90 menit penonton akan disajikan kekonyolan-kekonyolan ala komika dalam film ini. Eitts.. Jangan nonton sendirian, film ini lebih asyik ditonton bersama keluarga dan teman-teman. Oya ada lagu asyik yang dijadikan soundtrack dalam film ini yang membuat Comic 8 : Casino King semakin asyik untuk ditonton. Sebagai seorang pengulas film amatir saya berikan Kategori A untuk film ini.

KOMENTAR

About The Author