Select Page

Review Film Lamaran : Menertawakan Komika Menyesalkan Cerita

Kali ini saya akan mereview salah satu film musim lebaran 2015 yaitu film Lamaran. Film dengan genre drama komedi ini dibintangi oleh Acha Septriasa dan Reza Nangin. Film berdurasi kurang lebih 90 menit ini diproduksi oleh Rapi Film dan disutradarai Monty Tiwa. Bagi yang belum menonton film ini akan banyak spoiler-spoiler dalam review ini. Berikut review film Lamaran berdasarkan apa yang saya saksikan.

Cerita
Cerita film ini tak ubahnya seperti cerita-cerita FTV yang biasa kita saksikan di televisi. Berkisah tentang seorang pengacara bernama Tiar (Acha Septriasa) yang mendadak kondang karena menangani sebuah kasus besar. Akibatnya keselamatannya terancam sehingga ada dua agen khusus yang harus melindunginya. Kedua agen rahasia itu kemudian berpikir bahwa harus ada orang yang selalu dekat dengan Tiar. Dipilihlah Aan (Reza Nangin) untuk menjadi orang yang dekat dengan Tiar. Agar kedekatan Aan dan Tiar tampak nyata, Aan harus diperkenalkan pada keluarga Tiar. Aan yang asli orang Sunda harus bisa menyesuaikan dengan adat Batak dari keluarga Tiar.

Akting
Harus diakui bahwa Acha Septriasa dan Reza Nangin begitu bekerja keras untuk berkomedi di film ini. Hasilnya Reza Nangin berhasil memerankan seorang pemuda sunda yang polos. Kepolosannya tersebut berhasil membuat penonton setidaknya tersenyum-senyum. Begitupun dengan Acha Septriasa yang mencoba mengimbangi dengan aksen bataknya. Ari Kriting dan Sacha Stevenson juga berhasil memberikan dampak komedi yang komikal di film ini. Selain itu ada juga Mak Gondut (Ibu Tiar) yang pastinya akan membuat kita kesal sekaligus tertawa-tawa.
Humor Sarkas
Karena membenturkan dua adat istiadat untuk memancing kelucuan, pada beberapa bagian besar film banyak sekali humor-humor kasar atau sarkas. Entah itu menyinggung soal adat istiadat, ketimpangan ekonomi, atau soal fisik. Walaupun pada bagian lainnya banyak juga kelucuan-kelucuan yang memang lahir dari akting komedi para pemain. Hal itu ditunjukkan oleh Sacha Stevenson maupun Ari Kriting.
Eksekusi Adegan
Dari sisi eksekusi adegan banyak hal yang dirasa kurang atau bahkan tidak ril. Misalnya saja adegan pertemuan Aan dan keluarga Tiar untuk pertama kali, adegan pesta pemberian marga untuk Aan bahkan adegan pamungkas yaitu pesta pernikahan Aan dan Tiar seakan-akan tidak nyata dan dibuat-buat. Eksekusi adegan yang kurang matang bisa dilihat dari aspek artistik yang tidak memadai. Selain itu kesan terburu-buru dalam mengalurkan adegan juga menjadi masalah.
Kamuflase
Seperti kisah-kisah di FTV atau sebagian besar film-film Indonesia. Latar profesi si tokoh kadang menjadi tempelan belaka. Begitupun dalam film ini Tiar sebagai seorang pengacara tidak pernah sekalipun berdebat dipengadilan dengan dialog-dialog yang bersentuhan langsung dengan hukum. Nampaknya ini menjadi kelemahan dalam naskahnya. Begitupun tokoh-tokoh lain seperti Tora Sudiro, Dwi Sasono, atau Mongol Stres, kehadiran mereka semua hanyalah sebagai pelengkap saja.
Bila sekadar ingin tertawa bersama teman-teman dan santai tanpa harus berpikir berat, film ini layak untuk ditonton. Namun bila ingin mendapatkan tontonan humor yang padat berisi film ini tidaklah cocok untuk ditonton. Begitupun dari segi cerita dan eksekusi adegan, yang masih banyak kelemahan di sana-sini. Tapi bagaimanapun sebagai orang Indonesia kita harus mendukung film-film Indonesia dengan cara menontonnya di bioskop. Sebagai seorang pengulas film amatir saya memberikan Kategori B untuk film ini.
KOMENTAR