Select Page

Review Film ZIARAH

Review Film ZIARAH

ZIARAH: MENCARI KEHILANGAN

Oleh Tawakal M Iqbal

Asu! Kira-kira begitulah umpatan yang tepat, ketika tahu bahwa perjalanan panjang seorang perempuan renta berusia 95 tahun bernama Mbah Sri mencari makam suaminya, harus berujung pada kenyataan tentang sebuah pengkhianatan.

Dibuka oleh pengandaian mengenai kehidupan pasca-kematian. Mbah Ponco alias Mbah Sri mulai dibikin gelisah tatkala menyaksikan satu-per-satu karibnya mati dan dikuburkan di samping orang yang mereka cintai. Saat itu, ia berada di taman makam pahlawan di hadapan batu nisan yang tak bernama—pahlawan tak dikenal. Kegelisahan semakin menjadi ketika pada suatu sore Mbah Sri taksengaja terlibat pertemuan dengan tentara veteran yang mengaku kenal dengan suaminya, Prawiro Sahid. Dari veteran itulah Mbah Sri mendapatkan potongan informasi mengenai proses dan kapan suaminya meninggal hingga makam tempat sang suami bersemayam.

Prawiro Sahid, seorang veteran yang diduga gugur saat agresi militer Belanda II pada 1948, dianggap sebagai sosok pahlawan yang sudah tentu patut dikenang. Semasa itu, sebelum pergi berperang, Prawiro sempat berpesan kepada istrinya, Mbah Sri, yang apabila nanti dirinya tidak kembali, maka jasadnya telah menyatu bersama bangsa ini. Mbah Sri dimintanya untuk ikhlas dan tidak mempertanyakan kepergiannya lagi. Pesan itulah yang Mbah Sri pegang sampai saat ini. Sehingga kehilangan suami yang sangat dicintai sekalipun tidak lantas membuatnya limbung. Hingga kesadaran batin dirinya hadir. Kesadaran bahwa tak lama lagi ia akan mangkat dari dunia yang telah banyak menginvestasikan memori hidupnya. Dalam kesadarannya itu, tersimpan harapan bagaimana di masa mendatang, cucunya tahu kemana mereka harus berziarah. Itulah yang membuat Mbah Sri memutuskan pergi meninggalkan rumah untuk mencari makam suaminya. Berbekal sepotong informasi yang tidak utuh dan sebongkah kesetiaan.

Berlatar belakang daerah Yogyakarta dan berbahasa Jawa, produser, penulis, sekaligus sutradara, BW Purba Negara, menjadikan perjalanan Mbah Sri sebagai alat perekam murni mengenai detail-detail kehidupan sosial dan budaya bangsa. Terutama konstruk dari peperangan yang tidak sempat diceritakan di dalam narasi besar sejarah bangsa. Bagaimana trauma terhadap perang masih melekat dalam benak banyak orang yang berujung pada terbentuknya sikap penolakan dan sikap kebencian terhadap hal berbau kemiliteran. Dan itu, sungguh takkan pernah hilang dari Indonesia. Karena terus menerus diwariskan kepada generasi baru yang penuh ketidaktahuan.

Dalam perjalanannya, Mbah Sri banyak ditunjukkan sebuah tabir kebenaran terkait penobatan sosok pahlawan. Apakah benar pahlawan yang sering dianggap sebagai subjek yang berjasa membela negara adalah ia yang bersungguh-sungguh mengabdikan dirinya pada perjuangan? Ataukah sebagian dari mereka menjadi pahlawan karena diuntungkan oleh suatu keadaan?

Levy Seeley dalam History of Education, menulis bahwa sejarah individu mencerminkan dan mengulang sejarah umat manusia, karena sejarah umat manusia adalah cerminan sejarah Kosmos, dan sejarah Kosmos adalah imej kehidupan Tuhan; semua sejarah, baik itu sejarah umat manusia atau sejarah individu, atau sejarah surga yang penuh bintang, atau sejarah bumi, pada hakikatnya adalah perkembangan kehidupan menuju Tuhan.

Ziarah seperti tengah menolak narasi besar pengukung kebenaran sejarah. Bahwa sejarah juga perlu dikonfirmasi. Bahwa peristiwa sejarah ada dan bertebaran di sekitar kita dan tidak melulu harus sesuatu yang populer. Ia bisa saja berada di bawah lindungan sunyi dan sepi atau bermula dari tubuh dan diri seseorang, seperti Mbah Sri.

Film yang Berjalan

Ziarah merupakan salah satu film bertipe road movie. Dimana antarpertemuan menjadi titik tolak tokoh untuk sampai pada tempat dan peristiwa yang baru. Film ini sendiri sebetulnya menampilkan dua buah harapan, mewakili dua zaman berbeda, antara Mbah Sri yang berharap mati dengan tenang; dan Rukman Rosadi alias Prapto, cucu Mbah Sri yang berharap hidup tenang dan bahagia setelah pernikahan. Kata kunci yang menjadi inti masalah dari kedua harapan tersebut adalah kebersamaan. Dan kedua harapan itu menjadi alasan mengapa kedua tokoh utama dalam film pergi meninggalkan rumah.

Dari satu tempat-ke-tempat lainnya. Dari satu pertemuan-ke-pertemuan lainnya. Perjalanan tersebut mengantar kedua tokoh dalam film pada beragam kemungkinan dan kenyataan baru nan asing. Dan BW dengan cerdik membungkus beragam keasingan tersebut dengan simbol-simbol pemantik ingatan masa lalu. Sebagai guidance penonton memahami cerita. Seperti peristiwa besar-besaran pada tahun 1965, kerusuhan antara tentara dan masyarakat desa pada saat pembuatan beberapa proyek pemerintah semisal waduk, dan stereotipe masyarakat yang terbentuk akibat trauma terhadap peristiwa. Dan simbol-simbol tersebut tanpa disadari seringkali muncul lewat guyon khas masyarakat desa yang dihadirkan dengan cara serealis mungkin serta senatural mungkin.

Dengan properti sederhana dan berfokus pada inti cerita, film ini menjadi sedikit berbeda tatkala keris sebagai bagian dari klenik, yang acap dipercayai sebagai sesuatu yang negatif. Justru dibiaskan sehingga menjadi sesuatu yang berperan sebaliknya, yakni sebagai pemberi petunjuk arah yang benar. Keris yang merupakan peninggalan Prawiro Sahid menjelang kepergiannya berperang menjadi obat pereda belenggu kerinduan Mbah Sri. Ketika ia tidak tahu lagi kemana harus berjalan pergi menemukan makam suami.

Ada makna mendalam yang ingin ditunjukkan BW pada semua orang. Yakni, tentang bagaimana cara bersikap dalam menerima keadaan tanpa harus menghancurkan keadaan lainnya. Terutama pada scene terakhir film, ketika Mbah Sri menemukan kenyataan, bahwa selama ini suaminya tidak benar-benar mati dalam perang seperti yang selama ini ia yakini. Prawiro ada dan hidup bahagia bersama istri barunya. Kebohongan yang telah bertahan 40 tahun lamanya, Mbah Sri sikapi dengan belas kasih dan penuh bakti: menyapu dan membersihkan makam suami dan istri mudanya.

Satu-satunya yang tersisa dan menjadi penjaga Mbah Sri tetap bertahan adalah kebanggaan dan kepercayaan. Bahwa suaminya telah turut berjasa menebus kemerdekaan dan membebaskan bangsa dari derita berkepanjangan.

Usai Saat Pembicaraan

Perjalanan Ziarah sebenarnya telah usai sejak perbincangan para cameo yang dihadirkan BW dalam beberapa adegan. Misalnya percakapan tiga warga desa ketika mendapati mobilnya mogok di tengah perjalanan kampung yang berbukit. Mereka saling membincang tentang kredibilitas penyematan status pahlawan pada orang yang meninggal saat perang dan beberapa kronologi gugurnya pribumi di zaman peperangan. Selain itu perbincangan di saung dan di beberapa jalan tentang militer yang pro dan kontra terhadap rakyat dan militer yang kerjanya ngegerogoti rakyat.

Intensi konflik film yang menjadi inti cerita semakin mengemuka ketika adegan Prapto menumpang mobil bak yang membawa jasad perempuan korban bunuh diri. Dalam perjalanannya, Prapto mendengar warga desa membincangkan penyebab mengapa perempuan itu bunuh diri. Karena aib perselingkuhan suaminya yang telah dipendam selama 30 tahun, tanpa sengaja terbongkar. Akibat tidak bisa menerima masa lalu yang kejam dan enggan berdamai dengan masa sekarang, akhirnya mendorong perempuan itu memilih mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri.

Rekaan cerita itu semacam simpul berkait.  Apa yang diceritakan warga itulah sebenarnya akhir dari cerita. Hanya saja situasi di akhir cerita dibuat terbalik. BW seperti ingin mengembalikan pilihan pada setiap orang. Bahwa hidup, sakit, benci, dan lain sebagainya, adalah soal memilih. Tidak ada yang berhak mengintervensi setiap orang dalam memilih, bahkan keadaan sekalipun.

Di usianya yang semakin senja, Mbah Sri telah memilih untuk memaafkan masa lalu dan berdamai dengan masa sekarang. Sebuah sikap yang telah banyak membuat orang—penonton—memendam sakit.

Sebagaimana ditampilkan sosok Mbah Sri yang mudah sekali percaya pada apa yang diceritakan orang, sekalipun baru ia kenal. Ziarah menunjukkan sisi lain tentang tradisi tutur yang senantiasa merawat kultur dan sejarah bangsa. Film ini memberitahukan bahwa melalui cara-cara demikianlah memori masyarakat akan terus terawat. Meskipun soal kebenaran dan ketidakbenaran, takseorang pun bisa menjamin. []

 

*Tawakal M Iqbal, Kepala Program Kofarkor Foundation, Penulis Skrip Sintas Dokumenter, dan Pelaksana Penyusunan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) V.

Kontak : 0812-8435-2101

tawakal.mi@gmail.com

 

KOMENTAR

1 Comment

  1. Sabila

    Bagus sekali review-nya. Saya sudah menonton film ini dan memang sangat terkesan, terutama alur ceritanya yang penuh kejutan dan kita harus merangkai sendiri dengan logika kita. Namun, ada yang mengganjal di review Kak Tawakal M. Iqbal ini, yakni nama suami mbah Sri. Kalau di makam, tercantum Pawiro Sahid, bukan Prawiro Sahid. Mohon koreksinya.

    Balas

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *