Select Page

Yuk Cek STRATEGI BIKIN DAN NERBITIN BUKU SENDIRI

Yuk Cek STRATEGI BIKIN DAN NERBITIN BUKU SENDIRI

Do you have a great passion for writing dan mimpi menjadi penulis terkenal serta menghasilkan karya yang bisa dinikmati cicit kita kelak? Sekarang saatnya mewujudkan mimpi tersebut dengan membuat satu langkah besar, yaitu menerbitkan buku kita sendiri! And yes, it is possible!

Zaman sekarang, jadi penulis itu enak, lho. Punya kebebasan waktu, bisa bekerja kapan dan di mana aja kita mau. Ditambah penghasilan yang menjanjikan kalo novel kita laris manis. And for all that, mungkin yang diperlukan hanya imajinasi, sebuah PC dan keinginan yang kuat.

FYI, Eragon adalah novel yang ditulis saat penulisnya berusia 19 tahun. So, age is not the measurement, melainkan keyakinan dan kerja keras yang menentukan. Menerbitkan sebuah buku, bukan hal yang gampang, tetapi bukan juga hal yang mustahil. Ada dua cara yang biasa ditempuh penulis untuk menerbitkan bukunya:

 

CONVENTIONAL WAY

Konvensional bukan berarti kuno atau nggak terpake lagi lho. Cuma aja, ini adalah cara yang paling umum dilakukan oleh penulis. Metodenya simpel, yaitu mengirimkan tulisan kita ke penerbitan dan tinggal tunggu kabar dari mereka. Gogirl! sempet ngobrol dengan Mbak Oktavia Erdyan, PR dan Promotionnya Terrant Books. Terrant merupakan publisher yang menerbitkan karya kayak Eiffel I’m in Love dan  Menurut Mba Oktavia ada beberapa kriteria tulisan yang layak cetak, yaitu:

Remaja Banget. Siapa yang lebih ngerti tentang dunia remaja kalo bukan remaja sendiri, iya nggak? Untuk setting, sebaiknya Indonesia aja. Gunakan bahasa lisan sehari-hari, supaya enak dibaca.

Original dan Unik. Ini yang paling penting. Ceritanya harus asli karya kita sendiri. Bukan jiplakan ataupun saduran. Angkat tema baru. Pikirkan sesuatu yang belum pernah diangkat oleh penulis lain.

Kreatif. Kirim naskah kita dengan cover yang menarik, jangan hanya dijilid biasa. Packaging yang oke bisa menarik hati publisher untuk membacanya duluan.

 

SYARAT TEKNIS

Minimal 100 halaman folio dengan font bebas maksimal ukuran 11-12, spasi satu setengah. Tidak mengandung unsur SARA dan pornografi. Karya asli buatan kita sendiri dan belum pernah diterbitkan.

Inmportant Note: Naskah kita akan bersaing dengan banyaaaak naskah lain. Jadi harus sabar ya….

Pembagian keuntungan. Biasanya penulis mendapat 10 persen dari harga buku. Jadi kalo harga buku kamu sekitar Rp24 ribu, berarti kita akan dapat Rp2400 untuk setiap buku yang laku. Kalo buku kita terjual 10 ribu copy (angka ini udah termasuk laris lho…), berarti kita bisa menghasilkan Rp24 juta. Lumayan banget, kan?

 

SELF PUBLISHING

Setya Widya adalah penulis novel “Kalo Cinta Ngomong Dong”, “Jojoba” (Jomblo-Jomblo Bahagia) dan “Kangen” yang ia terbitkan sendiri. Khusus untuk pembaca Gogirl! Mbak Setta membagi ilmunya yang mahal dan didapatkan lewat pengalaman bertahun-tahun.

Kenapa memilih menerbitkan sendiri?
“Dengan self publishing, kita berkuasa sepenuhnya atas buku yang kita garap. Kalo pake penerbit, emang mereka yang membiayai, maka itu mereka juga berhak untuk mengedit naskah, sampul, sampe judul. Strategi marketingnya juga mereka yang menentukan”, jelas mba Setta.

Kalo  kamu punya modal dan ingin menerbitkan buku sendiri, mba Setta ngasih tips dan langkah-langkahnya

Naskah. Perlu sedikit riset untuk mengetahui buku apa yang sedang in. Nggak harus mainstream, tapi kita juga harus berpikir bisnis.

Layout. Kalo naskah udah selesai, yang perlu diperhatikan adalah layout. Ini nggak kalah penting karena sebelum isi, tampilannya dulu yang dilihat orang.

Percetakan. Karena kita sendiri yang mengeluarkan dana, cari percetakan yang harganya murah, tapi bisa dipercaya dan hasilnya bagus. Untuk pemula, minimal cetak disarankan 6000 copy. Jumlah ini ideal dan cukup untuk disebarkan di seluruh kota besar Indonesia.

Distributor. Sebenarnya kita bisa aja menyebarkan buku sendiri ke toko-toko buku. Tapi bakal repot banget. Dengan distributor, kita bisa menyebar ke seluruh Indonesia. Distributor fee-nya rata-rata 55% dari harga buku. Mereka akan membiayai ekspedisi buku kita dan menanggung resiko kalo buku kita nggak terjual. Dalam empat bulan, kita udah bisa dapat laporan penjualan.

Income. Setiap penulis punya formula masing-masing yang menjadi rahasia dapur mereka. Tapi ilustrasinya kayak ini… Biasanya, harga cetak buku itu 1/10 – 1/12 dari harga jual. Misalnya ongkos cetak kita Rp2400. Brarti kita untung 90%. Kalo dibagi ke distributor 55%, kita tetep bisa untung 35%. Dari sini juga kita bisa menghitung modal, yaitu 6000 copy x Rp2400 = Rp14.400.000. Kalo kita berhasil menjual habis 6000 copy, dan untung 35%, pendapatan kita Rp. 50.400.000

Promosi. Setelah buku beredar di pasaran, kita perlu mempromosikannya. Bisa lewat sms, email, website, dan kirim ke majalah-majalah serta surat kabar untuk diresensi.

 

 

 

Sumber : http://www.gogirlmagz.com/news/life/my-book-my-name-I58042.html

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *