Select Page

alterntif text

Angkot Di Pasang AC, Tarif Naik Rp1.000

Angkot Di Pasang AC, Tarif Naik Rp1.000

(Headlinebogor.com) – Di tengah rencana ang­kot ke kampung-kampung yang tak kunjung terealisasi, muncul lagi rencana soal angkot ber-AC. Kota Bogor masuk sebagai salah satu kota penyangga yang jadi percontohan untuk angkutan ber-AC menyusul kota-kota lainnya yakni DKI Jakarta, Bekasi dan Tangerang.

Wali Kota Bogor Bima Arya mengaku akan me­nyeleksi angkot yang ada, termasuk trayeknya. Ini disesuaikan dengan usia angkot dan pernak-perniknya sebagai penunjang kenyamanan. “Ka­lau mereka nyaman, mereka tidak perlu meng­gunakan kendaraan pribadinya lagi,” terangnya.

Untuk tahap percontohan, ada sepuluh unit angkot yang akan diuji coba. Namun, pihaknya mengaku belum merinci trayek mana saja yang akan dilintasi ang­kot ber-AC, termasuk penyesuaian tarif angkotnya.

“Kami sebena­rnya inginnya bisa sampai 500-1.000 angkot. Tetapi nanti lah, bertahap dulu. Ini masih kita rapatkan karena kan baru juga dapatnya,” kata Bima.

Menurutnya, keberadaan angkot ber-AC nantinya bisa membiasakan warga meng­gunakan angkutan umum ketimbang kendaraan pribadi.

“Memang arahnya ke sana, makanya angkot harus dibuat nyaman,” ujarnya.

Di Jakarta, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan memprediksi adanya fasilitas seperti AC otomatis membuat tarif angkot ikut menyesuai­kan. Namun meski mengalami penyesuaian, lanjut Shafruhan, dirinya meyakini kenaikan tarif angkot tidak akan besar.

Menurut dia, kenaikan tarif hanya berkisar Rp500-Rp1.000 dari tarif yang diberlakukan saat ini Rp3.000-Rp3.500. “Pal­ing yang dari sekarang nai­knya hanya Rp500-Rp1.000, tidak banyak. Tetapi kan orang nyaman, nantinya juga kan tidak ada lagi orang naik mikrolet bergelantungan. Nanti dihitung, bukan hanya soal biaya operasional tapi investasinya juga,” terangnya.

Sementara Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor Rakhmawati menjelas­kan, pihaknya akan memba­has untuk tarif angkot ber-AC tersebut karena harus ada perbedaan biaya antara ang­kot biasa dan ber-AC. Sebab, hal itu akan berpengaruh kepada penggunaan BBM. “Nanti kita akan bahas dulu dengan organda terkait tarifnya, karena kita juga belum memilih angkotnya yang akan dipasang AC,” paparnya.

Dishub juga akan memilih angkot yang masih baru den­gan CC besar sehingga kuat jika dipasangi AC. Sebab, menurut Rakhmawati, masih banyak angkot di Kota Bogor yang kekutannya masih 1.000 CC. “Kalau angkot yang lama tidak bisa dipasang karena harus ada peremajaan terlebih dahulu,” katanya.

Rakhmawati mengaku saat ini pihaknya akan membahas tentang CC angkot di Kota Bogor dengan organda. Hal itu berkaitan dengan program dari kementerian perhubun­gan yang mewajibkan angkot menggunakan AC pada 2018. “Memang harus ada pemba­hasan lebih lanjut untuk mem­persiapkan. Untuk saat ini belum kita mulai karena masih fokus ke program transportasi lainnya,” ujarnya.

Disinggung soal program angkot masuk kampung, Ra­khmawati menyatakan bahwa program itu baru berjalan untuk trayek angkot TPK 2 dan TPK 3 jurusan Terminal Bubulak-Ciawi.

Juli ini, pihaknya akan kem­bali mengoperasikan angkot TPK 4 dan TPK 5. “Yang su­dah berjalan TPK 2 dan TPK 3. Kemarin TPK 4 dan TPK 5 mau berjalan tapi tertunda Lebaran,” jelasnya.

Untuk itu, pengoperasian TPK 4 dan TPK 5 akan dilaku­kan serentak dengan bebera­pa trayek lain yang juga belum mulai dioperasikan. Secara keseluruhan, ada 30 trayek an­gkot yang bakal beroperasi di Kota Bogor pasca-rerouting. “Jadi nanti akan serentak, TPK 4, TPK 5 sekaligus feeder, itu sekaligus bareng. Nanti tanggalnya diinformasikan kembali,” tuturnya.

Kini pihaknya tengah me­nyiapkan segala sesuatunya guna kelancaran penerapan rerouting mendatang. Se­belumnya, konsentrasinya sempat terpecah karena harus mengatur pengamanan arus libur Lebaran dalam Operasi Ramadniya. “Segala macam sudah disiapkan semua. Ke­marin sudah disiapkan no­mor-nomor kendaraan yang buat ke feeder. Kita akan rapat internal, sebelumnya fokus untuk Operasi Ramadniya,” katanya.

Rakhmawati menjelaskan bahwa pihaknya sengaja melakukan penerapan berta­hap agar tidak membingung­kan masyarakat. Kemudian keterbatasan jumlah personel juga menjadi alasan penera­pan rerouting tidak dilakukan serentak. “Kalau sekaligus kan masyarakat jadi bingung, kekurangan personel juga. Dua dulu, setelah beberapa minggu baru TPK-TPK selan­jutnya,” jelasnya.

Pihaknya sengaja menda­hulukan penerapan trayek angkutan massal karena per­annya yang vital. Selain itu, penerapan trayek angku­tan massal lebih cenderung mudah daripada penerapan angkutan feeder. Sebab, ada beberapa angkutan feeder yang sebelumnya masuk ke beberapa lokasi. “Terakhir yang paling sulit masuk ke feeder karena ada beberapa lokasi yang sebelumnya tidak dimasuki angkot. Harus koor­dinasi juga dengan camat. Karena nanti kaitannya juga dengan ojek pangkalan dan lain-lain,” ungkapnya.

Rerouting ini sejatinya meru­pakan upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor untuk menata wajah transportasi Kota Hujan. Program ini merupakan taha­pan kedua yang dilakukan pemkot setelah membuat seluruh angkot berbadan hukum. Sehingga tahapan terakhir setelah reroting ber­jalan optimal, akan dilaku­kan konversi angkot ke bus. “Memberikan waktu enam bulan, terhitung sejak Maret untuk melakukan konversi,” pungkasnya.

(metropolitan.id)

KOMENTAR

About The Author