Select Page

Diduga Menuai Banyak Permasalahan, Kemenag Depok Pelajari Yayasan Mutiara Bangsa | Headline Bogor

Diduga Menuai Banyak Permasalahan, Kemenag Depok Pelajari Yayasan Mutiara Bangsa | Headline Bogor

DEPOK – Pertemuan yang hangat antara media Suara Islam Indonesia, Headline Bogor dengan Kepala Kementrian Agama (Kemenag) Depok H. Ismed Hidayat, pertemuan sendiri berlangsung di Kantor Kemenag Jalan Boulevard Raya Kota Kembang Depok pada hari Selasa 24 April 2018.

Pada kesempatan pertemuan tersebut pemilik dan sekaligus pimpinan umum media Suara Islam Indonesia mempertanyakan status kepemilikan Yayasan Pesantren Mutiara Bangsa yang berlokasi di Jalan Joglo No 44 RT 02 RW 07 Kelurahan kukusan Kecamatan Beji Kota Depok serta mengenai izin pesantren tersebut.

Namun Kepala Kemenag Depok H. Ismed mengatakan jika Kemenag sampai dengan saat ini belum mempelajari tentang permasalahan Yayasan Mutiara Bangsa.

“Kami belum mempelajari terkait permasalahan yang terjadi di tubuh Pesantren Mutiara Bangsa, namun selintingan kami pernah dengar adanya permasalahan hukum yang terjadi di pesantren tersebut apakah telah selesai ataupun belum saya tidak mengikuti perkembangannya sampai dengan sekarang adik-adik media datang kemari,” ujar H. Ismed

“Kami pun akan mencoba membantu rekan media apabila ada hal positif yang harus kami bantu ya paling sedikit kami akan mencoba mempertemukan Ketua Yayasan tersebut kepada pemilik sertifikat yang sebenarnya, oleh karena itu kami tidak mau ada pesantren yang bermasalah di bawah naungan kami sebagai Kemenag atau perwakilan dari elemen pemerintahan yang ada di negara kita,” tambah H. Ismed

Lebih jauh H. Ismed memgatakan bahwa pesantren di Kota Depok terdapat lebih kurang hampir 90 pesantren yang mempunyai permasalahan, dengan permasalahan yang berbeda – beda.

“Perihal izin yang dipertanyakan terus terang kami belum membuka di arsip kami, apakah memang sudah kadaluarsa yang perlu di registrasi ulang bahkan apakah terdaftar, dengan registrasi ulang akan sangat membantu kami dalam hal pendataan kembali karena di sini kami memakai EMIS yakni Education Management Informasi System,” pungkas H. Ismed

Sembiring

KOMENTAR