Select Page

VIEWERS BUKAN JAMINAN SEBUAH KARYA BERTAHAN DALAM PERSAINGAN | Headline Bogor

VIEWERS BUKAN JAMINAN SEBUAH KARYA BERTAHAN DALAM PERSAINGAN | Headline Bogor

DEPOK – Pada hari sabtu 23 Maret 2018 Acconting Book Fair mengadakan Talk show dan Bedah Buku, bertempat di Gedung Serba Guna Politik Tenik Negeri Jakarta (PNJ), acara tersebut diramaikan oleh sejumlah mahasiswa yang berdatangan dari berbagai daerah di Jabodetabek. Hadir dalam acara tersebut penulis – penulis terkenal Boy Candra.

Kehadiran Boy Candra di acara tersebut disambut meriah oleh para penggemarnya. Penulis buku “Cinta Paling Rumit” itu datang jauh-jauh ke Jakarta dengan ditemani oleh keluarganya. Boy sendiri sedang meneruskan gelar masternya, pascasarjana di salah satu Universitas di Padang, Sumatera Utara. Dan Boy telah menulis 13 buku, dan berencana akan meliris novel kembali bergenre comedy, setelah Cinta Paling Rumit.

Dalam acara tersebut Boy Chandra juga memberikan tips dan motivasi untuk kaum muda dalam mengkuatkan tekad dalam menulis dan menerbitkan karya mereka, Dan Boy sendiri termotivasi menulis karena ingin membuat ayahnya terkenal. bertahan sampai sekarang menghadapi persaingan sekarang adalah orang tuanya sendiri.

Penulis cinta paling rumit itu terkenal dengan gaya bahasa khasnya namun tidak melenceng dengan kaidah bahasa Indonesia ataupun bahasa Baku. Boy Candra yang terkenal dengan menargetkan karya tulisanya dengan sasaran anak 13-25 tahun terutama khususnya para kaum wanita, yang sedang dimabuk cinta.

Boy Candra punya pandangan dan harapan besar pada bangsa Indonesia, kalau beberapa tahun ke depan akan ada ibu-ibu yang menanamkan cinta baca kepada anak-anaknya kelak nanti. Karena sering kali kerap mendengar masyarakat Indonesia itu minat bacannya sangat kurang ataupun melemah, tetapi tidak punya solusi untuk menangani hal seperti ini.

Nah, penulis cinta paling rumit ini memberikan suatu padangan berbeda, ia menyelami diri para anak remaja yang memang sangat kurang minat baca ataupun tidak open mind pada buku-buku, dan bisa dibilang memilah-milah bukulah. Dengan menuliskan gaya bahasa yang khas, Boy Candra berhasil menyelami diri anak muda zaman sekarang bahkan buku-buku pun laris di pasaran dan menjadi best seller.
Boy Candra juga memberikan bocoran kalau bukunya sedang ditawari oleh seorang sutradara. Untuk di angkat dalam film layar lebar. Dan sedang melalukan negosiasi, dengan candannya Boy Candra berkata kepada para peserta, “Jangan lupa nanti nonton, ya. Awas kalau nggak nonton, di santet satu-persatu.” Ia menyengir dan kemudian tertawa dengan candaan yang membuat para peserta tertawa di dalamnya.

Selain seorang mahasiswa dan menulis ia juga aktif mengisi acara seminar di seluruh Indonesia. Ia tidak pernah memilah-milah buku karena ketika membaca buku siapapun Ia belajar banyak hal. Boy Candra mengutarakan kebahagiannya dalam menulis karena dengan menulis ia bisa menginspirasi banyak orang dan bisa mengitari hampir seluruh Indonesia.

Boy Candra pun sempat beberapa kali ditolak oleh penerbit, tetapi tidak membuat dia putus asa dalam meraih impian. Ia berpendapat kalau menulis itu memang sebuah perkerjaan menjanjikan, termasuk di zaman millennial seperti ini menjadi penulis adalah pekerjaan yang menjanjikan tetapi memang tidak mudah. Sampai-sampai harus mencuri atau merampas karya orang lain. Seperti, kasus yang terjadi pada Ainun Nufus, Lovya Dianny,dan masih banyak lagi. Kasus ini memang sudah terjadi pada 2000 silam lalu, dan kini terlulang kembali, bahkan Boy Candra yang masih mengingat tentang kasus itu dengan baik, hingga ketika beliau ditanyakan soal kasus belakangan ini Ia pun sampai memberikan padangannya tentang perihal, yang terjadi pada Ainun Nufus.

Tetapi Boy Candra memberikan padangannya bukan hanya pada plagiator saja tetapi juga untuk para penerbit tentang kasus yang menimpa di dunia penulis saat ini. Boy Candra juga mengutarakan kekecewaannya kepada para penerbit, yang kurang selektif dalam mebedah karya, hingga kasus seperti ini mereka kurang menanggapi.

Penulis buku cinta paling rumit itu sempat tertawa ketika ia disamakan dengan penulis senior, Seno Gumira Ajidarma, salahsatu mantan Jurnalis dan photograper Indonesia itu.
Namun, ketika beliau disingung soal kasus plagiator yang sedang mewabah di dunia kepenulisan dan sedang bersarang di wattpad, dengan peka Boy Candra langsung memberikan sebuah pernyataan dengan tegas

“bahwa menjadi penulis itu memang tidak gampang tapi remaja sekarang ingin mendapatkan hasil dengan instan,” tuturnya ketika di tanyai soal kasus Ainun Nufus belakangan ini.

“Semakian kaya sebuah konten mau sastra, puisi, novel kalau konten asli tidak masalah. Kayak zaman Raditya Dika, gaya baru personal Literature nggak ada masalah untuk memperkaya bahan bacaan karena kalau nggak bertambah begitu kita nggak maju-maju. Karena dunia kreatif adalah dunia yang terus tumbuh, dan plagiat bagi saya sesuatu yang tidak bisa diterima karena itu suatu penyakit yang mewabah. Sebenarnya gini, plagiat itu tidak semata penulis saja tetapi di balik orang-orangnya. Misal penerbit dan lain-lain, dan kalau memang sudah tahu kasusnya harusnya buku-buku yang terkena plagiat itu ditarik dari peredaran. Seperti kasus 2000 berapa, ya. Itu bukunya sempat ditarik,” ujar Boy saat ditemui di PNJ.

Tetapi Boy Candra menyadari satu hal dari sisi anak-anak muda masa kini tentang soal bisnis dan soal teknologi, ia pun melanjuti paparan kata-katanya, Disatu sisi bagus untuk anak zaman sekarang agar melek dan sadar teknologi. Dan di satu sisi lagi maunya instan, ingin terkenal.

Dan Boy Candra sendiri percaya kalau menulis itu tanggung jawab itu bukan hanya di dunia tapi ada tanggung jawab lain juga ketika menyampaikan sebuah gagasan kepada banyak orang melalui sebuah buku yang ditulis.

“misal ada buku Eka Kurniawan ada di bukunya bahasa yang agak fulgar tapi genrenya pas, namun ketika kalian menulis genre teenficition, anak remaja seperti itu dengan bahasa agak-agak kasar, saya rasa kurang pas. Karena membuat orang berpikir orang jadi merubah tidak baik,” jelas Boy Candra ketika di tanya soal pengunaan Bahasa dalam sebuah Novel di kalangan anak remaja.

Namun ketika ditanya kembali soal blogger orange itu, Boy Candra kembali memberikan jawabannya tentang kasus-kasus para penulis amatir maupun penulis wattpad yang sedang terkena plagiator, bahkan enggan untuk mengangkat kasus itu keranah hukum.

“Justru sebenarnya kalau dia bukuan plagiat tidak ada masalah, dan bila saya dituduh saya bisa buktikan proses dan perjalanan saya. Tapi kalau memang si penulis itu nggak ngerasa dia plagiat, ya buktikanlah. Dan anehnya, plagitor malah lebih sangar lagi.”

Boy Candra cukup terheran-heran ketika melihat para plagiator tidak merasa bersalah ketika dituduh seperti itu, tapi ia percaya kalau dunia kreatif itu hiruk-pikuknya tidak bisa bertahan kalau modalnya mencuri tanpa berlatih –berlatih maka kita tidak dapat berkembang, kamu hanya modal bertambah tanpa berlatih karena kalau berlatih kamu bisa bertumbuh.

Penulis Cinta Paling Rumit itu memang memiliki wattpad. Namun Boy Candra memilih tidak memainkan wattpad-nya karena ia menjamin pasti ketika sebuah karya terlahir dari wattpad itu bukan jaminan laku di pasaran, karena modal jaminan pasti dalam sebuah buku ketika menerbitkan buku, menuliskan, dan mengaruk satu judul bukan seperti itu, tapi seberapa lama sebagai seorang penulis bisa bertahan , apa karya dalam sebuah buku kamu hasilkan adalah tantangan ‘mutu’ dan ‘makna’dalam sebuah buku. Tapi salah satu orang yang mau berproses adalah orang cocok mau bertahan dalam sebuah tantangan dalam menerberitkan karya.

Dalam kasus plagiat yang menimpa Ainun Nufus Boy berharap orang yang menjadi plagiat ini untuk berubah menjadi lebih baik.
Sedang perihal banyanya buku – buku yang berkonten ponografi yang sering terbit di toko buku, boy berujar

“ Menulis seperti itu boleh saja tapi sasaranya untuk siapa? Tapi kalau untuk anak ABG saya rasa kurang pas,”

Tiara

KOMENTAR