Select Page

Advertisement

“Bebegig” sebuah Cerpen Karya IIS W

“Bebegig” sebuah Cerpen Karya IIS W

Benda-benda itu sudah berbaris rapi di hadapan mang Rukanda. Ada seikat besar jerami dan rumput-rumput kering. Ada sebonggol bambu betung sepanjang hampir dua meter, baju bekas, juga cetok[1]. Ada juga sebilah kayu selebar lima sentimeter dengan panjang kira-kira satu meter. Semua itu disiapkan untuk membuat bebegig. Sebenarnya sudah tiga bebegig yang dibuat Mang Rukanda. Bukan, bukan untuk dijual, karena di kampungnya belum ada usaha penjualan bebegig. Tapi dia berusaha untuk mengamankan padinya dari kejahilan ratusan bahkan bisa ribuan piit[2] yang kerap memburu padinya yang siap panen. Dengan terampil tangan mang Rukanda mengambil, menarik, dan mengikat benda-benda itu. Tidak memakan waktu satu jam, jadilah orang-orangan. Rumput kering dan jerami yang diikat kuat dibuat menjadi kepala bebegig, bonggol bambu menjadi badan, kayu yang melintang menjadi tangan, mirip manusia yang tengah merentangkan tangan. Lalu dipasang pula pakaiannya dari karung goni. Setelah selesai, dipandangnya bebegig itu, diajaknya mengobrol, dinasihati supaya benar-benar bisa menjaga sawahnya. Mereka saling pandang meskipun bebegig itu tak memiliki mata. Lalu bebegig itu mengangguk ragu, tanpa kata. Entah mengapa mang Rukanda merasakan aroma ciut dari bebegignya itu. Berbeda dengan bebegig-bebegig lain yang dibuatnya.

Ketika itu, bi Rukmini, istri mang Rukanda, muncul membawa secangkir teh tanpa gula. Di kampungku memang tidak begitu tren yang namanya teh manis. Apalagi teh celup. Teh yang diminum kebanyakan teh tubruk atau teh hijau yang dikirim langsung dari pabrik.

“Sudah selesai Kang bebegignya?”

“Sudah Nyi, tinggal dipasang. Mudah-mudahan kalau bebegignya dibuat banyak burung-burung betul-betul kapok.”

“Berarti sudah ada empat bebegig ya Kang?”

“Baru empat, nanti Akang bikin lagi. Benci banget Akang dengan burung-burung sialan itu.”

“Terus nanti malam Akang menginap di saung[3] lagi?”

“Iya, sudah pasti. Akang takut burung-burung itu menyerang lagi seperti semalam.”

“Burung yang aneh, masa malam-malam masih juga berkeliaran.”

Wajah mang Rukanda kesal. Memang, akhir-akhir ini para piit itu sering mengganggu sawah para petani di kampungku. Burung-burung itu secara bergerombol menyerang hamparan padi. Tidak saja padi yang siap dipanen, tapi juga pada bulir-bulir yang masih cair dalam kantung padi. Gerombolan burung itu juga tidak datang sore atau pagi hari, tapi siang ketika matahari di atas kepala, bahkan malam hari. Makanya tidak heran hampir seluruh penghuni kampung lebih banyak memilih tidur di saung sambil menjaga sawah daripada membiarkan burung-burung itu mencuri padi mereka.

Biasanya kedatangan burung itu memang tidak kentara. Mang Rukanda hanya punya intuisi saja, terutama malam. Burung-burung itu datang secara diam-diam. Seakan mengendap-endap tanpa suara. Setiap setengah jam mang Rukanda menggerakkan tali yang ada di dalam saungnya. Tali itu menyambung terbentang si atas sawahnya yang hanya empat petak. Setiap sudut, tali itu terhubung dengan bebegig yang dibuat olehnya. Tentu saja agar para burung berpikir mereka adalah manusia penjaga. Dengan demikian burung-burung itu akan takut ketika bebegig itu bergerak. Gerakan bebegig itu disertai bunyi-bunyi kaleng bekas bersentuhan yang sengaja dipasang pada bagian atasnya.

Malam itu mang Rukanda kembali ke sawahnya. Dia ditemani Ujang anak sulungnya yang sudah lima belas tahun. Dengan perbekalan selimut dan bantal serta masing-masing dengan sarung mang Rukanda sudah siap berperang melawan burung-burung nakal itu. Sebuah senter besar bertengger di tangannya. Perjalanan mereka ke sawah juga diikuti oleh para tetangga dan beberapa warga kampung yang memiliki nasib yang sama. Tentu saja pesawahan itu menjadi semarak dengan kelap-kelip lampu di tiap saung. Mulai malam itu, suara kaleng ramai dari tiap penjuru, setiap setengah jam sekali. Begitu pun, seiring bersahutannya suara kaleng rombeng, bergerak-gerak pula bebegig itu mirip manusia.

“Weeey, nyingkah bangsat!” sebuah teriakan dari sebuah saung disusul dengan suara gedombrang kaleng yang bersentuhan.

Bergeraklah bebegig-bebegig itu. Serempak dari semua petak sawah. Berbagai gerakan terlihat. Bebegig itu juga jago menggerakkan tubuh, dengan tangan melintang, dengan kaki berlipat, dengan gerak kuda-kuda. Hingga tubuh meliuk mirip pencak silat. Irama kaleng rombeng menjadi pengiring. Setelah itu, berhamburanlah para burung untuk putar arah. Atau mereka beterbangan kembali setelah bertenggeran di atas bilur-bilur padi.

Mang Rukanda bergantian dengan Ujang untuk mengawal kerja bebegig itu. Menggerakkan tali yang dibentang dari dalam saung, setiap setengah jam. Tentu saja itu memakan tenaga. Karena hampir separuh waktu tidurnya terpakai. Sementara itu, burung-burung nakal itu tidak jera juga untuk terus beriringan menuju sawah mereka. Dan mereka datang justru di sela-sela antara tiap setengah jam itu. Dan bebegig rupanya tak punya daya untuk bekerja sekeras itu.

Jika mengingat bebegig, sebenarnya aku selalu diingatkan pada bebegig milik kakekku almarhum. Kalau tidak salah, bebegig yang menjaga sawah kakekku adalah bebegig yang bernyawa. Entah mengapa caranya. Bebegig itu bisa bergerak sendiri tanpa digerakkan oleh bentangan tali dari dalam saung. Dan sawah kekekku selalu aman setiap waktu. Konon, katanya burung-burung itu sudah ketakutan meskipun hanya melihat bebegig itu dari jauh. Bahkan bebegig kakek tidak saja bisa menjaga sawahnya, tapi juga ladang dan kolam. Para bebegig yang dibuat kakekku itu memiliki kekuatan gaib yang tidak dimiliki oleh bebegig mana pun. Katanya begitu.

Rupanya kekuatan bebegig yang dimiliki kakekku membuat mang Rukanda tertarik untuk bertanya kepada nenek yang sekarang sudah sangat tua. Bahkan nenekku itu sudah tidak kuat lagi berjalan. Oleh karena itu, ketika mang Rukanda datang ke rumah nenek, terpaksa mang Rukanda dipersilakan ngobrol di dalam kamar.

“Ada apa, Jang Rukanda?”

“Ini Bu mantri, saya tidak mengerti, mengapa setiap waktu burung-burung itu selalu menyerang padi saya yang mau dipanen. Hampir setiap musim. Sekarang saya sering merugi. Saya mau bertanya, seingat saya bebegig milik pak mantri adalah bebegig yang sangat bisa mengusir para burung itu.”

“Sebenarnya tidak hanya bebegig pak mantri yang bisa mengusir burung, bebegig yang lain juga sama. Mungkin waktu itu burung-burungnya belum sepintar sekarang Jang Rukanda…”

Jawaban itu membuat mang Rukanda bingung, “Apa bebegig itu diberi mantra, Bu mantri?”

Nenekku tertawa sambil menggelengkan kepalanya.

“Lalu mengapa para burung itu bisa mudah diusir dari sawah.”

“Apa bebegignya kurang besar?”

“Wah Bu mantri, bahkan bebegig saya lebih tinggi dari atap saung, dan lebih besar dari dapuran pisang. Kalau Bu mantri tidak percaya, Bu mantri bisa lihat ke sawah saya. Tapi meskipun besar, tetap saja bebegig saya itu tidak punya wibawa. Burung-burung seperti tidak menganggap kehadirannya. Padahal Bu mantri, bebegig saya juga bergerak sangat cepat, lebih cepat dari gerakan pencak silat, bahkan dia lebih hebat lagi, bisa kungfu, hahaha.”

Nenekku geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Entah apa makna senyum itu. Garis-garis tuanya membuat setiap gerakan wajah neneku sudah sulit difahami lagi.

“Ya sudah, sekarang jaga saja siang malam, setiap mau panen.”

“Yang menyebalkan lagi Bu, burung-burung itu tidak saja tidak dapat diusir dari sawah, eh dia malah membuat sarang di kepala bebegig itu. Apa itu tidak aneh?”

Barulah nenekku tertawa, nikmat sekali tawanya. Bahkan aku baru melihat lagi nenekku bisa tertawa seperti itu di masa tuanya, “Nah itu namanya burungnya lebih pintar dari bebegignya. Makanya bebegignya harus sekolah, hehehe.”

Mang Rukanda terdiam.

Kali ini nenekku terlihat berpikir. Wajahnya mulai serius. Lalu ditatapnya Mang Rukanda yang masih tertunduk, “Sebenarnya begini Jang Rukanda, yang nenek tahu. Dulu, jaman pak mantri nyawah dan kakeknya si Ujang anakmu masih menggarap sawah kalian itu, burung-burung itu memang jarang datang. Kalau pun datang, ya dia sudah kalah duluan dengan bebegig-bebegig kita. Sebenarnya bukan karena bebegignya, tapi, di pinggir-pinggir jalan, di tegalan-tegalan, dan leuweung-leuweung sekitar kita masih banyak pohonnya. Jadi burung-burung itu masih punya tempat untuk bersarang dan mencari makanan. Tidak seperti sekarang ini. Mungkin burung-burung itu memang kehabisan makanan dan tempat tinggal.”

Mang Rukanda tercengang. Jawaban yang tidak pernah disangkanya. Bahkan dia tidak pernah memikirkannya. Tapi sangat masuk akal. Burung pun sama menginginkan kehidupan. Akhirnya dia pulang kembali dengan pikiran yang tidak menentu.

Itulah keadaan yang sebenarnya. Jadi bagaimana pun bukan bebegig mang Rukanda yang salah. Sekarang mang Rukanda mulai berpikir, daripada setiap musim panen merugi, lebih baik jika dia menjual sawahnya. Lalu uang hasil penjualannya dijadikan modal berdagang saja. Tapi usul itu ditolak oleh bi Rukmini. Membuat mang Rukanda bingung. Sampai suatu ketika muncul juga usulan dari kepada desanya sendiri.

“Jang Rukanda, daripada setiap tahun merugi, bagaimana kalau sawahnya dijual saja kepada Koh Bacang, dia sanggup membayar mahal. Apalagi sawah Jang Rukanda punya akses dengan jalan.”

Mang Rukanda masih diam. Entah apa yang dipikirkannya.

“Sawah itu mau dijadikan pabrik. Nah, Jang Rukanda punya kesempatan untuk menjadi salah satu pegawai pabrik tersebut. Jang Rukanda tamat es em a, kan?”

Mang Rukanda tidak bisa menjawab. Sekalipun ini pertanyaan mudah. Karena mang Rukanda memang tidak sekolah. Jangankan tamat es em a, es de saja tidak selesai.

“Bagaimana? Itu kan lebih baik daripada setiap musim dipusingkan dengan burung-burung itu.”

Mang Rukanda belum juga menjawab.

“Itu terserah Jang Rukanda, yang jelas, di wewengkon ini, hanya sawah Jang Rukanda yang belum dijual. Mereka tidak tahan merugi. Bebegig tidak menyelesaikan persoalan. Bukankah burung-burung itu semakin ganas? Bahkan saya dengar mereka malah membuat sarang di bebegig-bebegig itu? Itu kan ironis sekali,” suara pak kepala desa penuh paksaan.

Jadi? Mang Rukanda benar-benar pusing tujuh keliling. Padahal urusan bebegig belum selesai. Jadi benar, para pemilik sawah di wewengkon ini sudah menyerah pada cukong itu. Dibandingkan membuat bebegig yang lebih canggih lagi. Minimal seperti bebegig yang dulu dibuat oleh generasi pak mantri, kakekku. Ah, ternyata nyali para pemilik sawah di wewengkon ini harganya tidak lebih mahal dari bebegig bikinannya. Mang Rukanda terpekur. Di dekatnya pak kepala desa menggerak-gerakkan matanya penuh kebimbangan.

“Bagaimana Jang, mau dijual sawahnya?”

“Begini pak lurah, sebelum saya memberikan keputusan, saya ingin tahu dulu, mengapa bebegig saya tidak sanggup mengusir burung-burung itu. Ini pasti ada masalah.”

“Ya masalahnya, burung-burung itu lebih cerdas dari bebegignya. Itu artinya yang membuatnya juga harus lebih cerdas lagi dari burung-burung itu. Jang Rukanda ingin tahu, yang bagaimana yang cerdas itu? Yaitu, yang tidak mau merugi setiap tahun, yaitu dengan menjual tanahnya pada Koh Bacang. Itu selesai urusannya! Titik.”

“Begini Pak Lurah, sebenarnya, kalau saja pohon-pohon di sekitar pesawahan dan di tegal-tegal itu tidak ditebang untuk dijadikan pabrik, tentu burung-burung itu masih punya tempat untuk tinggal dan mencari makanan. Sehingga mereka tidak menyerbu sawah-sawah petani.”

“Jangan sok tahu. Buktinya dulu ketika pohon-pohon itu masih banyak, tetap saja burung-burung itu berdatangan ke sawah-sawah. Kalau tidak kan tidak mungkin dulu orang-orang tua kita membuat bebegig. Apa Jang Rukanda pikir, bebegig itu adanya hanya di jaman ini? Bebegig itu sudah lama diciptakan para petani, Jang. Artinya sudah lama sawah petani itu didatangi burung-burung piit itu. Hanya mungkin sekarang jumlahnya lebih banyak lagi karena mereka berkembang biak. Jangan bodoh makanya!”

Mang Rukanda terhenyak. Nada bicara pak kepala desa sudah berubah. Tapi mang Rukanda tidak berani membantah lagi. Akhirnya dia terdiam.

“Bagaimana?”

“Ya Pak, nanti saya pikirkan.”

“Pekerjaan saya banyak. Jangan membuang-buang waktu saya. Besok juru tulis saya akan ke sini. Kalau tidak, lusa saya tunggu Jang Rukanda ke kantor kepala desa. Kalau bisa membawa sertifikat!” pak kepala desa itu meninggalkan kebengongan pak Rukanda.

Ya ampun, desis mang Rukanda dalam hati. Kok tega pak kepala desa ini. Padahal dulu, mang Rukanda adalah salah satu tim sukses dalam pemilihan kepala desa itu. Tapi setelah terpilih, jasanya itu seperti hilang dihembus angin.

Setelah pak kepala desa pulang, bi Rukmini yang sejak tadi mengintip pembicaraan itu menghampirinya dengan wajah serius, “Kang, saya mah jadi takut. Sawah kita kan tidak ada sertifikatnya. Dulu, waktu kakeknya si Ujang membeli ini memang tidak pake sertifikat. Dia cuma punya surat dari desa saja tanda jual beli. Itu pun enggak tahu ada di siapa. Mungkin di Kang Eman, kan waktu bagi waris, semua Kang Eman yang ngatur.”

Mang Rukanda tercenung, “Itulah salahnya orang tua kita. Yang aku dengar, sawah ini juga dibeli hanya dengan menukar transistor sama kerbau. Selesai, tidak ada akta jual beli seperti sekarang.”

“Soalnya dulu orang-orang hanya berpikir, satu sama lain saling percaya…”

“Ya sudah kalau begitu, yang paling aman kita tidak boleh menjual tanah kita ini. Tidak ada sertifikat malah kita yang disalahkan. Jangan-jangan kita tidak akan mendapatkan apa-apa.”

“Terus bagaimana dengan pak kepala desa?”

“Akang tidak akan peduli.”

“Terus burung-burung itu?”

“Akang akan membuat bebegig yang lebih besar lagi!”

*

Selama seminggu mang Rukanda mempersiapkan waktu untuk membuat bebegig baru yang lebih besar. Sekarang, bahannya sudah terbuat dari benda-benda yang lebih bisa dipercaya mengusir burung-burung itu. Badan bebegig dia buat dari batang pohon nira sepanjang dua meter lebih yang ditebangnya selama dua hari bertutur-turut. Pohon itu didapatkannya setelah meminta ijin kepada pemiliknya. Kebetulan pohon nira itu sudah putus di pucuknya karena tersambar petir. Dia yakin pohon itu menyimpan daya magis dibanding bambu betung. Sementara rambutnya dia buat dari ijuk yang di dalamnya dimasukkan sebutir kelapa tak dikupas berukuran besar. Setelah memasangkan kepala di bagian atas pohon nira, mang Rukanda memasangkan dua buah bola pingpong di sekitar tempat yang kira-kira dianggap wajah bebegig. Kali ini bebegignya bisa melihatnya. Mang Rukanda merasakan itu. Makanya dia mulai percaya diri. Bebegignya kali ini akan lebih berwibawa. Pakaiannya dia buat dari sarung bekas sehingga bebegig kelihatan sangat besar. Sementara tangannya dibuat dari bambu kuning yang melintang di bawah kepala bebegig. Mang Rukanda percaya, bambu kuning membawa daya magis. Benda itu kerap dipakai orang yang percaya tahayul untuk dijadikan benda pengusir setan.

Setelah semua selesai, digotongnyalah bebegig baru itu bersama Ujang. Semua mata yang melihat nampak kaget dengan benda yang dibawa oleh mang Rukanda. Benda itu selain besar juga agak menakutkan. Namun mang Rukanda tidak mempedulikan sikap aneh dari para pemilik wajah yang dilintasinya. Dia terus berjalan menyusuri pematang menuju sawahnya.

Setelah melewati jembatan yang terhubung dengan jalan besar, mang Rukanda menghentikan langkahnya. Membuat Ujang tertegun. Lalu mata mang Rukanda menyisir pemandangan di hadapannya. Sawah-sawah itu sudah kering kerontang. Tak ada air, tak ada kehidupan. Lalu matanya melindap ke arah pesawahan empat kotak di bagian setelahnya. Dia tersentak. Beberapa orang tengah mengukur sawahnya. Entah siapa, yang jelas, di antara mereka tampak pak kepala desa tengah mengatur-atur seorang anak muda. Tampaknya memberikan instruksi untuk memindahkan empat bebegig milik mang Rukanda serta memutus tali-tali penghubung di pelataran sawahnya.

Mulut mang Rukanda menganga. Empat bebegig berjejer terbaring di satu tempat yang tidak jauh dari saungnya. Setelah langkah mang Rukanda semakin mendekat, makin jelaslah aroma Koh Bacang yang sedang bekerja sama dengan kepala desa itu. Mang Rukanda melepaskan bebegig besarnya perlahan. Lalu menatap sekeliling. Para petugas pengukur tanah yang berjumlah empat orang itu tidak peduli dengan kedatangan mang Rukanda. Hanya ketika kepala desa melihat kedatangan mang Rukanda, dia berteriak dengan tidak sopannya.

“Jang Rukanda, sawah ini harus dibuat sertifikatnya. Makanya harus diukur!”

Mang Rukanda mendadak lemas. Ditatapnya bebegig besar yang sekarang sudah berubah wujud menjadi mahluk menakutkan yang ingin memamahbiaknya…

Tentang penulis :

Iis Wiati, S.Pd. dilahirkan di Bandung tanggal 18 Agustus 1973. Menamatkan pendidikannya di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Bandung yang sekarang menjadi UPI (Universitas Pendidikan Indonesia) tahun 1997. Menulis sejak SMA. Selain menulis, kini bertugas di SMAN 5 Bogor sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia.

cat:

 

[1] Tutup kepala seperti caping dari anyaman bambu

[2] Burung gereja

[3] dangau

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *