Select Page

alterntif text

Cerpen “Aku dan Kamu” Karya Muhammad Ichbal Tawakal

Cerpen “Aku dan Kamu” Karya Muhammad Ichbal Tawakal

Aku dan Kamu

Aku dan kamu memang berbeda : aku perempuan dan kamu laki-laki, aku cantik dan kamu tampan,  aku suka kucing dan kamu suka anjing. Satu hal yang sama dalam diri kita : kita sama-sama sepi, hanya berbeda dalam merayakannya. Aku merayakan sepiku dengan mewah dengan kesibukan yang menggila dan hura-hura. Setidaknya orang lain tidak tahu bagaimana sepiku.  Kamu merayakan sepimu dengan istimewa dengan canda tawa bersama ragamu, sendirimu dan sunyimu. Menipu semua orang tentang bagaimana sepimu membiarkan mereka menerka-nerka apa itu sepi atau caramu menikmati waktu. Berawal dari situ, aku mulai menyukaimu.

Pertama kali aku melihatmu yaitu ketika penerimaan mahasiswa baru, kamu berdiri di samping panggung. Menyenderkan tubuh sambil asik bergurau dengan kawanmu yang lain. Awalnya aku tidak memperdulikan itu tapi suara tawa yang gemuruh mengambil perhatianku. Pandanganku berpusat padamu karena kamu yang menyebabkan semua tawa itu. Mengikuti gaya bicara artis-artis terkenal, mengeluarkan permainan konyol: berlomba mengekspresikan wajah terjelek, dan selalu kamu yang memenangkannya. Dasar laki-laki aneh.

Tidak berhenti sampai disitu- sama halnya dengan SMA, aku mengikuti organisasi kampus yang disebut HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan). Aku harus melihat kamu dalam berbagai kesempatan : rapat, pelaksanaan acara, makan-makan, dan segala tetek bengek persoalan keorganisasian. Menurutku itu waktu yang cukup untuk mengenal pribadimu. Pribadi yang menyenangkan. Walau kami berada dalam satu organisasi yang sama, hubungan kami hanya sebatas junior kepada senior. Aku menyapanyamu ketika jumpa atau hanya sekedar melempar senyum sambil mengangguk, berdiskusi ketika berada dalam satu seksi, bercanda gurau ketika dalam kesempatan yang sama hanya sebatas itu. Harapan kecil muncul dari diriku, untuk sekedar mampu berteman dengamanmu. Teman, selayaknya teman yang bisa bercanda kapan saja tanpa canggung, menanyakan hal ini dan itu tanpa ragu, bercerita berbagai hal yang bahkan tidak perlu, ya teman. Teman pada umumnya.  Harapan kecil itu terlalu tinggi untukku yang hanya sebatas juniormu yang bahkan tak pernah kau rasakan hadirnya.

Hari itu ketika aku datang ke kampus, kamu sudah berada di bangku yang biasa digunakan untuk berkumpul sambari menunggu jam kuliah atau hanya untuk berdiskusi dan tertawa bersama. Seperti ritual biasanya kuhampiri satu persatu orang untuk menyalaminya. Ada rasa yang berbeda saat bersalaman denganmu, rasa yang membuat hati berbinar. Kuputuskan untuk duduk sebentar mengikuti obrolan, sebenarnya itu kulakukan untuk bisa melihatmu sedikit lebih lama. Pembicaraan menegenai buku- buku sastra yang sebenarnya tidak menarik untukku tapi dengan begitu aku tahu kamu suka membaca buku.

Entah ini hadiah dari Tuhan atau apalah tapi kesempatan mempertemukan kita. Kita masuk di kelas yang sama : Sosiolinguistik. Betapa menyenangkan berada dalam satu ruangan denganmu, setidaknya aku bisa puas menatapi wajahmu selama jam pembelajaran di hari Rabu. kita akan berjumpa setiap hari Rabu dan itu pasti.

Ini pertemuan ke-empat mata kuliah Sosiolinguistik dan aku tidak sabar akan berjumpa denganmu—mengetahui  hal aneh apalagi yang akan kau lakukan. hari ini kamu akan terlambat lagi, atau kamu akan menguap lebih banyak dari kemarin—rekormu 8 kali, atau kamu akan memasukan pulpen ke dalam lubang hidungmu lagi. Sungguh, aku tidak sabar berjumpa denganmu.  Aku duduk di bangku jajaran paling belakang itu sengaja kulakukan agar bisa jelas melihatmu, karena kamu selalu duduk di bangku paling belakang pojok kiri. Hari itu jam pelajaran sudah dimulai, Ini sudah  40 menit dan kamu belum tiba.  Kamu tidak akan dibiarkan masuk atau kamu tidak masuk hari ini. Kamu sedang sakit, atau ada hal buruk yang menimpamu. Semoga semua pradugaku salah. Pembelajaran ini jadi membosankan tanpamu.

Mungkin memang tuhan benar-benar sayang padaku. Namaku dan Namamu ada di kelompok yang sama. Kita di kelompok lima beserta satu orang lagi yang sengaja dititipkan tuhan untuk melindungi kita, kan kalau berdua yang ketiga setan. Aku bingung harus memberitahumu bagaimana. Apa aku harus bilang kita jodoh, kita ada di kelompok yang sama? Hal gila itu tidak mungkin aku lakukan. Akhirnya aku coba mengirim pesan singkat pada nomor telpon yang selama ini kusimpan dan hanya kupandangi, berharap akan ada pesan dari nomor itu. Harapan itu terkabul, kamu membalas pesanku: oke deh, nanti kabari kalau mau mengerjakan ya.  Pesan pertama kita, dan akan ada pesan-pesan selanjutnya.

Kuberharap waktu berjalan lambat, kalau bisa terlambat selama mungkin agar aku bisa selalu berada didekatmu. Ternyata ekspetasiku benar sekelompok denganmu memang sangat menyenangkan. Semua selesai dengan lancar. Begitu juga hubunganku denganmu, kurasa semuanya berjalan lancar. Hubungan kita semakin dekat. Pesan-pesan itu kini sudah mencapai ratusan dengan berbagai pembahasan. Aku tak segan lagi mentap matamu bahkan hingga lebih dalam. Tidak ada lagi kecanggungan, untuk bergurau bahkan untuk saling cubit sekalipun. Aku senang ini semua menyenangkan. Harapanku bertambah bukan sekedar untuk menjadi teman mungkin hubungan melebihi teman atau biarlah hubungan teman yang berbeda definisinya untukku.

Semakin kumengenalmu, banyak hal baru yang kuketahui yang kuyakini tidak ada yang mengetahuinya selain aku. Itu rahasiamu yang kucuri dari tatapan hampamu. Selalu lewat balik buku aku melihat senyummu, diantara barisan abjad terukir garis tipis bersanding dengan jajaran gigi gingsul , ah manisnya. Tidak jarang aku melihat garis itu berubah menjadi garis lurus tegas dan gahar ditambah kerutan dahi dan bola mata coklat yang tajam . Bisa seharian penuh aku memandangimu bila tak terbentur kesibukan palsu. Dalam keasikan itu kutemukan sepimu. Sepi yang kau lindungi dari waktu, sepi yang sebisa mungkin kau sembunyikan lewat senyummu. Tatapan itu bukan tatapan yang kukenal, ada terikan didalamnya. Raut wajah itu bukan milikmu, raut wajah tersendu yang pernah kulihat. Raut wajah yang telah dibasuh oleh air mata derita. Sejak kapan kau miliki raut wajah itu, sudikah kau membaginya denganku. aku ingin menemanimu menghadapi sepimu.Kuberanikan diri untuk menegur sepimu.

“Hai tahu ga kalau diluar bumi ada kehidupan yang sangat luar biasa.” kataku mengejutkanmu

“Iya?”

“Neverland namanya”,

“Bagaimana disana?”

“Disana menyenangkan, tidak ada rasa, pikiran ataupun emosi. Mau kesana ga?”

“Kau bohong mana ada dunia seperti itu hahaha”.

Sehabis itu kita sering menghabiskan waktu membicarakan hal yang aneh dan tidak mungkin. Sebisa mungkin kuatur waktu untuk sekedar menikmati wajahmu dan membicarakan hal-hal aneh nan menyenangkan. Aku ingin terus begini. Terus menghabiskan waktu denganmu, terus bersama denganmu.

Tidak seharipun waktuku terlewat tanpa menjumpaimu, selalu ada waktu untuk kita sekedar bertatapan. Hingga kau menemui dia. Wanita yang tidak lebih baik dari aku, jelas aku yang lebih baik  karena aku mencintaimu. Bukan dia, tapi aku, aku. Tidakkah kau sadari itu? Atau aku yang terlalu berharap banyak padamu. Hanya sejauh ini, setelah berpuluh-puluh kali kita melewati terbit tenggelamnya matahari bersama. Setelah kau usap air mataku karena kesedihanku yang pilu, setelah kau menuntunku dengan  genggam erat tanganmu. Untuk apa semua itu. Untuk apa tatapan penuh kasih itu, untuk apa diammu mendengar keluh kesahku. Untuk apa semua itu jika akhirnya kau pergi dengan dia, yang hanya tau luarmu. Memang aku yang so tahu, menganggap semua semauku.

Aku memang penerka, penerka yang tak tahu malu.  Setelah ratusan pesan singkat yang kukirimkan tanpa balasan. Setelah ribuan senyuman yang kau abaikan. Aku tetap mengaharapkanmu kembali padaku. Apa salahku, apa yang kulakukan hingga membuatmu menjauh. Kumohon katakan biarkan aku memperbaikinya, aku berjanji tak akan mengulanginya, akan kulakukan semua sesuai maumu, semuanya tanpa kecuali. Jangan menghilang, jangan tinggalkan aku. Tak perlu kau balas semua rasaku hanya tetap berada disampingku. Kau boleh bersama wanita itu atau wanita lainnya yang kau mau tapi tetaplah bersamaku. Aku akan menerima semua itu.

Tuhan marah padaku dengan memberi hukuman yang aku yakin tak mampu melaluinya. Pepatah mengatakan : Tuhan akan mengambil hal yang paling kau sukai untuk melihat ketaatan umatnya. Jika itu yang direncanakan tuhan, ini rencana-Mu yang paling jahat. Tak kusangka Kau setega itu, Kau tentu tahu apa yang kumau tanpa harus kuberitahu atau mungkin ini memang rencana terbaik untukku. Jika memang begitu, aku tetap tidak mau rencana ini. Biarkan aku menerima rencana buruk saja. Asalkan itu bersama dengannya. Percuma, semuanya percuma dia telah bersama kebahagiannya. Harusanya aku bahagia melihatmu bahagia dengan kebahagianmu. Aku harus melepaskanmu, melepaskan kebahagianku.

Matahari telah melakukan rutinitas akhirnya untuk menerangi bagian dunia yang lain. Memberikan kehangatan pada sepi-sepi yang membeku. Rutinitasku berkahir dengan sunyi yang kunikmati. Pejalananku masih panjang untuk sampai rumah. Melewati jalan yang setiap jengkalnya mengingatkanku padamu. Sosok yang selalu kurindu, sejak mataku terbuka mengahadapi waktu dan terpejam menyesali waktu yang tak bisa kumanfaatkan sebaik mungkin saat bersama denganmu. Harus kulanjutkan perjlananku dengan melangkah karena sudah tidak ada kendaran yang hilir mudik. Langkahku terhenti oleh suara yang kukenal, suara yang sangat kusukai, suara yang sangat kurindukan, suaramu. Mungkin hanya lamunanku, tapi begitu nyata untukku. Kubalikan tubuh dan benar saja itu kamu, aku tak mungkin salah aku sangat mengenal tatapan itu, senyum itu, aroma itu, dan tentu suaramu: Ayo bareng aja, kuantar. Tidak ada kata yang kuucapkan, aku hanya langsung menaikan tubuhku pada skutermu. Senyap taka ada kata yang menemani perjalan kita yang hanya sekejap. Aku berharap hujan segera turun atau badai atau apapun yang bisa menghentikan perjalanan kita dan menambah waktu kebersamaan kita walau dalam diam.

Malam itu entah setan apa yang yang merasukiku sehingga aku berani melakukan itu, setalah ia mengantarkanku sampai gerbang rumah, ku sandarkan kepalaku pada dada kirinya, suara degup jantungnya terdengar jelas dan berdebar sangat kencang. Saat kutegakan tubuhku kuliahat wajahnya kaku membisu. Tak ada kata yang keluar dari mulut kami berdua.  Mungkin ini pertemuan terakhir kita, terima kasih sudah mengajarkan aku kehidupan, itu yang kukatakan lewat tatapanku padanya  dan aku yakin ia menerima pesan itu.

Akhirnya kuputuskan untuk masuk kedalam rumah dan meninggalkannya. Tarikan tangannya menghentikan langkahku, kubalikkan tubuhku dan ia menyambutku dengan pelukan erat, sangat hangat hingga kami membiarkan rintik hujan menemani pelukan itu. Aku menangis, tangis yang tak kuharapkan keluar pada saat itu. Tubuhku mulai bergetar, kurasakan ia mengeratkan pelukannya dan akupun melakukan hal serupa. Kumohon jangan menghilang dari hadapanku, kumohon jangan pernah berhenit bersamaku, kuterikan kata itu dalam hati berharap hatinya mendengar. Pelukan itu berakhir ketika segukan pada tubuhku berhenti. Ia melepaskan tangannya dari tubuhku. Kurasaka jarinya menyenti pipiku menghapus air mataku yang berpadu dengan hujan. Ada air di matanya, entah tetesan hujan atau diapun menangis. Tidak mungkin ia menangis, kenapa menangis, apa yang ditangisi. Dia mennagis karena aku, jadi kami menangis bersama. Suara lirihnya memecah perdebatan batinku: Terima kasih telah membiarkan aku mencintaimu.

 

(Muhammad Ichbal Tawakal)

KOMENTAR

About The Author