Select Page

Cerpen GELAP : Karya Bulan Biru

Cerpen GELAP  : Karya Bulan Biru

Ponselku bergetar tanda ada remider. Aku putuskan untuk menutup laman kord gitar dan beralih memencet tanda terima reminder. Oh ya, hampir saja aku lupa, hari ini aku ada janji dengan Xaverius, Tressa, Felix dan Monica di mal Botani pukul 11 pagi. Sekarang sudah pukul 10 jadi sebaiknya aku segera bersiap-siap. Aku tidak pernah ingin telat atau membuat orang-orang menungguku. Segera aku rapihkan gitarku dan pergi mandi. Sudah aku janjikan dengan Xaverius kalau kami akan memakai celana panjang hitam dengan atasan sweater kembaran kami. Sebenarnya tidak terlalu kembar hanya saja semua kata yang ada di sweater kami berhubungan. Sweater punyaku crop top dan berwarna putih di bagian depan dengan logo kami yang berwarna putih matt dan bercorak galaksi di bagian punggung badan dan corak galaksi yang seperti melilit di bagian lenganku juga dengan tulisan stars . Sweater Xaverius tidak jauh berbeda dengan sweaterku, punyanya adalah hoodie biasa dengan warna putih di bagian depan dengan logo kami yang berwarna putih matt dan bercorak galaksi di bagian punggung badan dan corak galaksi yang seperti mellilit di bagian lengannya juga dengan tulisan moon di bagian punggung bajunya.
Setelah aku selesai berpakain aku segera naik ke lantai 3 untuk berdoa dan juga pamit kepada orangtuaku. Aku turun tangga dan sampai kepada jembatan penyebrangan antar rumahku dann rumah Xaverius. Aku masuk ke rumahnya dan tentunya menyapa orangtua Xaverius dan anjing kesayangannya itu.
“Udah belom? Ayo ntar mereka nungguin kan ga enak,” kataku sebagai sapaan untuknya.
“Ayo, ayo. Siapa yang mau ngaterin kamu emang? Hih,” ucapnya. Aku datarkan mukaku dan beranjak berdiri.
“Yaudah, aku naik mobil sendiri aja, biarin kamu sendiri di mobil ga ada yang nemenin,” ketusku.
“Ehhh marah. Bercanda sayanggg. Udah yuk,” katanya sambil menarik tanganku dan menggengamnya.
Kami pamit kepada orangtua Xaverius lalu menyalakan mobil. Tak lupa aku berlari ke tempat duduk supir. Aku sampai duluan dan disapa dengan muka datar Xaverius yang terduduk di bangku tamu.
“Biar dapet women parking itu lho,” kataku.
“Huh, serah yaudah ayo jalan,” jawabnya sambil menyetel beberapa lagu favorit kami.
Nenekku berpesan kalau aku boleh saja mengebut asalkan aku mempunyai perhitungan. Kami sampai di Botani tepat pukul 11. Aku sudah memesankan tiket menonton untuk kami semua jadi sesampainya disana kami hanya harus mengambil tiketnya dan membeli beberapa makanan ringan untuk dibawa masuk ke teater. Kami menontonperjalanan dua sahabat perempuan yang tengah memecahkan misteri di pulau terpencil di Indonesia. Sebenarnya pemain film tersebut adalah aku dan Monica.Tempat duduknya seperti ini, Felix, Monica, aku, Xaverius dan Tressa. Aku selalu fokuskan diriku untuk menonton karena di sebelahku Xaverius dan Tressa sedang sibuk mengobrol, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang mereka obrolkan namun rasa gelisahku muncul di tengah perbicaraan mereka. Aku menahan rasa ini sekitar 45 menit dan memendamnya. Aku tidak tahan lagi, aku putuskan untuk pergi ke kamar kecil dan membasuh muka sekaligus tanganku sampai lengan. Aku kembali ke tempat dudukku dan menyadari bahwa dari tadi Xaverius bahkan tidak sadar jika aku pergi tadi. Ia begitu asik mengobrol dengan Tressa. Aku kembali fokus menonton namun kegelisahanku muncul lagi pada menit ke 60. Aku melihat Xaverius menyuapi Tressa popcorn. Kebetulan tangan Xaverius ada di kursi tangan tempat duduk teater. Aku genggam tangannya erat-erat, ia pun menoleh kepadaku dan segera mengatakan kepada Tressa jika ia ingin fokus menonton dahulu. Ia terus menatapiku membuat dirinya berdusta tadi. Ia melihatku menitikan air mata yang kemudian ia usap.
“Sorry, kamu liat deh dia siapa. Dia bukan Tressa dan Istna. Tressa gak jadi nonton, kamu kan masuk duluan nah aku lagi goodbye-an sama Tressa terus Istna dateng dan bilang dia bakal gantiin Tressa. Aku ga bisa ngapa-ngapain sayang. Mungkin aku keliatan seneng dan itu emang bener, aku seru ngobrol sama dia tapi sebatas teman ya, jangan mikir yang aneh-aneh,” bisiknya di telingaku.
Aku terkejut karena orang yang dari tadi aku kira Tressa itu ternyata Istna. Aku tatap Istna dengan tatapan baik namun yang aku lihat bukanlah Istna melainkan makhluk bermata tiga merah yang aku lihat kemarin malam bersama Xaverius. Aku berganti menatap Xaverius dengan alis terangkat sebelah.
“Makhluk mata tiga merah, kok ada di tempat Istna? Dia Istna? Bukan kan?” bisikku sambil mencoba untuk tidak menatap Istna. Ucapanku membuat Xaverius menengok ke belakang dan ia juga terkejut melihat kehadiran makhluk tersebut.
“Tapi aku ga liat dia tadi, tadi itu Istna. Sumpah, bukan dia,” bisik Xaverius sambil berpura-pura menonton.
“Hah?” ucapku dengan suara kecil dan sebuah tatapan bingung.
“Ya bener. Sebentar kayanya indra keenam kita hanya bisa dipake kalo kita kaya bareng dan ga ada salah satu dari kita yang merasa sakit,” terangnya.
“Bisa aja sih,” balasku sambil menyambut hangat rangkulannya.
“Humm…” jawabnya sambil terus merangkulku dengan tangan kanannya.
Tanpa kami sadari, film tersebut telah habis dan kami pun segera keluar dari bioskop. Kami berencana untuk pergi ke toko buku namun mendapatkan perbedaan pendapat jadi kami rencanaknan untuk makan terlebih dahulu dan tidak akan pergi ke toko baju Colorbox dan untuk melupakan tentang toko tersebut, kamii berencana untuk pergi ke Giant karena ibuku menitipkanku untuk membeli lada setelah makan namun kami berakhir di toko Colorbox sebagai tujuan pertama kami setelah nonton. Xaverius dan Felix membantu kami memilih baju-baju kami dan menunggu kami di depan ruang ganti toko tersebut dan ya membantu kami memilih mana baju yang cocok. Kami putuskan untuk hanya membeli satu baju seorangnya. Aku mendapatkan gaun red velvet yang panjangnya selantai yang kembar dengan milik Monica. Xaverius berkali-kali memintaku agar langsung memakainya namun aku menolak karena ini akan terlihat super-duper alay.
“Ayolah, pake aja sekarang,”pintanya.
“Nga, malu-maluin kalo orang liat,”kataku sambil lanjut berjalan.
“Please-lah, kamu bagus pake itu,”pujinya.
“Nga, ntar kalo aku pake itu ntar kamu liatin aku terus trus ntar kesandung trus jatoh,”katakku sambil mencepatkan jalanku.
“Ya aku bakal liatin terus tapi ya kamu bagus pake ituuu, hmm ntar aku kasih kamu… ummm, Koko Crunch bar dan kamu makannya aku suapin,”balasnya.
“Ear-catching, tapigitu mah aku tinggal beli sendiri trus minta kamu, kan gampang,”balasku lagi.
“Hmm, aku kasih kamu jalan sendiri sama Monica berdua,”katanya.
“You got it, oke aku ganti,”balasku sambil lalu menginformasikan kepada Felix dan Monica agar mereka bisa membantuku membelikanku lada selagi aku mengganti bajuku.
Aku keluar dari kamar mandi dan menatap Xaverius yang tiada hentinya menatapku dari atas sampai bawah. Aku segera pergi ke belakang Xaverius dan terus berada di belakangnya, ia menyuruhku untuk berpindah ke sebelahnya agar ia bisa merangkulku, aku terima dan terus menunduk kebawah, aku takut orang-orang seperti mencelaku. Tiba-tiba saja ada colekan yang terasa di pinggul sebelah kiriku dari seorang lelaki yang berjalan di sampingku. Aku tinggal di Indonesia jadi hal semacam ini memang sering terjadi, karena inilah kebiasaan beberap orang Indonesia yang yaaa terkadang tidak tau malu. Tapi tetap saja, hal ini jangan dianggap remeh, apalagi saat kalian sedang jalan-jalan sendiri. Aku segera berpindah ke sebelah kanan Xaverius yang berdampingan dengan tembok. Tak heran jika Xaverius bertanya mengapa aku berpindah sebegitu cepatnya. Selang lima menit dari kejadian itu Monica dan Felix bertemu kami dan meminta untuk pulang terlebih dahulu karena ingin mengerjakan tugas band. Aku menceritakan kejadiannya di mobil dan ia berakhir menatapku lekat-lekat, memastikan bahwa aku tidak berbohong.
“Kamu gapapa kan? Did he hurt you?”tanyanya sambil membelai wajahku.
“Gapapa, ga kok dia cuman nyolek aja,”balasku sambil berjalan.
“Huh, maaf kalo aku ga bisa jaga kamu dengan baik,”katanya sambil mulai beralih ke kaca depan.
“Nga kok, kamu udah jaga aku dengan sangat-sangat-sangat baik, baik banget,”kataku sambil meraih tangannya dan menggengamnya. Mobil mulai berjalan seiring siang senja yang telah berubah menjadi malam hari. Aku tertidur di jok belakang dan dibangunkan saat kami telah sampai di ya tempat kejutan. Ini adalah hari ulang tahunku dan Monica. Jadi mereka menyiapkan semacam tempat “dating” di sebuah kafe.

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *