Select Page

alterntif text

Cerpen Suamiku Tersayang ; Deden Fahmi Fadilah

Cerpen Suamiku Tersayang ; Deden Fahmi Fadilah

1

Entah sudah berapa lama dan berapa kali, aku tak ingin mengingatnya, sayang. Setiap kamupulang dari luar kota karena urusan pekerjaanmu, aku sudah tahu pasti bahwa kamu akan membawakanku oleh-oleh baju kotor itu. Juga kamu selalu dalam keadaan lapar, maka semua hidangan istimewa yang kusajikan pasti kamu lahap tak bersisa. Setelah itu kamu merebahkan diri, dan mengomel—entah  pada siapa—bahwa kamu  lelah, pusing, pening, dan tak ingin diganggu.Yang lebih menyebalkan, selalu ada bau parfum yang asing di baju-baju kotor itu, dan akulah yang harus mencucinya: menghilangkanbau parfum itu, juga kecurigaan di kepalaku dengan penuh rasa sabar.

2

Semenjak kepulanganmu malam itu, aku menjadi benci dua hal di rumah ini: cucian baju yang menumpuk dan piring-piring kotor itu. Juga semenjak kepulanganmu itu, kamu lebih sering bepergian dengan alasan yang sama dan menghadirkan peristiwa-peristiwa yang sama. Aku jengkel padamu, namun harus tetap tanpa ada curiga. Di kepalaku, pertanyaan-pertanyaan tentang kamu akan selalu ada meski terbentur dengan kebahagiaanku. Itu karena aku bersyukur, kamu tak lupa jalan pulang.

3

            Kamu tak pernah lama berada di rumah dan pagi hari adalah waktu yang menyebalkan. “Aku pergi untuk kebutuhan keluarga kita, sayang,” katamu sambil merapikan letak dasi di kerahmu. Aku sibuk merapikan baju dan segala keperluanmu. “Saat nanti pulang, aku akan mengabulkan segala keinginanmu!”. Aku tersentak. Mataku mulai berbinar.

            “Sayang, apa keinginanmu?” tanyamu sebelum benar-benar pergi.

            “Aku hanya ingin…kamu membawakanku kebahagiaan!”

            “Baiklah. Kebahagiaan macam apa itu?”

            Aku terdiam. Mulutku tiba-tiba kaku. Tak ada satu pun kata yang bisamendeskripsikan kebahagiaan. Kamu tersenyum lalu mencium keningku. Aku semakin tak keruan. Air mataku menetes. Dalam hati, aku mencari makna kebahagiaan yang kuinginkan darimu, yang mulai menghilang dari pandangan mataku.

4

Aku yakin, kepulanganmu lain kali akan membawa buah-buah segar. Kamu akan mengupasnya dengan senyum yang tajam. Tangan-tanganmu yang kekar dan kuat akan menyuapkan buah-buah itu ke mulutku yang selalu menganga. Kita akan tertawa-tawa sepanjang malam: di ruang tamu, di kamar, bahkan di kamar mandi. Aku membayangkan sambil senyum-senyum sendiri; kamu bisikkan ke telingaku sebuah pertanyaan, “kamu bahagia bukan?”, aku hanya akan mengangguk saja. Sedang mulutku terus kamu jejali dengan potongan buah yang berdarah itu.

5

Di hari libur, sebenarnya, tak ada yang lebih merindukanmu selain rumput dan tanaman di halaman rumah. Biasanya, kamu selalu mengurusi mereka, sekadar memangkasnya agar rapidan cantik, atau menyiraminya. Beberapa tetangga menyapamu, juga tersenyum melihatku yang, beberapa saat setelah kamu selesai dengan halaman, membawakanmu secangkir kopi, makanan ringan, dan koran. Tapi mereka tak tahu, sayang, bagaimana kebahagiaanku saat hari libur, kamu ada di rumah.

6

Tapi kamu sudah menghapus hari libur di hari-harimu. Rumput dan tanaman itu berontak, sayang. Apalagi bunga mawar yang katamu bunga itusebagai tanda kasihmu. Mereka mulai merambat, tak keruan: gelisah. Kelopak bunga berisi mata yang merah itu terus memandangi seluruh penjuru arah: menyalak. Tubuh-tubuh bunga itu juga merambat di dinding rumah, pagar, atap, rumah tetangga dan jalan-jalan kota. Mereka mencarimu. Sedang aku, di rumah, berusaha menariki batang-batang duri itu dari kekacauan yang dibuatnya. Juga, aku terus mencoba melepaskan batang-batang berduri itu dari tubuhku sendiri. Mereka terus melukai, sayang. Untung saja tidak menusuk mataku. Gawat-gawat, aku tidak bisa melihatmu lagi. Atau aku juga tak mau air mataku akan berubah darah saat menangis seperti ini. Itu tidak membuatku tampak cantik di matamu.

7

            Di malam yang tanpa kamu, kudengar lolongan yang sangat menyedihkan. Kurasa, itu suara si anjing kampung.Setidaknya, hadirnya suara itu membuatku tidak kesepian. Juga, aku merasa ada yang menemaniku menunggumu pulang. Di beberapa malam, suara itu kadang tak muncul. Kamu tahu sayang, aku mulai merindukannya seperti aku merindukanmu. Kucoba membunuh kesepian itu dengan menonton televisi, tapi televisi juga menyiarkan kesepian. Di media sosial, semuanya menyerukan kesedihan. Buku-buku bacaan milik kita berubah menjadi buku-buku yang menawarkan bacaan kerinduan. Saat aku termenung sendiri di kamar mandi sayang, kudengar suara yang lebih nyaring dari tangisanku. Suara itu miris sekali. Kucari dan kuselidiki. Lalu, kupeluk tubuhku sendiri. Suara itu berasal dari dadaku, sayang.

8

            Saat kamu pulang, sayang, aku membayangkan kamu mengajakku bertamasya. Mengelilingi taman kota dengan  bunga yang sedang merekah. Aku juga membayangkan betapa bahagianya kita. Berfoto-foto ria, lalu mengunggahnya ke media sosial. Kebahagiaan kita mesti diberitakan, sayang, agar tak ada lagi orang yang menyangka kita tak bahagia. Bunga-bunga itu menjadi penyedap perasaan kita yang bungah. Tak ada tempat yang bisa kukunjungi sendirian, sayang. Aku jenuh di rumah yang sepi ini. Karena hanya menunggumu pulang membawa kebahagiaanlah kegiatanku satu-satunya. Dan aku merasa rumah ini semakin sempit, tanpa bunga-bunga. Tanpamu, di sini seperti kuburan, yang di dalamnya berisi perasaan dan tubuhku sendiri.

9

            Di pagi hari, setelah aku mandi, aku berdiskusi dengan diriku sendiri. Menghadap cermin sambil menyisir-sisir rambutku yang basah.

            “Apa aku tak cantik lagi?”

            “Kamu tetap cantik, meski dengan wajah pilu itu!” hibur si cermin yang menampilkan wajahku.

            “Dengan begitu, apakah suamiku juga akan tetap bahagia?”

            “Justru karena wajahmu itu, suamimu akan selalu bahagia. Dan kebahagiaan suamimu adalah kebahagiaanmun juga.” Dia tersenyum.

            “Tapi, kebahagiaan itu seperti apa?”

            “Bagi laki-laki seperti suamimu, kebahagiaannya adalah menikmati tubuhmu!”

            Aku merasa sedkiti lega dan puas dengan keniscayaan yang naïf itu. Aku melihatnya tersenyum, meski aku sama sekali tidak ingat lagi cara untuk tersenyum.

10

Lama-lama aku kegerahan juga, sayang. Bukan. Aku tak pernah gerah padamu, hanya saja orang-orang mulai mencibirmu dengan mulut-mulut mereka yang becek. Saat pergi ke warung di pojok gang rumah kita, mereka selalu bertanya tentang kamu dan keadaanku. Mereka sepertinya berpandangan bahwa aku tersiksa. Mungkin, karena mereka melihat luka-luka sayatan di tubuhku karena ulah bunga mawar sialan itu. Tapi yang membuatku kesal, mereka menuduhmu melakukan kekerasan rumah tangga. Aku tak terima. Kukatakan saja pada mereka:

“Suamiku tak pernah melakukan tuduhan-tuduhan itu. Bagaimana bisa, suamiku yang giat bekerja; jarang ada di rumah, melakukan hal-hal keji itu”. Sayang, bolehkah aku kesal pada mereka?

11

Karena aku sudah malas, dapur dan rumah ini tak pernah aku urus lagi. Saat kamu pulang, pasti kamu akan selalu mendapati suasana yang berantakkan. Itu karena aku sibuk mempersiapkan diri untuk menerima kebahagiaan dari kamu, sayangku. Pisau-pisau dapur itu juga sudah mulai berkarat. Segala perabotan rumah juga akan kubiarkan selalu berdebu. Tapi tenang sayangku, waktuku untuk menunggumu selalu kusiapkan dan kuluangkan. Tanganku pun selalu bersih, terbuka untuk memelukmu dengan perasaan yang sama. Ketahuilah, aku tak pernah berubah, hanya saja aku merasa ada beberapa hal sudah bergeser.

12

            Akhirnya, suara telepon itu berbunyi. Di balik sana, kutahu, kamulah yang sedang berbicara. “Aku pulang malam ini, sayang,” katamu bersemangat sekali. “masaklah yang enak, dan akan kubawakan pesanan kebahagiaanmu.”. Aku hanya menjawab seadanya. Aku sudah terlanjur malas, sayang. Tapi aku ingat kata cermin itu saying. Maka, aku akan berusaha memasak makanan paling lezat, yang tak pernah kamu nikmati di restoran mana pun.

13

            Dengan pisau yang berkarat, kupotong jari-jariku sebagai bahan makanan. Sakit sekali rasanya, tapi tak pernah mengalahkan rasa sayangku padamu. Perlahan juga kupotong jari kaki, dan irisan-irsan daging pahaku. Dapur kita seketika berlumur darah. Aku tak apa, sayang. Aku bahagia menyajikan makanan kesukaanmu. Tubuhku mulai lemas, tapi harum masakan itu mengingatkanku pada dirimu. Aku masih mampu bangkit. Dengan percaya diri aku bilang: “kamu pasti akan senang dan bahagia!”

14

            Hidangan sudah siap ketika kamu tiba. Kamu lihatkan betapa darah kering itu sudah lama menunggu. Bau anyirnya kalah dengan wangi rempah-rempah masakan yang kubuat. Kini, aku terduduk di meja makan tanpa tangan, dan jari-jari kaki. Kamu terkejut bukan main!

            “Sayang, apa yang terjadi?”

            “Aku masakan makanan kesukaanmu, yang takkan pernah kamu temukan di restoran mahal sekali pun!” kataku sambil tertunduk lemas.

            Kamu mendongakkan wajahku. Kulihat senyum itu: yang selalu kurindukan. Lalu dengan buasnya kamu melahap hidangan yang kunamai sop kebahagiaan.

            “Masakanmu sungguh luar biasa. Ini yang selalu membuatku ingin pulang. Setelah makan, bolehkah aku mengupas dadamu sebagai pencuci mulut?” katamu sambil mengunyah daging pahaku, dan mengemut-emut tulang jari-jariku.

            Akhirnya, aku mulai ingat cara tersenyum. Dan aku tahu apa itu kebahagiaan.

            “Sayang?” katamu.

            Aku mengangguk dan mulai melucuti pakaianku. Yang menyebalkan, haruskah ada esok?

 

Bogor, Mei 2017

              

Kiriman : Deden Fahmi Fadilah

 

Tentang Penulis

Foto : Doc. Deden F. Fadilah

Deden F. Fadilah,Kandidat Magister Pendidikan Bahasa di Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Aktif menulis puisi, cerpen, dan naskah drama. Berkesenian bersama Buintenzorg Actor Syndicate (BAS). Tulisannya dimuat di media cetak lokal di Indonesia dan media-media online.

KOMENTAR

About The Author