Select Page

alterntif text

Kisah Selembar Tisu

Kisah Selembar Tisu

Pagi itu para sekumpulan tisu merasa gembira saat seorang bapak tua mengajaknya keluar dari rumah. Mereka ditumpuk dan dikumpulkan bersama sekumpulan tisu lainnya di dalam plastik besar.Terayun ke sana ke mari, semua bersorak dan bergembira. Tak lupa mereka pun bernostalgia. Mengingat bagaimana kokohnya mereka di waktu lalu. Ada yang bersedih, namun ada pula yang masih tetap bersyukur. Beberapa menit kemudian ada seorang perempuan berkerudung coklat mendekat pada si bapak tua. Dia merogoh sakunya lalu mengeluarkan uang dua ribu rupiah. Bapak tua meraihnya lalu mengambil sekumpulan tisu yang masih tersusun rapih di dalam plastik besar. Perempuan itu langsung memasukan ke tas hitam yang dibawanya. Sekumpulan tisu itu tersenyum, mencoba beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Kemudian memberi senyum pada sebuah lipstik yang bermerk.

“Kau murahan, tak sudi aku berkawan.” ketus si lipstik sambil mengalihkan pandangan dari si tisu.

Tisu pun hanya menghela napas, lalu mencoba menyapa maskara.

“Dasar tisu lusuh, dia berasal dari tempat yang kotor.” caci maskara dari dalam hati, tapi dia tetap membalas senyum walau hanya senyum yang dipaksakan.

Sekumpulan tisu itu bersyukur, setidaknya masih ada sesuatu yang menghargainya. Perempuan berkerudung coklat ini masih tetap berjalan, sekumpulan tisu penasaran hendak dibawa kemana dirinya. Di sudut tas yang gelap, si tisu berandai. Andai saja aku masih sebuah pohon yang kuat, pasti tak ada satu pun yang mengabaikan. Andai saja aku ini masih berdiri kokoh, pasti tak ada satu pun yang menghina. Coba lihat aku sekarang, hanya selembaran tisu yang tipis, tubuh ku saja mudah hancur walau hanya sekedar diremas.

Sekumpulan tisu tersadar, tak baik selalu berandai. Sekarang yang terpenting bagaimana caranya sekumpulan tisu itu dapat menjadi manfaat bagi yang lain. Langkah perempuan tadi terhenti. Mengeluarkan sekumpulan tisu itu lalu meletakkannya di atas meja rias. Ada sebuah cermin besar yang menempel di dinding, si perempuan duduk lalu melihat dirinya dari balik cermin. Kemudian perempuan itu membuka bungkus tisu, mengeluarkan selembar tisu yang putih. Pelan-pelan ia usapkan pada wajahnya. Pertama pada mulut, tisu itu menghapus lipstik merah yang bersemayam. Selanjutnya pada pipi yang merah karena blush-on. Perempuan itu memejamkan mata, menghapus maskara hitam yang menyelimuti bulu matanya. Tak terasa semua riasan itu telah hilang dihapus lembaran tisu. Si perempuan itu pun berdiri dari duduknya lalu merapihkan semua tisu yang sudah terpakai. Dengan tangan halusnya ia masukan sekumpulan tisu yang masih ada ke dalam tas. Kini sekumpulan tisu itu bersebelahan dengan sebuah buku. Ia kembali menyapa dan mencoba akrab dengan buku bersampul itu.

“Banyak perempuan yang lupa, cantik itu tidak sekedar pada riasan di wajah. Lihat hal barusan, riasan semahal apapun bisa dihapus hanya dengan sekedar tisu yang dibeli dari penjajah tisu stasiun. Tapi jadi cantik lah karena ilmu, dia tak akan dapat terhapus, mungkin bisa hilang saat ajal menjemput tapi amal dari ilmu itu masih bisa memberi manfaat.” jelas buku bersampul itu yang membuat sekumpulan tisu masih bersyukur. Setidaknya walau sudah tidak menjadi pohon dia masih berguna bagi yang lain.
“Menjadi kuat tidak berarti apa-apa saat kau tidak bisa jadi manfaat.”

Ega Septiana Putri

KOMENTAR

About The Author