Select Page

KOMUNITAS SEMESTA LITERASI ; CHAIRIL, SEBUAH PENGANTAR DISKUSI

KOMUNITAS SEMESTA LITERASI  ;  CHAIRIL, SEBUAH PENGANTAR DISKUSI

(Ada bagian dalam tulisan ini saya ambil mentah-mentah dari buku Chairil karangan Hasan Aspahani)

Tulisan ini akan saya awali dengan: apaan sih Chairil Anwar, gak jelas banget. Puisinya susah dimengerti. Ruwet.

Saya punya pikiran seperti itu waktu SMP. Puisi Chairil Anwar memang rumit. Kadang ia melanggar tatanan bahasa. Mengganti kata “cahaya” dengan “caya”, mengganti kata “lega” dengan “legah”, “peduli” dengan “perduli”, dan lainnya. Kadang ia menggunakan kata yang secara teknis sama sekali tidak estetik, seperti “mampus”, “kayak”, “ketawa”, dan lainnya.

Pikiran semacam itu mungkin anda alami. Saya mengalaminya karena dua hal. Pertama, saya dendam dengan Krawang-Bekasi Chairil. Di SMP dulu, saya gagal mewakili sekolah saat lomba pembacaan puisi Krawang-Bekasi. Saya yakin ketika itu, tidak ada yang salah dengan teknik dan diri saya. Yang salah adalah puisi Chairil.

Kedua, pengalaman puitik saya belum setara dengan pengalaman puitik Chairil. Ada jarak sangat lebar. Ini membuat interpretasi saya atas sajak Chairil jadi terbatas.

Tapi, bagaimana kalau kuberi tahu begini: Bahasa Indonesia yang kita pakai saat ini wajib berterima kasih kepada Chairil. Chairil memajukan Bahasa Indonesia ke tingkat yang tidak bisa dibayangkan orang-orang di jamannya. Pikiran Chairil melangkah maju puluhan tahun ke depan.

Saya belum pernah menemukan penyair Indonesia seegois Chairil. Puisinya sangat individualis. Ia seolah-olah menulis puisi untuk dirinya sendiri, untuk orang-orang sekitarnya. Ia tidak pernah membuat puisi pamflet berisi ajakan revolusi, atau puisi amanat berisi puji-pujian kepada alam dan tuhan, tanpa menyertakan dirinya sendiri.

Kita yang terbiasa dengan kecepatan: segala yang instan. Akan sulit memahami puisi Chairil. Puisi Chairil adalah perenungan: sesuatu yang dibaca dengan pelan.

Berikut petikan beberapa puisi Chairil:

Aku juga menemu

Ajal di cerlang caya matamu

(Lagu Siul)

Cinta adalah bahaya yang lekas jadi pudar

(Tuti Artic)

Heran! Ini badan yang selama berjaga

Habis hangus di api matamu

(Lagu Siul)

Adakah, adakah

Kau selalu mesra dan aku bagimu indah?

(Mirat Muda, Chairil Muda)

Chairil penuh legenda. Ia yang bohemian, ia yang perayu ulung, ia yang suka mencuri. Selain puisinya, hidup seorang penyair memang selalu menarik.

Di masa kecilnya, Chairil sudah baca banyak buku. Suatu hari, di rumahnya di Pangkalan Brandan, Kesultanan Langkat, 80 kilometer dari Medan. Chairil tengah membaca Layar Terkembang-nya Sutan Takdir. Ibunya, Saleha tengah menyapu di halaman rumah mereka yang beratap tinggi, berjendela lebar dengan kusen dari kayu yang kuat.

Chairil membacakan bagian-bagian penting dalam Layar Terkembang dengan gaya teatrikal. Waktu itu, Belanda sedang galak-galaknya. Secara kebetulan, Layar Terkembang adalah roman yang provokatif. Berisi ajakan untuk melihat budaya Barat dan meninggalkan apa-apa yang dianggap buruk di budaya Timur.

Chairil Anwar kecil ditangkap Belanda karena membaca Layar Terkembang. Toeloes bin H. Manan, ayah Chairil, diminta menjemput anaknya di kantor polisi.

Di kantor polisi, Chairil kecil diminta menjawab persoalan yang bahkan belum ia mengerti.

Dari situ, Chairil tahu bahwa sebuah karya sastra ternyata bisa sedemikian menakutkan bagi penguasa. Dan pekerjaan seorang penulis karena itu bisa sedemikian penting untuk mengubah cara berpikir orang-orang. Ia akhirnya tahu kalau sastra bisa digunakan untuk melawan dan itu akan ia lakukan.

Pengalaman ditangkap polisi Belanda di masa kecil adalah api kecil yang menyalakan cita-cita kepenyairan Chairil. Cita-cita ini tidak lekas padam bahkan saat ia kehilangan rumah dan pekerjaan di Batavia, bahkan saat ia diusir oleh Hapsah istrinya karena tidak bisa memberi nafkah dan ia memilih uang hasil menulis dibelanjakan buku, bahkan saat ia seminggu sekali bolak-balik ke rumah sakit untuk disuntik salvarsan karena sypillis, bahkan saat penyakit menggerogoti tubuhnya sampai mati selama tujuh hari. Bahkan saat menjelang ajal pun, Chairil tetap mendeklamasikan puisi. “Ya, Allah… Tuhanku…. Ya, Allah,” kata Chairil yang sejak 23 April 1949 berjuang menahan penyakit TBC, sypillis, infeksi usus, dan typus. Pada tanggal 28 April 1949, ia meninggal. Namun, bahkan di dalam kuburnya di Karet, Chairil masih berpuisi. “Tak perlu sedu sedan itu, aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang.” Begitu bunyi bait puisi yang ditulis di nisannya. Seolah-olah dari dalam kuburnya ia mau bilang: Chairil tak ingin menangis dan tidak mau ditangisi.

Chairil adalah penyair yang setia pada puisinya. Saat ia bilang ‘aku ini binatang jalang’ yang ‘mau hidup seribu tahun lagi’, Chairil patuh pada puisinya dengan menjadi bohemian: intelektual cerdas yang menggelandang, mencuri buku tebal, numpang makan, tidak pernah mandi.

Dalam membuat puisi, Chairil berani jujur. Saya setuju dengan pernyataan Sayumi, seorang penulis dari Jepang. Ia bilang: jika kita menuangkan perasaan meluap ke dalam kata-kata yang jujur, akan tercipta puisi yang indah. Yang terpenting adalah kata-kata yang jujur, bukan perasaan yang meluap. Perasaan meluap tanpa kata-kata jujur akan melahirkan puisi yang lebai dan kekanak-kanakan. Chairil membuktikan itu. Kata-kata kasar semacam ‘mampus’, bisa ia gubah menawan menjadi: ‘mampus kau dikoyak-koyak sepi’.

Chairil ini adalah tipe orang jika ada, menyebalkan. Jika tidak ada, membuat rindu. Seluruh penyair memang begitu, kurasa~

Asrul Sani, penyair angkatan Chairil yang juga sahabat dekatnya, punya banyak pengalaman soal sikap semau-maunya Chairil.

Suatu malam, keduanya berjalan di Pasar Baru. Sepanjang perjalanan, Chairil selalu menunduk. Asrul Sani kira-kira bertanya begini ke Chairil, “Bung, apa yang bung sedang lakukan?”, Chairil jawab, “Masa di kota sebesar Batavia ini tidak ada dompet jatuh?”

Di kesempatan lain, Chairil melihat Also sprach Zarathustra karangan Friedrich Nietzsche terpajang di sebuah perpustakaan. “Kau awasi penjaga tokonya,” kata Chairil. Keduanya berjalan masuk ke dalam perpustakaan, membagi tugas.

Pencurian berhasil. Saat di luar, sedikit jauh dari perpustakaan, Chairil mengeluarkan buku curian yang ia selipkan di jas. “Sialan, salah bawa.” Ternyata, yang dibawa Chairil adalah alkitab, bukan Zarathustra.

Kali lain, di sebuah warung makan Padang di Pasar Senen. Chairil dan Asrul Sani makan.

Chairil makan dengan lahap. Beberapa kali menambah nasi dan lauk. Chairil makan dengan porsi yang mengherankan: terlalu banyak untuk badannya yang kurus. Ini wajar, mengingat Chairil pengangguran, oleh karena itu ia jarang makan.

Karena heran, Asrul Sani bertanya, “Sudah berapa hari kau tak makan, bung?”

“Kau pun makanlah yang banyak sebelum nanti semua warung makan Padang harus mengganti lauk dengan bekicot seperti anjuran penjajah kate itu. Lagipula, kau yang harus bayar semua ini,” kata Chairil.

“Eh, aku yang bayar ini?”

“Kaulah. Tak mungkin aku yang lusuh begini yang membayar. Malulah kau sama pakaian necismu itu!”

Lihat. Betapa kurang ajarnya Chairil. Hehehe.

Chairil pun pernah dengan gaya kurang ajarnya yang elegan itu mengolok-olok penyair angkatan Pujangga Baru. Ingat, Pujangga Baru adalah angkatan yang dipelopori Sutan Takdir, idola masa kecil Chairil. Sutan Takdir dan angkatannya mengatakan kalau puisi bergaya pantun dan gurindam ala angkatan lama sudah ketinggalan jaman. Maka dari itu, ia membawa era Pujangga Baru yang meninggalkan bentuk-bentuk klasik dalam puisi. Seruan Takdir sebenarnya disambut oleh Chairil dalam puisi-puisinya. Namun, seperti angkatan sebelumnya, Takdir tidak siap dengan bentuk puisi yang ditawarkan Chairil. Kemudian, Chairil beserta angkatannya menutup masa Pujangga Baru, menggantinya dengan Angkatan 45.

Di sebuah forum deklamasi puisi. Di situ hadir para Penyair Pujangga Baru, ada Sutan Takdir, Amir Hamzah, Sanusi Pane, dan lainnya. Orang-orang membacakan sajak-sajak penyair Pujangga Baru.

Chairil dengan mata merah dan badan kurus berdiri di tengah-tengah bangku penonton. Ia mengejek, yang dibawakan orang-orang bukan sajak. Hanya teriakan-teriakan. “Semua orang bisa bikin sajak seperti itu.”

“Kalau saya menulis sajak dengan model yang pernah dituliskan penyair lain, lalu apa yang baru? Apa yang mau ditawarkan untuk kebaruan sastra kita? Bung, sajak yang baik itu menguji wawasan redaktur pengasuh sajak. Bukan mengikut atau mematut-matut dengan selera redaktur,” kata Chairil.

Chairil lantas mengambil kapur dan berkata, “ini baru namanya sajak.” Ia menulis bait demi bait sajak Aku sembari melafalkannya.

Rosihan Anwar yang ikut dalam acara itu, setelah membaca sajak Aku, berkata keras, “Saudara bisa mati digebukin orang!”

Sajak-sajak Chairil yang tidak punya logika kalimat telah dengan berani dan penuh percaya diri menawarkan bentuk baru. Sebuah gangguan yang luar biasa pada kenyamanan pencapaian estetis para penyair Pujangga Baru.

Chairil adalah anak seorang Ambtenaar. Seorang inspektur penghubung antara birokrasi pemerintah Belanda, residen, para asisten penguasa lokal, para sultan, dan kepala distrik. Posisi itu membuat keluarga Chairil kaya raya dan punya pengaruh kuat.

Chairil remaja bisa masuk ke bioskop dan menonton film dewasa karena pengaruh ini.

Ayahnya Saleha, kakek Chairil, adalah sekretaris Tjong A Fie, seorang pengusaha Tionghoa yang imperium bisnisnya sampai sekarang masih berdiri di Medan.

Dua hal ini yang menjadikan Chairil beda dengan anak lain. Keluarganya sangat berpengaruh. Itu membentuk sikap egois pada diri Chairil. Ditambah pertengkaran Saleha dan Toeloes yang kerap terjadi membuat jiwa pemberontakan Chairil tersulut.

Chairil juga dikenal sebagai perayu ulung. Sebenarnya tidak begitu. Chairil tidak merayu setiap perempuan cantik yang ia temui dengan puisi. Namun, jika ia jatuh hati kepada seorang perempuan, ia akan mati-matian mendapatkan perempuan itu. Jika ia suka perempuan, ia dengan berani mendatangi rumahnya.

Di usia SMP, atau HIS (Hollandsch Inlandsche School), Chairil pernah mendatangi rumah seorang gadis di kampung tetangga. Keberanian Chairil dianggap tantangan bagi pemuda kampung itu. Chairil diancam seorang pemuda agar tak lagi datang ke kampung itu. Bukannya kapok, Chairil beserta kawan-kawannya menyerang pemuda itu. Si pemuda, bersama kawan-kawannya balas mendatangi rumah Chairil.

Ida Nasution, perempuan yang pernah dekat dengan Chairil, dibuatkan puisi Sajak Siul dan Tak Sepadan. Chairil dan Ida memang cocok. Keduanya sama-sama pandai, keduanya sama-sama penulis. Namun, Chairil dan Ida memang tak sepadan.

“Chairil itu memang binatang jalang yang sesungguhnya. Tapi apa yang bisa diharapkan dari manusia yang tidak karuan itu?” kata Ida ke HB Jassin. Ida menyukai Chairil, tapi ia sadar tidak bisa mengikuti gaya hidup Chairil yang urakan itu.

Aku kira

Beginilah nanti jadinya:

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa Ahasveros

Dikutuk-sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta,

Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak ‘kan apa-apa,

Aku terpanggang tinggal rangka

begitu bait puisi Tak Sepadan. Chairil sadar, ia tidak bisa memiliki Ida yang teratur. Maka, ia memilih menjadi Ahasveros, raja Persia sekitar 400 tahun sebelum masehi yang minggat dari istana mencari jati diri. Di tengah pencarian itu, Ahasveros gila karena memikirkan berbagai hal yang tidak sampai di pikirannya. Bedanya, Chairil tidak gila karena pikirannya sendiri. Chairil mengembara serupa Ahasveros yang dikutuk-sumpahi Eros, sang dewa cinta. Mengembara karena cinta. Saya sudah sebut di atas, Chairil adalah penyair yang jujur dengan puisinya. Bertahun-tahun kemudian, Chairil tetap mengembara serupa Ahasveros, meninggalkan rumah, baju, istri, anaknya, sampai kemudian mati dikutuk-sumpahi Eros.

Suatu hari, Chairil ditangkap polisi Jepang karena ketahuan mencuri seprai dan cat untuk melukis. Hakim tahu yang ia sidang adalah Chairil Anwar, penyair yang melegenda. Hakim meringankan hukuman buat Chairil, dengan syarat, Chairil harus mau diundang makan malam ke rumahnya.

Dua minggu sebelumnya, Mirat bersama abangnya jalan-jalan ke pantai. Mirat heran dengan seorang pemuda yang duduk termenung di pinggir pantai, membaca sebuah buku. Pantai harusnya jadi tempat rekreasi, bukan tempat baca buku, begitu pikir Mirat. Kekaguman itu jadi bahaya yang tidak lekas pudar. Mirat jatuh cinta pada pemuda tak bernama itu.

Abang Mirat adalah hakim yang menghukum Chairil. Di sisi lain, Mirat baru tahu kalau pemuda yang ia kagumi ternyata adalah Chairil Anwar. Seorang penyair yang selalu ia baca puisi-puisinya.

Dari situ, Chairil dan Mirat makin dekat.

Jika Ida menginginkan kepastian dari Chairil, Mirat tidak menginginkannya. Ia siap hidup bersama penyair.

“Penyair?”

“Ya, aku memang penyair. Aku tak punya pekerjaan lain.”

“Apa kerja penyair?”

“Menghidupi hidup. Menulis puisi.”

“Memangnya bisa dapat uang dari puisi?”

“Bisa. Penyair juga bisa jadi orang kaya raya.”

“Bukannya penyair itu biasanya miskin? Hidup tidak teratur?”

“Hidup ini memang tidak teratur, bukan? Dunia ini memang kacau. Kita hidup dalam kekacauan itu. Bukan berarti kita membuat dunia atau hidup kita sendiri menjadi kacau. Tapi kalau karena keinginan untuk teratur itu membuat kita tidak bisa menikmati hidup kita sendiri, buat apa kita hidup?”

Ya, Mirat menerima Chairil apa adanya. Tapi tidak keluarganya. Keluarga Mirat setuju Chairil menikahi anaknya, dengan syarat: Chairil harus punya pekerjaan tetap. Tentu itu satu-satunya syarat yang tidak bisa dipenuhi Chairil. Amat mudah sebenarnya jika Chairil ingin mendapatkan pekerjaan. Kebesaran namanya membuat ia bisa bekerja di mana saja. Ditambah pengaruh dari omnya Sutan Sjahrir. Namun, Chairil memang tidak ingin menjalani hidup seperti itu.

Akhirnya, setelah perjuangan menyakinkan keluarga Mirat tidak pernah berhasil, Chairil memilih hidupnya dan memutuskan Mirat. Kepada Mirat, ia menulis Sajak Putih. Sajak dengan pengulangan bunyi konsonan ‘m’ yang terpanjang dan terindah dalam sejarah puisi Indonesia.

Urusan cinta, Chairil tidak pernah mengalah. Chairil hanya mengalah pada Sri Ajati. Cinta terbesar sekaligus patah hati terbesar Chairil. Sikap Chairil pada Sri Ajati adalah bukti jika Chairil amat menghargai perempuan.

Sri Ajati sangat cantik. Ia model lukisan Basuki. HB Jassin bahkan mengatakan, “Jika ada pemuda yang sehat jiwa raganya tidak jatuh cinta pada Sri Ajati, berarti pemuda itu sedang gila.”

Chairil adalah pemuda yang sehat jiwa raganya.

Namun, cinta Chairil pada Sri Ajati bertepuk sebelah tangan. Sri sudah bertunangan dengan seorang dokter. Chairil bahkan tidak pernah menyatakan cintanya kepada Sri Ajati. Kepada Sri Ajati, Chairil membuat puisi legendaris: Senja di Pelabuhan Kecil. Puisi paling sendu yang pernah saya baca.

buat Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta

di antara gudang, rumah tua, pada cerita

tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut

menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang

menyinggung muram, desir hari lari berenang

menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan

menyisir semenanjung, masih pengap harap

sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan

dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Saya tinggal di Karawang. Chairil pernah tinggal di Karawang, bahkan menikah dengan gadis Karawang, Hapsah Wiraredja, dan memiliki anak bernama Evawani. Sebenarnya, tidak ada catatan pasti berapa lama Chairil tinggal di Karawang. Ada yang bilang ia sering bolak-balik Karawang-Batavia. Ada yang bilang ia hanya tinggal selama beberapa bulan. Ada yang bilang ia tinggal selama tiga tahun.

Krawang-Bekasi, puisi Chairil yang menyadur The Young Dead Soldiers karya Archibald Macleish, dibuat tahun 1948. Puisi itu merekam tragedi pembantaian yang menewaskan ribuan orang di kampung-kampung Bekasi pada tahun 13 Desember 1945, dan pembantaian Rawagede di Karawang pada 9 September 1947. Chairil menikah dengan Hapsah pada 6 Agustus 1946, hari kedelapan Bulan Ramadan, 1365 Hijriah, setelah saling kenal selama tiga bulan. Pada 17 Juni 1947, Chairil bercerai dengan Hapsah saat Evawani berusia satu tahun 10 bulan. Saat itu mereka sudah tinggal di Jatinegara, Jakarta.

Benih-benih puisi Krawang-Bekasi sudah ditemukan Chairil jauh sebelum tahun 1948. Kahfi Satria Darma (usianya 87 tahun), seseorang yang mengaku kawan Chairil saat Chairil tinggal di Karawang, yang saya wawancarai, mengatakan, sekitar tahun 1946, Chairil sudah menulis Krawang-Bekasi. Namun, puisi itu belum utuh. Belum mengalami pengendapan.

Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, Chairil melihat dengan mata kepala sendiri mayat bertumpuk-tumpuk di sepanjang jalan dari Alun-alun Karawang sampai ke Bekasi. Itu yang menginspirasi Chairil membuat Krawang-Bekasi.

Ada juga rumor yang mengatakan soal keberadaan meja tulis yang dipakai Chairil di Karawang. Meja tulis itu kabarnya disimpan oleh Bumbun, ayah dari Wakil Ketua DPRD Karawang sekaligus Ketua DPD Golkar Karawang, Sri Rahayu Agustina. Sri, ketika saya wawancarai pun mengatakan kalau ia sama sekali tidak tahu jika rumahnya pernah disinggahi penyair besar.

Saya melampirkan artikel berita hasil penelusuran saya terkait jejak Chairil Anwar di Karawang.

LAMPIRAN

Pria bermata merah, kurus seperti kurang makan, rambut gondrong tak terurus, duduk seorang diri pada sebuah balai-balai di Kampung Anjun Kanoman, Kelurahan Karawang Kulon. “Hidup hanya menunda kekalahan.” Demikian pria itu pernah menulis pada salah satu sajaknya. Di sela jemari kanannya, terselip rokok shiharo. Semacam kretek.

Chairil selalu gelisah tiap kali menulis sajak. Ia lebih sering meremas dan membuang kertas, ketimbang menyimpan puisi-puisinya. Dari ingatan Kahfi Satria Darma (87), sahabat Chairil sewaktu penyair berjuluk Binatang Jalang ini tinggal di Karawang, Chairil melakukan proses kreatifnya di sebuah balai-balai. Balai-balai itu menghadap langsung ke jalan, yang selalu ramai. Berbeda dengan penyair kebanyakan, Chairil seperti menghindari sunyi.

Seperti dituturkan Kahfi, kalau ada uang, Chairil pergi ke tempat prostitusi. Kahfi tidak tahu apa yang dilakukan Chairil di sana.

Saat Chairil tinggal di Karawang, Kahfi baru 17 tahun. Namun, di tahun 1946 ketika itu, nama Chairil sudah dikenal di mana-mana. Karena sudah berlangsung puluhan tahun, ingatan kahfi terhadap Chairil sedikit samar. Namun, yang paling Kahfi ingat dari Chairil adalah tenaga hidupnya. Chairil adalah tipe orang yang senang mendominasi. “Tiap kali kumpul-kumpul, ngopi, Chairil pasti mendominasi pembicaraan. Ia bisa bicara apa saja. Yang paling sering adalah pembicaraan soal negara,” terang Kahfi. Tapi di luar hal-hal itu, Chairil tidak banyak bicara. Ia bicara seperlunya.

Chairil seperti bisa meramal. Begitu kata Kahfi. Karena hampir di tiap diskusi, Chairil selalu bilang kalau Karawang tidak akan sama. “Ia bilang, Karawang akan maju. Akan menjadi kota. Tidak akan sama seperti sekarang ini,” kenang Kahfi.

“Memang kebetulan, rumah saya dan rumah yang ia tinggali, letaknya berdekatan. Itulah kenapa, kami bisa sering kumpul-kumpul,” tambah Kahfi.

“Dulu dia tinggal di rumah Haji Ipin, sekarang rumah Pak Bubun. Kalau gak salah masih ada di sana (rumah Pak Bubun),” ucapnya. Ia menyebutkan sayangnya banyak orang yang tidak tahu mengenai Chairil Anwar di Karawang. “Saat Chairil di Karawang sendiri memang sangat singkat.”

Saat menulis sajak, Chairil tidak membawa buku tulis seperti kebanyakan penyair. Chairil memang bukan tipe penyair salon -tipe penyair yang dibicarakan WS Rendra dalam puisi Sajak Sebatang Lisong, tipe penyair yang bersajak tentang anggur dan rembulan.

Sepanjang ingatan kahfi, Chairil selalu membawa bergulung-gulung kertas dan alat tulis. Pada gulungan itulah, Chairil menumpahkan karyanya. “Saya pernah mengambil kertas yang ia remas dan buang. Di kertas itu dia menulis ‘Krawang’, kemudian ia coret dan ganti menjadi ‘Kerawang’, ia coret lagi menjadi ‘Karawang’. Mungkin itu cikal bakal puisi Karawang-Bekasi yang fenomenal,” ujar Kahfi.

Chairil yang diingat Kahfi, berkebalikan dengan Chairil yang digambarkan oleh Sjuman Djaya dalam buku berjudul AKU. Di buku itu, Chairil digambarkan sebagai penyair yang seenaknya. Ia dikagumi, sekaligus dibenci oleh seniman angkatannya karena gaya seenaknya itu. Chairil versi Kahfi, adalah Chairil yang tenang dan cuek.

Di Karawang, selain kenangan dan anak-istri, Chairil tidak meninggalkan apa-apa. Memang, Chairil berpisah dengan Hapsah Wiraredja, seorang gadis Karawang yang dikabarkan tinggal di Sadamalun, karena alasan ekonomi. Chairil lebih senang membelanjakan uang untuk buku-buku.

Kabarnya, Chairil lumayan produktif di Karawang. Meski begitu, tak ada yang bisa menemukan jejak puisi yang ia buat di Karawang. Tercatat, hanya satu puisi yang (diduga) dibuat Chairil, yaitu Karawang-Bekasi. Selebihnya, puisi Chairil yang dibuat di Karawang masih misteri.

Chairil pergi begitu saja dari Karawang. Ia memberi warga Anjun kenang-kenangan berupa lemari yang dimodifikasi menjadi meja tulis.

Namun, sampai tulisan ini dibuat, meja itu belum terlacak.

Krawang-Bekasi adalah saduran dari The Young Dead Soldiers Do Not Speak karya Archibald Mac Leish. Setidaknya ada lima bait puisi Karawang-Bekasi yang dianggap meniru larik The Young Dead Soldiers Do Not Speak.

Seperti pada bait: Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami?; Yang dianggap meniru: Nevertheless they are heard in the still houses: who has not heard them?; Juga pada bait: Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak; Yang dianggap meniru: They have a silence that speaks for them at night and when the clock counts.

Juga pada bait: Kami mati muda.Yang tinggal tulang diliputi debu. Kenang, kenanglah kami; Yang dianggap meniru: They say, We were young. We have died. Remember us. Juga pada bait: Kami sudah coba apa yang kami bisa; Yang dianggap meniru: They say, We have done what we could but until it is finished it is not done.

Terakhir, pada bait: Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa. Yang dianggap meniru: They say, We have given our lives but until it is finished no one can know what our lives gave.

H.B. Jassin membela Chairil dengan mengatakan, tindakan Chairil patut dimaklumi karena Chairil perlu banyak uang untuk mengobati penyakit paru-paru yang diidapnya.

Lagipula, versi saduran milik Chairil memiliki tenaga lebih hidup ketimbang versi aslinya. Chairil telah membawa puisi The Young Dead Soldier ke tingkat lebih tinggi.

Karawang-Bekasi sendiri, ditulis pada medio agresi militer Belanda II sekitar tahun 1948. Waktu itu, Chairil sudah menikah dengan Hapsah, gadis Karawang yang dipanggil ‘gajah’ oleh Chairil.

Digambarkan oleh Kahfi Satria Darma, Karawang-Bekasi bukanlah puisi yang diciptakan secara singkat. Kahfi melihat sendiri, kegelisahan Chairil saat membuat puisi ini. Dengan rokok Jepang merk Shiharo, segelas teh pahit, Chairil mencorat-coret gulungan kertas. Berkali-kali, Chairil menulis di kertas, untuk kemudian diremas, dan dibuang begitu saja.

Oleh Faizol Yuhri. Pustakawan. Redaktur di sebuah media yang kau tidak perlu tahu namanya. Hampir ingin jadi penulis.

 

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *