Select Page

POTRET SOSIAL NOVEL SANG PEMBELAJAR

POTRET SOSIAL NOVEL SANG PEMBELAJAR

Kepercayaan bahwa sastra adalah rekaman sebuah zaman masih kuat dalam keyakinan masyarakat dan para peneliti sastra. Maka dari itu tak heran bahwa setiap karya sastra akan merefleksi kembali kejadian sosial atau menjadi sarana dokumentasi serta potret sosial di sebuah zaman. Dan itu bisa dibuktikan secara ilmiah dengan menggunakan data-data empiris dan historis.

            Pada bagian ini, akan diuraikan bagaimana merasuknya kondisi sosial masyarakat yang terkandung dalam sebuah karya sastra khususnya novel Sang Pembelajar karya Wildan F. Mubarock. Sejenak akan dilepaskan kaitan antara pengarang dengan karyanya agar bisa memperoleh kesimpulan yang mutakhir bahwa kondisi sosial terekam dalam novel ini.

            Novel ini banyak menceritakan tentang kisah-kisah guru yang kurang sejahtera dan kurang perhatian dari pemerintah. Di Indonesia banyak terjadi kasus bahwa seorang guru harus menyambi atau mencari alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Dan secara jelas bahwa di novel ini menyajikan kondisi sosial cerita sebagai refleksi dan rekam jejak kenyataan di zaman sekarang.

Setiap harinya, Ia harus segera pulang seusai dari sekolah dan membantu Mak Yati di rumah berjualan nasi uduk dan beberapa makanan ringan serupa chiki dan rupa-rupa minuman. (55-56, Sang Pembelajar: 2016)

            Dalam kutipan tersebut jelas menggambarkan kehidupan keluarga Pak Mumuk yang harus dibantu dengan wirausaha agar kebutuhannya bisa terpenuhi. Kondisi sosial seperti ini banyak ditemukan di zaman sekarang pada guru-guru honorer dan sebagian guru non-PNS. Penggambaran ini menjadi jejak rekam bahwa dunia pendidikan Indonesia sedang dalam keadaan kritis dan perlu pembenahan lebih. Dan itu menjadi kritikan yang sangat tepat sasaran jikalau masyarakat sadar atas keprihatinan bersama tersebut.

            Dalam novel tersebut juga banyak dihadirkan kondisi ekonomi yang sangat prihatin dari sebuah keluarga seorang guru. Penggambarannya sangat nyata bahwa untuk membeli baju koko saja keluarga tersebut mesti memperhitungkan dan membandingkannya dengan kebutuhan lain yang dianggap lebih penting.

            Selain itu, ada suatu hal yang menggelitik di beberpaa adegan dalam novel tersebut. Dalam adegan peristiwa pemalakan dan premanisme di sekolah, pengarang mencoba menghadirkan potret pendidikan dari sudut lain: siswa/terdidik. Pada kenyataannya, premanisme dan perkelahian antarsiswa masih sering terjadi dalam kenyataan pendidikan di zaman sekarang. Alhasil, pengarang mencoba bijaksana tentang bagaimana beratnya kerja seoang guru dalam hal pendidikan di sekolah, apa lagi dengan timbal balik yang kurang menyenangkan dari segi materi.

            Perkelahian amatir di jalanan gang tak bisa dihindarkan oleh Tegar dan Wildan. Keduanya bahu membahu melawan dengan sekuat tenaga. Sesekali tas ransel mereka jadi senjata dadakan. Mesti tak bertubuh kekar Wildan merobohkan dua di antara mereka dengan tendangan melayangnya. Sementara Tegar malah kewalahan menghadapi Si Kurus dan Bogel. Dua orang tunggang langgang setelah kata ampun terlontar. (58, Sang Pembelajar: 2016)

Dampak Sosial dari Novel Sang Pembelajar karya Wildan F. Mubarock

            Novel Sang Pembelajar ini diharapkan memberikan sebuah pemahaman dan keterbukaan dalam dunia pendidikan Indonesia. Dengan membaca novel tersebut, diharapkan, masyarakat pembaca bisa membuka mata terhadap kenyataan yang memilukan dari seorang guru—meski tak semua guru berakhir tragis dalam hidupnya. Penggamabaran ini bisa sangat memotivasi para pelaku pendidikan agar lebih prihatin terhadap dunia pendidikan yang banyak memberikan manfaat dan pengalaman yang tak terhingga nilainya.

            Selain itu, novel ini diharapkan menjadi kritik tajam yang langsung dilesatkan ke mata pemerintah agar bisa lebih melihat lebih nyata terhadap dunia pendidikan yang diwakili sosok Pak Mumuk dan keluarga dengan segala problematika kehidupan berkeluarganya yang serba kekurangan. Dengan begitu, tak ada lagi anggapan bahwa guru adalah sebuah profesi yang belum bisa menjamin kesejahteraan padahal dari sinilah kesuksesan dipupuk dan disiramkan kepada generasi penerus bangsa.

            Harapan-harapan tersebut menjadi kemungkinan terbesar bahwa dampak inilah yang sepertinya ingin dihasilkan oleh pengarang melalui novel Sang Pembelajar. Dan akhirnya, hipotesis dampak ini bisa dibuktikan di masa depan; apakah masyarakat akan terbuka matanya atas keprihatinan dalam dunia pendidikan Indonesia? Semoga. Deden

 

KOMENTAR