Select Page

Advertisement

Menentang Nurani (Q.S. Al-‘Araaf-80) |Headline Bogor

Menentang Nurani (Q.S. Al-‘Araaf-80) |Headline Bogor

Peradaban umat manusia dengan segala bentuk dinamika kehidupannya menghasilkan peristiwa-peristiwa penting dan menarik untuk di bahas salah satunya peristiwa yang berkaitan dengan hubungan seks antara seseorang yang mempunyai jenis kelamin yang sama atau dikenal dengan istilah “homoseksual” atau orang tiongkok menyebutnya “kenikmatan buah terlarang”.

Homoseksual adalah sebuah istilah yang dianugerahkan kepada seseorang yang melakukan suatu hubungan seks terhadap seseorang yang mempunyai jenis kelamin yang sama. Hal seperti ini bukan merupakan suatu peristiwa yang baru muncul ke permukaan bumi, melainkan sebuah peristiawa yang pernah bahkan sering terjadi sejak zaman dahulu.

Dalam kitab suci Al-quran Allah SWT telah berfirman [Al`araaf:80], yang artinya “dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya), (ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka: “mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang sangat terhina itu, yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian?.

Orang-orang muslim telah mengetahui bahkan meyakini bahwa melakukan hubungan seksual terhadap sesama jenis bermula pada zaman nabi Luth, A.S di negeri yang bernama “Sodom” sehingga muncullah “sodomi” yang diistilahkan pada pelaku seks terhadap sesama jenis. Bersamaan dengan itu ada satu ayat yang telah difirmankan dalam [Al`araaf:80], yaitu “perbuatan sangat terhina”, yang ahli tafsir manapun yang menafsirkan kalimat itu meurut saya akan tetap mengandung makna “hina”. Dan perlu kita ketahui juga bahwa peradaban kaum Sodom merupakan masyarakat yang identik dengan kerusakan moral parah dengan kata lain krisis moral. Dan akibat dari segala perbuatan yang dilakukan oleh mereka pada masa itu, terjadi sebuah bencana sangat dahsyat yang membinasakan mereka (Kaum Sodom) dan merupakan bentuk ekspresi keresahan alam terhadapnya, dan tentulah atas persetujuan pemilik semesta yaitu Tuhan yang maha kuasa atas seluruh makhluk ciptaannya.

Binasanya negeri itu, bukan berarti estapet sejarah hubungan sesama jenis telah usai. Seiring berjalannya waktu perbuatan seperti ini bermunculan kembali pada zaman-zaman setelahnya. Sangat banyak sekali perbuatan seperti ini terjadi dalam roda sejarah peradaban manusia dan berujung tragis.

Kita ambil suatu kasus yang terjadi pada peradaban pra-penaklukan di Amerika Latin, seperti Aztek, Maya, Quechua, Moche, Zapotek dan Tupinambà di Brasil. Para penakluk Spanyol terkejut dengan penemuan praktik sodomi yang dilakukan secara terbuka, dan pada akhirnya mereka mencoba membinasakan melalui hukuman berat, termasuk hukuman mati di depan umum, dibakar, dan diterkam oleh sekawanan anjing.

Selain berdasar pada perspektif agama dan sejarah, secara alamiah telah kita ketahui Bersama mengenai sesuatu yang berlainan jenis, seperti siang-malam, panjang-pendek, besar-kecil, awal-akhir, dan lainnya. Dalam salah satu disiplin ilmu alam telah dijelaskan suatu peristiwa tentang unsur atau zat yang saling tarik menarik (berikatan) satu sama lain. lebih jelasnya bahwa suatu unsur akan saling Tarik menarik (Berikatan) membentuk suatu senyawa, apabila unsur yang satu dengan yang lainnya memiliki muatan yang berbeda (positif dan negatif), dan akan saling tolak menolak apabila unsur yang satu dengan yang lainnya memiliki muatan yang sama peristiwa ini dinamakan gaya elektrostatik. Sama halnya jika kita analogikan kepada manusia yang menurut saya dapat dijadikan landasan fitrah manusia itu sendiri, atau dengan kata lain merupakan hukum alam bagi manusia. Karena menurut kaum stoik (suatu aliran filsafat) “setiap orang adalah sebuah dunia miniature (mikrokosmik) yang merupakan cerminan dari (makrokosmos), dan undang-undang yang dibuat diberbagai negara hanyalah tiruan tidak sempurna yang tertanam pada alam itu sendiri”.

Dewasa ini ditanah air Indonesia sedang ramai memperbincangkan perbuatan seks terhadap sesama jenis atau dalam istilah moderennya “LGBT”. Hal ini menyebabkan banyaknya opini yang lahir di tengah masyarakat dan menuai pro-kontra, tentunya dengan alasan tersendiri. Ada yang memandang bahwa peristiwa ini sebagai konsep yang sengaja dibuat dengan tujuan peredaman terhadap peristiwa besar (kasus yang menimpa seoarang tokoh politik sekaligus mantan ketua legislatif) yang ramai diperbincangkan dikalangan masyarakat dan diberbagai media. Ada juga yang berpandangan bahwa hubungan seks sesama jenis kelamin terjadi akibat rasa kekecewaan yang mendalam seseorang yang kandas dalam kisah percintaannya. Apapun pandangan orang lain terhadap hal ini, tidak akan merubah pandangan saya terhadap perbuatan LGBT ini. Bahwa selain bertentangan dengan hukum agama, perbuatan seperti ini bertentangan juga dengan hukum alam, dan akan sangat miris sekali jika masyarakat Indonesia khususnya kaum muda, yang menjadikan perilaku LGBT ini dijadikan sebagai suatu modern style (gaya modern) yang padahal itu sebagai bentuk “westernisasi”.

Tidak menutup kemungkinan bisa terjadi dengan melihat perkembangan teknologi dan krisis mental yang menimpa para pemuda-pemudi Indonesia.

Mungkin pandangan saya terhadap apa yang tengah terjadi di negara tercinta ini lemah sifatnya, karena lahir dari seorang yang bukan ahli dalam bidang ilmu hukum, politik, sejarah, agama, maupun filsafat. Tapi mudah-mudahan ada, meskipun sedikit nilai yang bermanfaat.

Oleh:
Yoga Prasetia
Mahasiswa Kimia
Universitas Pakuan
(Editor, Sandi : Bentuk penulisan memakai metode Filosofis Historis)

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *