Select Page

Menyambut Utuy – Catatan pra Parade Teater Kampus Bogor 2017

Menyambut Utuy – Catatan pra Parade Teater Kampus Bogor 2017

(Headlinebogor.com) – “Barabah” karya Motinggo Busye lima tahun lalu dipertunjukan oleh Sanggar Seni Kimia Analisis (saseka) di Gedung kesenian Kamuning Gading pertunjukan yang dipentaskan pada tanggal 24 April 2012 adalah penanda sejarah parade teater kampus Bogor dimulai.

2017 ini parade teater kampus Bogor akan kembali dilaksanakan di Gedung kesenian Kamuning Gading Kota Bogor, semangat berteater dikalangan mahasiswa di kota hujan ini memang tak pernah surut, selain parade ada pula pertunjukan-pertunjukan teater yang dilaksanakan di kampusnya masing-masing, Bogor yang kerap hujan selalu dihangatkan dengan semangat berteater para mahasiswa dan mahasiswi Bogor, yang pada hakikatnya teater kampus dikota Bogor lahir dari pergerakan UKM Seni Kampus atau UKM Fakultas. Semangat pergerakan mahasiswa sebagai leader of change berimbas pada semangat berteaternya yang selalu agresif dan enerjik, walau terkadang harus bergerak dengan penuh perjuangan, tapi itu semua lah ciri khas dari pergerakan teater kampus

Di helaran parade tahun ini ada perbedaan yang signifikan dibanding dengan parade tahun-tahun sebelumnya, tahun ini panitia penyelenggara Parade menyepakati untuk memilih satu penulis lakon teater sebagai bahan naskah yang akan dipertunjukan, dan naskah-naskah Utuy Tatang Sontani lah yang dipercayai untuk dipertunjukan pada helaran Parade tetaer Kampus Bogor 2017. Jauh berbeda dengan kegiatan parade sebelumnya yang membebaskan peserta untuk memilih naskah yang dipertunjunjukan. Dari banyaknya naskah Utuy dipilihlah beberapa naskah yang akan dipentaskan peserta parade teater kampus Bogor 2017 yaitu: Teater karoeng Fisib Unpak naskah “Awal dan Mira”, Saseka Akademi kimia analisis naskah “Bunga Rumah Makan” Teater Jendela Diploma IPB naskah “Muka Kaca” UKM Seni Budaya Unpak naskah “Sayang Ada Orang Lain”, Sanggar Seni Teater Lentera Unida naskah “Sangkuriang” Tetaer Diksat FKIP Unpak naskah “Selamat Jalan Anak Kufur”.

Berbicara naskah-naskah Utuy maka akan berhadapan dengan naskah-naskah realis sosialis Utuy yang di tulis kisaran pasca 1945. Utuy Tatang Sontani seorang sastrawan yang lahir di Cianjur, Mei 1920 dan wafat Moskwa September 1979 seorang penulis lakon kawakan yang pernah lahir di Indonesia. Dalam benak Utuy derita, perjuangan dan sudut pandang orang kelas bawah adalah penting untuk dia catat dalam naskah drama atau karya sastranya. Apabila sebelum 1945 drama dikenal tersekesan “romantik”, maka sejak diterbitkannya karya Utuy Awal dan Mira (1952), drama beralih menjadi realis. Karya Utuy merupakan jembatan yang menghubungkan masa lampau drama Indonesia ke masa yang lebih warna-warni (Sapardi Djoko Damono “Pendahuluan Jilid 3 Antologi Drama Indonesia: Revolusi, Kemerdekaan, Ketimpangan” Antologi Drama Indonesia, Jilid 3 1946-1968, 2006: XVII-XXIV). Berbicara bapak naskah drama realis Indonesia Utuy adalah salah satunya, pasca 1945 karya-karya Utuy menjadi penanda penting dalam perkembangan drama realis Indonesia.

Utuy selalu cerdas dalam mencatat kehidupan dalam karyanya seperti Bunga Rumah Makan (1948), Orang-orang Sial (1951) serta Awal dan Mira (1952) merupakan karya sastra Utuy yang memotret revolusi Indonesia. Mulai dari kisah percintaan anak muda, kisah tukang sol sepatu, tukang doger, dan penjaga rumah makan, merupakan gugusan cerita rakyat kecil yang menjadi objek kesusastraan Utuy. Dalam khasanah kesusastraan Sunda, Utuy pun sempat mengenalkan gagasan Barat terhadap cara pandang kesusastraan lama Sunda yakni cerita Sang Kuriang dan Si Kabayan. Dengan begitu, nama Utuy pun tak bisa dipisahkan dari perkembangan kesusastraan Sunda pascakemerdekaan. Bahkan cerita libretto Sang Kuriang-nya merupakan libretto pertama dalam khasanah kesusastraan Sunda (Ajip Rosidi, “Menggali Jang Lama” Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? 1964: 94-102). Jalan cerita mengenai Sang Kuriang yang ditulisnya, mirip tragedi pahlawan Oedipus di Yunani, pun diakui memiliki orisinalitas yang belum dimiliki penulis lain ketika itu. Begitupun cerita Si Kabayan-nya mulai mengadaptasi mengenai kehidupan masyarakat sezamannya sebagai ironi dan satire. Karena itu, barangkali sampai saat ini orang sulit melupakan peran Utuy di dalam khasanah kesusastraan Sunda. Diluar keterlibatan Utuy dalam organisasi Lekra, Utuy merupakan penulis yang mampu mencatat pergerakan manusis-manusia kelas bawah, mampu memotret kisah percintaan yang berlatar revolusi, dan catatan lain mengenai manusia Indonesia pada masa itu.

Mahasiswa yang merupakan motor-motor pergerakan di negeri ini pantaslah untuk membaca karya Utuy seperti Para peserta parade teater kampus Bogor 2017 akan mengalami pengalaman estetik yang berbeda pada helaran parade tahun ini, Naskah Utuy sebagai landasan pembacaannya akan memberikan sentuhan pergerakan dan kepekaan sosial yang sejalan dengan idealisme mahasiswa sebagai agen perubahan, setelah membaca dan mempertunjukan naskah Utuy mungkin akan banyak berpunculan persasaan resah terhadap keadaan sosial kehidupan disekitarnya, malah sampai kehidupan panggung teater Bogor, keresahan ini patut dibangun baik dalam kehidupan nyata atau kehidupan panggung, hingga kepekaan dan daya kritis bagi seorang mahasiswa terus terbangun.

Menyambut Utuy di Parade teater kampus Bogor 2017 adalah menyambut perubahan, menyambut daya kritis, menyambut pergerakan hingga menyambut revolusi berteater dikota ini. Pergerakan Parade teater kampus Bogor yang sudah berlangsung selama lima tahun ini perlu banyak penyegaran bentuk dan konsep disetiap tahunya agar panggung teater Bogor penuh warna dan manfaat. Diawali dengan menyambut Utuy dibulan Mei, bulan kelahiran Utuy, bulan penuh pergerakan.

 

 

 

 

 

Kiriman : Achmad Dayari // Buitenzorg Actor Syndicate

Foto : Dokumentasi parade teater kampus Bogor 2016 Teater Karoeng naskah Malam Jahanam

KOMENTAR

About The Author