Select Page

Advertisement

TENGOK PERJALANAN SEJARAH PECINAN GLODOK JAKARTA

TENGOK PERJALANAN SEJARAH PECINAN GLODOK JAKARTA

Mengunjungi kota tua bukan hal yang asing bagi sebagian besar masyarakat yang tinggal di kawasan Jabodetabek. Tapi menelusuri setiap jengkal sejarah yang tertinggal di dalam nya mungkin hanya sebagian kecil orang saja yang meminatinya. Seperti kata pepatah “Bangsa besar adalah Bangsa yang menghargai sejarahnya” inilah yang mendasari salah satu komunitas Budaya melakukan perjalanan Budaya Penelusuran Jejak Pecinan Glodok di Jakarta.

Bukan hal yang aneh lagi, etnisTionghoa sudah merupakan bagian dari perjalanan bangsa ini. Itu juga yang terjadi di Jakarta khususnya kawasan Kota tua. Nama Glodok yang merupakan salah satu pusat perniagaan terbesar di Jakarta ada kaitaannya dengan Pancuran yang ada di halaman gedung Museum Fatahillah. Dulu Museum ini adalah Balaikota Pemerintahan Batavia. Berdasarkan sebuat lukisan tua di halaman ini, dulu terdapat pancuran. Pancuran ini sebagai sumber air bagimasyarakat Batavia yang kalaitu air di wilayah tersebut Payau. Para arkeolog pun menemukan pipa-pipa besar di bawah halaman Batavia menuju sebuah waduk penampungan air sungai Ciliwung di kawasan yang sekarang bernama Glodok. Konon kata “Glodok” berasal dari salah pengucapan etnis tionghoa yang tidak bias mengucapkan “R” pada kata “grojok-grojok”, kata yang sering diucapkan kaum pribumi saat itu ketika mendengar suara air dari pancuran.

Membayangkan kehidupan etnis Tionghoa di kawasan kota Tua, bias dilakukan dengan menelusuri kawasan Pintu Kecil. Disana masih dapat kita temukan beberapa rumah dengan arsitektur unik Tionghoa. Salah satunya adalah rumah sate dengan guci di atas atapnya sebagai penolak bala. Bisa juga kita temukan rumah-rumah yang di bangun di atas gang.Tapi mayoritas bangunan dikawasan ini berlantai dua berbentuk Ruko “RumahToko”, hal ini dikarenakan etnis ini menganggap rumah tidak hanya sebagi tempat tinggal tapi juga tempat usaha. Selain itu, kita pun dapat menyelusuri kawasan Jalan Peniagaan hingga Toko Tiga.

Di sana terdapat SMAN 19 yang dulunya merupakan bangunan tempat perkumpulan warga Tionghoa dalam sebuah organisasi“ Tiong Hoa Hwe Koan” pada tahun 1900. Sebagai buktinya dapat kita temukan sebuah tulisan di gerbang sekolah tersebut dengan nama organisasi ini. Tidak jauh dari gedung SMAN 19 kita dapat temukan rumah Patekoan sebagai tempat kediaman keluarga Souw, salah satu orang kaya di Batavia saat itu.Selama perjalanan juga dapat dilihat beberapa klenteng sebagai tempat ibadah etnis Tionghoa. Klenteng Dharma Bakti (Kim Tek Le) adalah klenteng tertua yang dibangun pada tahun 1650. Klenteng ini sempat beberapa kali rusak, tapi terus di bangun karena bernilai sejarah. Klenteng Toa Sai Bio di Jalan Perniagaan menjadi salah satu klenteng bersejarah yang dibangun padaTahun 1751. Klenteng ini dinamakan demikian karena memuja Dewa Toa Sai Kong atau Paduka Duta Besar. Satu Klenteng lagi di daerah jalan Perniagaan di bangun pada saat Penjajahan Inggris tahun 1811 bernama Klenteng Budi Dharma. Ada satu bangunan ibadah lagi yang bernilai sejarah di sini yaitu Gereja Maria de Fatima di Jalan Kemenangan III. Gereja ini unik karena banguannya mirip klenteng. Dulu Gereja ini merupakan tempat tinggal seorang kapiten Cina di Batavia.

Ini sekelumit kisah sejarah dari perjalanan budaya pecinang Glodok. Saat ini, Glodok berkembang dengan pesatnya dengan kisah masa lalu bernilai sejarah tinggi. Etnis Tionghoa menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan kemerdekaan negeri ini. Semoga kedamaian selalu melingkupi negara ini.(Suci L)*

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *