Select Page

Sejumlah Komunitas Berkolaborasi Gagas “Lulugu Puseur Cisadane” | Headline Bogor

Sejumlah Komunitas Berkolaborasi Gagas “Lulugu Puseur Cisadane” | Headline Bogor

BOGOR – Sejumlah komunitas seni dan budaya Sunda, pecinta alam, karang taruna dan aparatur pemerintah Desa Rancabungur, Kecamatan Rancabungur, Kabupaten Bogor berkolaborasi menggagas “Lulugu Puseur Cisadane”, pada 27 Januari 2018 mendatang.

Guna menyiapkan aksi penyelamatan sungai Cisadane, pada Sabtu (13/1) dilakukan rapat tim di komplek “Desa Wisata Paniisan”, RW 5, Jembatan Cisadane, Desa Rancabungur.

Rapat tersebut dihadiri 30 orang, dan sepakat berkolaborasi menggagas aksi “Lulugu Puseur Cisadane”, yakni melestarikan bagian tengah DAS.
Para pemangku kepentingan yang hadir dalam rapat ini, yakni Kepala Desa Rancabungur, Sumantri, penggiat budaya Sunda Ahmad Fahir, Ketua Karang Taruna Tunas Muda, Mubarok, Ketua Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Mandiri Bersama, Dahniar dan para pegiat Karinding Wates (Kawat) Rancabungur.

Hadir pula pegiat Gunung Kars, Ki Darmawan, pembina Baraya Kujang Pajajaran (BKP) Ki Gatut Susanta, dan Ki Syarif Bastaman , serta perwakilan Kodim 0621/Cibinong.

Kepala Desa Rancabungur Sumantri, yang didaulat sebagai ketua panitia “Lulugu Puseur Cisadane” mengatakan, kegiatan tersebut digagas sebagai upaya penyelamatan Cisadane, terutama di wilayah Rancabugur, yang masuk bagian tengah daerah aliran sungai.

Sumantri mengemukakan, DAS Cisadane dalam kondisi kritis, lantaran banyaknya warga di bantaran sungai yang membuang sampah hingga limbah industri.

Selain itu, kondisi tutupan hutan sepanjang DAS Cisadane, juga mulai gundul akibat makin terdesak oleh pembangunan dan permukiman masyarakat.
“DAS ini menjadi sumber kehidupan bagi jutaan warga Bogor dan Tangerang. Harus dilestarikan demi keberlangsungan ekologis dan kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang,” kata Sumantri.
Humas Panitia Lulugu Puseur Cisadane, Ahmad Fahir menambahkan, Sungai Cisadane memiliki peran sejarah besar pada masa silam Nusantara.

“Pada zaman Kerajaan Taruma Nagara yang berpusat di Ciaruteun, Sungai Cisadane telah menjadi lalu lintas orang dan barang. Begitu juga pada era Kerajaan Pakuan Pajajaran,” ujar Ahmad Fahir.
Oleh karena itu, lanjut Fahir, sungai bersejarah tersebut perlu dilestarikan secara serius oleh semua pihak demi menjaga keberlangsungan ekosistem.
Ketua Karang Taruna Tunas Muda, Ki Mubarok mengatakan, dalam kegiatan Lulugu Puseur Cisadane digagas sejumlah agenda, yakni penanaman pohon, bersih-bersih sampah, pelepasan bibit ikan, kampanye kesadaran lingkungan dan sosialisasi situs-situs bersejarah se-Bogor.

“Kegiatan ini sekaligus soft launching Desa Wisata Paniisan Rancabungur yang digagas untuk melestarikan budaya, alam dan wisata berbasis sejarah” demikian Mubarok.

Sementara ki Gatut Sudanta dari Bharaya Kujang Pajajaran yang ikut mendorong acara ini sangat senang bisa terlibat di acara lingkungan dan budaya seperti ini, dengan Slogan *Kolot miceun Runtah anak cucu Balangsak* sehingga budaya buang sampah di Cisadane terhenti dengan banyaknya komunitas yang ikut menjaga, pungkas Gatut

Firman

KOMENTAR

About The Author