Select Page

alterntif text

Teater Leuwiliang: Sebuah Jalan yang Tidak Mudah

Teater Leuwiliang: Sebuah Jalan yang Tidak Mudah

(Headlinebogor.com) – Seiring perkembangan zaman dalam bayang-bayang IT, seni dan segala aktivitasnya telah semakin jauh dari sentuhan masyarakat. Kesibukan yang kadang dibuat-buat, telah benar-benar menyita waktu, menyita kreativitas dan imajinasi yang mestinya disalurkan. Rupanya, deras arus teknologi informasi tidak diimbangi dengan benteng filosofis. Hasilnya; kita menjadi generasi individualis yang canggung ketika berhadapan dengan persoalan berkelompok. Tanpa disadari, teknologi informasi telah menjadi begal yang mengerikan bagi kehidupan komunitas kesenian.

Sebetulnya, persoalan kemunduran progres para pemuda yang disebabkan kemajuan zaman tidak hanya berdampak pada produktivitas dalam berkesenian, tetapi juga melumpuhkan segala aktivitas menghasilkan (baca: bermanfaat) baik yang berwujud maupun yang tidak. Tapi itu tidak akan dibahas dalam esai ini. Maaf.

Foto : Doc. Teater leuwiliang

Kami yang membenci kemunduran progres tetapi tidak membenci kemajuan zaman ini, selalu beranggapan bahwa untuk mengubah sesuatu kepada arah yang baik, bisa dimulai dari membangun sebuah kelompok kecil. Kelompok solid dan  bersama menyatukan gagasan. Atau dalam bahasa kami; ‘udunan ide’.

Maka pada tanggal 8 Juni 2014, kami yang merupakan alumni ekskul Teater Gading SMAN 1 Leuwiliang lintas angkatan, bersepakat untuk membina sebuah keluarga baru yang tidak memerlukan surat nikah untuk sedikit demi sedikit melawan penjegalan kreativitas dan menyebut keluarga baru itu dengan nama; Teater Leuwiliang.

Teater Leuwiliang memiliki visi untuk memperjuangkan kembali sikap, karakter, moral bangsa yang semakin hilang. Dan yang paling utama, adalah mengembalikan manusia pada hakikatnya melalui seni pertunjukan, sastra, dan musik yang dipertunjukan.

Agar manusia senantiasa berpikir dan mampu meresapi makna-makna kehidupan ini, terbiasa menolak sesuatu hal yang menjadikan dirinya manusia pasif, tidak kreatif, dan tidak produktif. Ketiga hal itulah yang akan membantu manusia terbebas dari kejamnya suatu kendali sebuah sistem modernitas yang mengikat manusia tanpa batas. Sehingga anggapan filsuf mengenai manusia di zaman modern yang menganggap hanya mampu menciptakan manusia tetapi tidak mampu membentuk manusia itu menjadi keliru.

Visi adalah visi. Sedang pada kenyataanya, tidaklah mudah untuk diraih. Berbagai hambatan benar-benar harus kami hadapi. Sebagai kelompok yang tergolong muda dan diisi oleh orang-orang dari berbagai disiplin ilmu, tentu menyatukan rasa juga menjadi sebuah ‘PR’ tersendiri. Terlebih, ketidakmapanan menjadi pemicu paling menyeramkan yang bisa membuat sebuah kelompok menjadi retak dan lemah.

Berbagai alasan lain seperti pekerjaan, keluarga, ekonomi, pendidikan, bahkan alasan terkonyol di dunia pun tidak jarang menghiasi hilir-mudiknya regenerasi kelompok ini. Tidak hanya sampai di situ, sebagai kelompok yang belum memiliki tempat latihan sendiri, mengharuskan kami menjadi keluarga yang nomaden. Berpindah-pindah  tempat latihan. Sejak tahun 2014, terhitung lima tempat telah menjadi titik produksi yang di antaranya adalah rumah anggota. Namun, itu semua kami jalani dengan ikhlas. Kami jalani dengan tetap bersemangat dan terus bergerak.

Foto : Doc. Teater leuwiliang

Regenerasi masih terus berlanjut. Keluar masuk anggota semakin membuat kelompok yang bisa dikatakan masih balita ini kian lama kian kesulitan berjalan terutama pasca ditinggalkan sutradara utama karena harus bekerja di Jakarta untuk meniti masa depannya. Perbedaan-perbedaan pandangan juga mewarnai perjalanan kami bahkan tidak sedikit penghuni awal yang sampai rela meninggalkan kelompok ini karena selisih prinsip. Perpisahan memang hakikat sebuah pertemuan yang tidak bisa dihindari.

Pasca produksi pertama, beberapa penghuni awal juga mulai ada yang menyatakan untuk vacum karena harus fokus pada kuliahnya di luar Bogor. Hingga satu ketika, pernah hanya tinggal tersisa 3 orang anggota saja yang masih aktif.

Meski demikian, dengan jumlah anggota aktif yang tersisa bersama seluruh gairah kesenianna, Teater Leuwiliang tidak pernah benar-benar berhenti berproses. Kami masih terus memupuk semangat yang masih ada. Berjuang, menyebarkan kebahagiaan lewat teater berharap ada yang tertarik untuk bergabung dan menetapkan hati mencintai dunia peran.

Berhenti melanjutkan perjalanan bukanlah sebuah pilihan. Hingga Pada suatu ketika, terik matahari seakan merasa lelah. Hujan turun meneteskan kerinduan. Satu demi satu penghuni awal mulai kembali ke rumahnya. Satu demi satu orang yang dulunya asing kini mulai mengenal keluarga ini dan tertarik untuk juga mencintai teater. Mungkin inilah jawaban atas doa serta perjuangan kami selama ini.

Kami juga selalu meyakinkan kepada para anggota bahwa Pertentangan dari keluarga, pekerjaan, bahkan kekasih pasti akan selalu ada. Tidak terputus-putus. Namun, itu semua bukanlah masalah asalkan kita dapat memberikan pengertian dan bukti kongkret bahwa berteater itu betul-betul bermanfaat.

Kami telah korbankan apa yang kami miliki untuk kelompok ini. Materi, tenaga, pikiran, waktu, yang kadang-kadang membuat kami sampai bertanya;

“Buat apa sih kita sampe mati-matian belain teater?”

Entahlah. Cinta memang buta.

Singkat Keanggotaan dan Produktivitas

Hingga saat ini, teater leuwiliang memiliki sedikitnya 17 orang anggota aktif yang terdiri dari 17 orang laki-laki dan 0 orang perempuan. Maka dalam kelakar terkadang kami menyebut kelompok ini sebagai komunitas teater berbasis syariah. Atau nama lainnya; Teater Al-Ikhwan.

Ya, mencari anggota perempuan yang punya tingkat disiplin tinggi memang bukan perkara mudah terutama karena jam latihan malam. Kebanyakan dari yang ingin bergabung, (baik laki-laki maupun perempuan) pada akhirnya tumbang sebelum berperang. Ada juga yang down duluan melihat menu latihan. Seleksi alam.

Foto : Doc. Teater leuwiliang

Terhitung sejak awal berdiri, Teater Leuwiliang telah memproduksi empat buah pertunjukan lakon dan beberapa pentas teatrikal pendek yang dipentaskan baik di Bogor maupun di luar Bogor. Bahkan kami pernah diminta untuk menggarap pertunjukan teatrikal dalam acara yang diselenggarakan oleh Kemendagri. Waktu itu disaksikan oleh Bapak Menteri Cahyo Kumolo, dan alhamdulillah beliau tepuk tangan meski kami tak tahu pasti itu ikhlas atau tidak.

Pada Tahun ini, Teater Leuwiliang tengah mempersiapkan produksi ke-lima dengan lakon ‘Ssst..!’ karya Ikranegara yang rencananya akan dipentaskan di Bogor pada bulan November 2017.

PR: Meluruskan pandangan

Paradigma umum masyarakat masa kini, Teater sering diidentikkan dengan ‘hura-hura’ dan konsumsi ‘komunitas’ semata. Hal ini bukan ujug-ujug tampil begitu saja akibat perspektif ketidakfahaman masyarakat, tetapi tumbuh dan subur dipupuk oleh (oknum) pelaku teater itu sendiri. Pertama, para pelakunya menjauhkan kesenian dari proses berpikir. Gemar dengan produk instan. Maka yang terjadi adalah seniman-seniman tanggung, seniman pergaulan, prematur dan hanya berisi ‘haha-hihi’. Yang kedua, para pelaku seni tidak mengindahkan masyarakat sebagai konsumen produk teater. Kesenian hanya menjadi konsumsi kalangan tertentu karena memang sajian itu tidak sampai kepada hati masyarakat-terutama  yang awam. Kesenian menjadi gelap, sulit dimengerti, tidak menyenangkan dinikmati, serta membuat kerut di dahi.

Foto : Doc. Teater leuwiliang

Berdasarkan pandangan tersebut, Teater Leuwiliang selalu berupaya untuk menggabungkan unsur kualitas isi penafsiran teks sastra, dengan unsur entertainment sambil  tetap terus mengasah kepekaan berpikir dan ketajaman keaktoran. Harapannya adalah selain agar tercipta kebahagiaan dalam berproses serta menghasilkan karya yang menyenangkan dan dikenang, tetapi juga mampu menyentuh sanubari masyarakat, merenungkan peristiwa-peristiwa yang tengah ada dalam keseharian.

Kami selalu berupaya melakukan up grading, mencari, berpikir dan menjelmakan teks naskah ke dalam konteks aktual sehingga bisa dinikmati dengan pola pikir manusia masa kini, sambil terus berbisik lirih bahwa ada hal yang lebih penting juga menyenangkan dari sekadar membuang waktu dengan membicarakan hal yang tidak ada manfaatnya sebagai langkah kecil untuk membuat perubahan.

Dan kalau seorang sastrawan berkata “Ada jalan lain menuju Roma”, maka kami tidak akan kalah dengan mengatakan “Ada jalan lain untuk berdakwah”.

“Jalan apa itu?”

“satu diantaranya adalah; Teater.”

 

***

 

 

 

Penulis / Kiriman Fahmi Reza

 

KOMENTAR

About The Author