Headline Bogor | Bupati Bogor Sampaikan Konsep Pengendalian RTH di Hadapan Menteri ATR/BPN

KABUPATEN BOGOR – Di Hadapan Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) / Badan Pertanahan Nasional (BPN), Bupati Bogor, Ade Yasin menyampaikan konsep pengendalian dan penertiban tanah di kawasan Puncak dalam rangka menyelamatkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di wilayah Puncak. Hal itu disampaikannya pada talkshow bertajuk “Kolaborasi Dalam Penyelamatan Kawasan Puncak Bogor”, di Kantor Kementerian ATR/BPN, Jakarta Selatan, Jumat (5/11).

Bupati Bogor menjelaskan, Ruang Terbuka Hijau yang difungsikan di kawasan Puncak berada di tiga wilayah yaitu Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, dengan luas wilayah 18.347,06 hektar. Ada hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi, dan peruntukan perkebunan. Jadi yang disebut kawasan Puncak itu, Ciawi, Megamendung, dan Cisarua, ini perlu dilakukan kembali pendataan.

“Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kita akan melakukan revisi tentang keberadaan peruntukan kawasan hutan lindung dan penyesuaian Perpres Nomor 60 Tahun 2020 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Jabodetabekpunjur, yang berpotensi akan menambah RTH di kawasan Puncak,” jelas Ade.

Bacaan Lainnya

Ade Yasin menuturkan, persoalan Banjir di Jakarta karena kolaborasi memang kurang dengan DKI Jakarta. Terus terang saja saya sampaikan, Bogor selalu disalahkan tetapi tidak pernah ada action dari DKI. Seharusnya, kita sama-sama bicara kaitan dengan penanganan banjir, Bogor diundang untuk bicara kebutuhannya apa supaya air tidak banjir ke Jakarta.

“Ada upaya dari pemerintah pusat yaitu dengan dibangunnya Bendungan Ciawi dan Bendungan Sukamahi, itu di Megamendung dan Ciawi. Jadi istilahnya masyarakat di sana sudah berkorban untuk Jakarta supaya Jakarta tidak banjir,” tutur Ade.

Terkait banjir Jakarta, Bupati Ade menerangkan, penyebabnya tidak hanya Puncak, tetapi aliran-aliran sungai yang memang juga ini perlu kita waspadai menjadi penyebab banjir di Jakarta. Ketika kami mengajukan program senilai 19 milyar untuk penyelamatan sungai, kena refocusing juga, akhirnya sekarang nol rupiah untuk penataan konservasi ataupun penataan sungai, sehingga di sinilah yang memang kurang kolaborasi antar daerah.

“Bogor itu selalu dianggap sebagai penyangga dan penyelamat Jakarta, tetapi sebagai daerah penyangga dan penyelamat, tidak pernah ada kontribusi kepada Bogor, sehingga Bogor semampu dan sekuat tenaganya saja untuk menyelamatkan diri sendiri. Jadi saya setuju dengan yang disampaikan oleh Pak Menteri, harus ada kolaborasi yang baik antar batas wilayah,” terang Bupati Ade Yasin. (*)