Murid Hiperactive, Guru Pukul Murid di SDIT Insan Tama

Leuwiliang (Headlinebogor.com) – Kekerasan dalam dunia pendidikan kembali terjadi, kali ini oknum salah satu tenaga pendidik berinisial ZM (34) di SDIT Insan Tama, yang berlokasi di Komplek Perumahan Amanah Asri, Blok E No. 11, Kecamatan Leuwiliang,  diduga melakukan tindak kekerasan terhadap MDZ siswa kelas V di sekolah tersebut.

Orang tua korban, Ida Holida (35) warga Komplek Perumahan Asri Leuwiliang menjelaskan, kejadian ini diketahui ketika dirinya ingin menjemput buah hatinya tersebut disekolah.

“Saat saya sampai di sekolah, pintu kelas masih tertutup, dan waktu dibuka anak saya menangis dan langsung memeluk saya,” kata Ida kepada Publik Bogor, (25/2).

Bacaan Lainnya

Menurutnya, saat itu putra nya meringih kesakitan dan terdapat luka memar dibagian punggung belakang sebelah kanan.

“Memarnya seperti luka bekas pukulan atau ditendang,” kata dia

Ida mengungkapkan, Jumat (24/2) dirinya bersama keluarga langsung mendatangi sekolah, dan bertemu pihak yayasan, kepala sekolah, dan guru yang bersangkutan untuk meminta klarifikasi dan pertanggung jawabannya.

“Meski anak saya nakal, seharusnya tidak ada tindak kekerasan terhadap murid  didalam sekolah,” sesalnya.

Ida pun mengaku, tak akan membawa masalah ini ke ranah hukum, dan ingin persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan.

Di lokasi berbeda, pihak Yayasan Amanah Insan Taman Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insan Tama, Odih Suryadi membenarkan kejadian tersebut. Ia menyesalkan perbuatan sang guru karena terjadi kekerasan fisik hingga mengakibatkan luka memar. Dan kami dari dewan guru dan yayasan sudah meminta permohonan maaf kepada keluarga korban, atas peristiwa yang terjadi disekolah kami.

“Korban memang anak yang hiperactive sehingga banyak keluhan dari para guru yang mendidiknya. Tetapi saya tegaskan, tindakan kekerasan berupa kontak fisik kami sangat melarang keras,” tukasnya.

Sementara itu, Kepala sekolah SDIT Insan Tama, Wahyudin mengungkapkan, setelah kejadian tersebut pelaku langsung mengakui kepadanya dan sangat menyesali perbuatannya.

“Saya berharap kepada guru-guru yang lain agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” pungkasnya.

Sumber: Publikbogor

Wartawan: Agus