Polemik At Taufiq Berlanjut, Kuasa Hukum Beberkan Ini

KOTA BOGOR – Polemik kepemilikan tanah dan bangunan At Taufiq yang berlokasi di Jalan Cimanggu Permai, Kelurahan Kedung Jaya, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, hingga saat ini belum menemui titik temu di kedua belah pihak. Untuk diketahui, saat ini masih terjadi saling klaim antara Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Bogor dengan Islamic Center At Taufiq.

Pagi hari tadi, Sabtu (11/6), puluhan masa mendatangi sekolah At Taufiq sebagai bentuk penguasaan lahan dan bangunan dari SD, SMP dan Masjid At Taufiq.

“Pada hari ini kami memang berusaha untuk menempati kembali tempat kami ini dengan cara baik-baik, insya allah mudah-mudahan proses perdamaian atau perundingan masih kami jalankan,” ujar Ketua Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Bogor, Fauzi Thalib, Sabtu, (11/6) kepada awak media.

Bacaan Lainnya

Lebih lanjut, Kuasa Hukum Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Bogor, Mua’dz Masyhadi, membeberkan beberapa poin terkait bukti atas kepemilikan lahan.

“Satu, bahwa yang mempunyai gedung, yang mempunyai tanah disini dari tingkat SD, SMP, Masjid adalah Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Bogor,” bebernya.

Kedua, lanjut Mua’dz, yang mempunyai izin semua disini, izin penyelenggara pendidikan adalah Al Irsyad, oleh karena itu, sambungnya, semua para pihak yg berkepentingan terhadap obyek, baik gedung maupun tanah ini, harus tunduk dan patuh terhadap Al Irsyad, harus seizin Al Irsyad.

Selain itu, ia mengatakan, semua yang ada saat ini untuk kegiatan belajar mengajar adalah milik Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Bogor.

“Nah segala sesuatu yg berhubungan dengan barang bergerak ataupun tidak bergerak di gedung ini, harus berhubungan dengan Al Irsyad, itu logika hukumnya, untuk benda bergerak yang sudah terlanjur dibawa oleh oknum-oknum baik itu alat-alat KBM seperti laptop dan lain-lain itu segera dikembalikan, karena itu perbuatan melawan hukum kalo tidak dikembalikan,” jelasnya.

Terakhir, ia mengatakan, semua unsur yang ada untuk patuh terhadap Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Bogor.

“Dan saya ingatkan kepada semua pihak yang mendapatkan SK dari Al Irsyad Al Islamiyyah harus tunduk dan patuh terhadap Al Irsyad, karena guru-guru, kepala sekolah yang membuat SK itu adalah Al Irsyad, karena dia penyelenggara dan pemilik,” tuturnya.

“Dalam hal ini kami minta semua pihak baik guru-guru dan karyawan, harus tunduk dan patuh terhadap Al Irsyad, karena Al Irsyad yang memiliki legal formal,” tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kuasa Hukum Islamic Center At Taufiq, Fahmi Bachmid mengatakan, hasil dari mediasi yang dilakukan belum menemui titik temu.

“Engga ada hasil apa-apa karena kalo mediasi itu sebetulnya yang jadi masalah apa? inikan sekolah At Taufiq, cuma kan memang dia merasa sebagai pemilik lah ya, tapi tadi saya bilang anda merasa sebagai pemilik dasarnya apa? kalo dasarnya wakaf kita harus jujurlah, apakah memang itu sudah pernah dicabut atau tidak, dicabut dalam artian itu ditarik oleh yang bersangkutan walaupun administrasinya belum, ada surat-suratnya semua, makanya saya bilang kalo mau duduk menyelesaikan bicara baik, jangan sampai mengorbankan murid dan siswa-siswa yang lagi sekolah disini, kasian, saya sih sarankan seperti itu,” ujarnya.

Menurutnya, untuk menyelesaikan polemik ini perlu berintopeksi, bahwa ini bukan harta warisan, atau diwariskan, yang punya sudah mewakafkan.

“Kalo persoalan ini hanya bisa diselesaikan jika satu sama lain bisa memahami bahwa sebetulnya kami tidak punya hak atas tanah dan bangunan ini, itu dulu yang harus ditekankan, sehingga tidak ada yang merasa bahwa saya yang berhak, itu dibuang semua, kesampingkan semua, rasa memiliki itu kesampingkan, anda kembali kepada realita yang sebenarnya, ini siapa yang memberikan, dan bagaimana prosesnya, itu dulu, supaya bisa duduk baik-baik, kalo saya memberikan saran seperti itu,” ungkapnya.

Saat disinggung mengenai pemasangan spanduk oleh beberapa orang yang bertuliskan Al Irsyad Al Islamiyyah Kota Bogor di dalam gedung sekolah At Taufiq, ia mengatakan hal tersebut tidak etis.

“Inikan perguruan namanya perguruan At Taufiq, berarti yang harus dipasang spanduk disini harus nama At Taufik, masa perguruan At Taufiq yang ditulisan spanduknya yang lain, enggak etislah, makanya dicabut semua, engga ada masalah,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan belum mengetahui langkah kedepannya akan seperti apa.

“Kita belum tau apakah nanti, kalo duduk ya kita bisa duduk, tapi kalo duduk terus mintanya ABCD yang engga masuk akal ya engga akan selesai,” tandasnya.

(DR)