Select Page

Tradisi Turun-menurun Dalam Sepiring Doclang

Tradisi Turun-menurun Dalam Sepiring Doclang

BOGOR – Kota Bogor sudah sangat terkenal sebagai surga kuliner, berbagai aneka makanan ada di Kota Bogor, maka tak heran ketika setiap akhir pekan atau hari libur kota Bogor disesaki pendatang dari berbagai kota sekitar Bogor untuk sekedar menikmati kuliner, akibatnya kemacetan diseputaran kota Bogor tak dapat di hindari. Ada banyak aneka kuliner yang bahkan sudah menjadi khas kota Bogor, seperti asinan Bogor, toge goreng, roti unyil, lapis talas, soto kuning dan doclang.

Doclang adalah sejenis makanan yang terbuat dari lontong ukuran jumbo yang dibungkus daun “patat” dilengkapi irisan tahu goreng, kentang rebus, telur dan di siram kuah kacang kental serta di lengkapi kerupuk, kecap dan sambal, sangat lezat di nikmati untuk sarapan di pagi hari atau mengisi perut di malam hari ditengah udara dingin kota Bogor. Doclang di jajakan secara “mangkal” dan juga secara berkeliling menyusuri kampung dan perumahan. Nikmatnya doclang telah banyak diulas oleh berbagai stasiun Televisi.  Doclang merupakan salah satu kuliner yang banyak di buru, karena jenis makanan ini sangat khas dan tidak dapat ditemui di wilayah lain, kalaupun ada hidangan sejenis di wilayah lain seperti kupat tahu di Padalarang Bandung Barat tapi tetap saja berbeda dengan doclang.

Di Bogor sendiri jika kita amati doclang ternyata hanya ada di wilayah Bogor bagian Barat saja seperti kawasan Jembatan Merah, sekitar Pasir Mulya, Ciomas, Dramaga dan Leuwiliang.  Di wilayah Bogor selain yang disebutkan diatas sangat sulit menjumpai Doclang bahkan bisa dikatakan tidak dapat ditemui apalagi jika memasuki wilayah Bogor lain seperti Cibinong, Parung, Ciawi, Puncak dan Cigombong dapat dipastikan anda tak akan bisa menemui doclang.

Sampai saat ini belum diketahui sejak kapan Doclang pertama kali ada dan diperdagangkan dan siapa yang pertama kali menghidangkan Doclang. Salah seorang pedagang Doclang di Pasir Mulya mengungkapkan bahwa dia mewariskan usaha turun temurun dari orang tua nya, dan saat ini adalah generasi ketiga penerus usaha meracik dan berjualan Doclang.

Salah satu keunikan lainnya dari Doclang ini adalah “pikulan” untuk berjualan, “pikulan” doclang jika diperhatikan dominan berwarna hijau, entah ada kesepakatan “khusus” atau ada syarat tertentu sehingga nyaris semua pedagang doclang memiliki “pikulan” berwarna hijau, sampai saat ini tidak diketahui asal-usul mengenai hal tersebut. Terlepas dari hal tersebut, Doclang saat ini bukan hanya sekedar sepiring lontong lengkap dengan bumbu kacang, tapi Doclang merupakan representasi keunikan tradisi lokal masyarakat Bogor bagian Barat yang tentunya harus dijaga keberadaannya di tengah serbuan makanan cepat saji ala asing yang telah masuk sampai ke kampung-kampung dan gang sempit.

 

Kontributor : Herman

 

KOMENTAR

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *